Kurikulum 2013, Penuh Tantangan?
SEJAK Kurikulum 2013 hadir sekitar awal November 2012 lalu, yang mengemuka adalah sikap pro dan kontra. Kurikulum baru tersebut menuai berbagai tanggapan dari banyak pihak.
Wajar jika sesuatu yang baru akan menjadi bahan perbincangan baik di kalangan yang setuju maupun tidak setuju. Kelompok yang mendukung, dengan bersemangat mendengung-dengungkan kurikulum baru tersebut sebagai penanda awal perubahan, sekaligus penyempurnaan sistem pendidikan di negeri kita.
Harapannya, kurikulum 2013 bisa mencetak generasi muda yang handal untuk bisa menjadi modal pembangunan, bukannya menjadi beban yang memberatkan bangsa. Di pihak lain, ada sekelompok orang yang menyuarakan ketidaksetujuannya, dan terlihat cukup menonjol karena berkali-kali mengkritik kurikulum baru tersebut lewat media massa. Banyak pula yang pesimis, apakah mungkin Kurikulum 2013 bisa segera dilaksanakan. Di pihak lain lagi, ada sekelompok orang yang netral, bersikap cenderung diam, menunggu perkembangan berikutnya.
Berbagai sosialisasi digelar, mulai dari pusat sampai ke daerah. Para guru mulai mengerti, memahami, lalu menerima. Kelompok yang tadinya “belum menerima”, mau tidak mau harus belajar “menerima”, untuk kemudian melaksanakan secara bertahap Kurikulum baru tersebut mulai tahun ajaran baru Juli 2013. Saat ini, hampir semua guru berada dalam posisi “menerima” dan melaksanakan Kurikulum 2013.
Setelah memperoleh dukungan dan sikap positif dari semua pihak, opini pun bergeser pada isu bagaimana kesiapan para pelaksana dalam melaksanakan kurikulum 2013. Waktu yang mendesak, dari bulan November 2012 sampai Juli 2013 bukan waktu yang bisa dianggap cukup untuk mempersiapkan buku, materi ajar, juga mempersiapkan guru sebagai pengampu mata pelajaran. Kenyataanya sampai saat ini sekolah-sekolah yang telah “mencoba” melaksanakan Kurikulum 2013 banyak mengalami kendala karena kurangnya persiapan.
Sebenarnya, pemerintah telah menyiapkan buku ajar, baik Buku Siswa maupun Buku Guru. Namun, (bukan bermaksud tidak menghargai jerih payah penyusun buku tersebut), kenyataannya, masih ada buku ajar yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Waktulah yang membatasi penyusunan buku ajar untuk guru dan siswa tersebut, sehingga meskipun akhirnya selesai disusun, namun masih terdapat beberapa kekurangan.
Salah satunya adalah Buku Ajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 7. Dalam hal ini, penulis sebagai guru Bahasa Inggris, telah menganalisa Buku Ajar mata pelajaran Bahasa Inggris, yang berjudul “WHEN ENGLISH RINGS THE BELL”. Dari analisa kami, masih ditemukan banyak materi pokok yang seharusnya ada, sesuai yang tercantum pada kompetensi dasar dalam silabus, namun belum tertuang dalam buku ajar tersebut. Sehingga, jika guru mengajar hanya dengan bersumber pada buku ajar tersebut, rasanya, belumlah cukup bekal yang seharusnya disampaikan kepada peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Di samping itu, guru harus bisa mengembangkan sendiri bentuk latihan siswa berdasarkan kompetensi dasar yang ada. Terutama latihan yang mengasah kemampuan pengetahuan, yang menurut penulis belum tercover sepenuhnya di dalam buku ajar siswa maupun guru.
Apalagi, dalam pembelajaran Kurikulum 2013, digunakan pendekatan scientific, di mana siswa dituntut aktif melaksanakan pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas, dengan melakukan kegiatan observasi, menanya, melakukan percobaan, mengasosiasi/melakukan penerapan, dan mempresentasikan. Yang semua kegiatan tersebut memerlukan berbagai sumber buku yang dapat mendukung aspek penguatan proses pada pembelajaran scientific tersebut. Sehingga guru benar-benar harus menyiapkan modul pengayaan untuk menambah pengetahuan siswa, serta bisa menjadi sumber belajar mereka. Tidak cukup hanya mengacu pada buku guru dan buku siswa saja.
Ditambah lagi, penilaian yang dilakukan guru mencakup penilaian proses dan unjuk kerja/portofolio, yang mencakup penilaian sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Namun, di dalam buku ajar tersebut, penulis belum menemukan latihan-latihan yang memadai, latihan-latihan yang dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik, latihan-latihan yang bisa dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas atau latihan-latihan yang bisa digunakan sebagai pekerjaan rumah, yang nantinya bisa dipakai untuk penilaian, baik penilaian pengetahuan maupun ketrampilan berupa unjuk kerja atau portofolio, berdasarkan kompetensi dasar yang lengkap. Sehingga guru harus kreatif menyiapkan materi ajar dan bahan-bahan latihan sebagai pendamping dan pengayaan dari buku tersebut.
Namun sayangnya, tidak semua guru siap membuat atau menyusun materi pengayaan. Di beberapa kegiatan Diklat Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum 2013, banyak guru yang mengaku belum siap menyiapkan materi pendamping untuk melengkapi Buku Ajar tersebut. Dengan berbagai alasan seperti pekerjaan semakin banyak, harus membuat RPP baru, menyiapkan bahan observasi, menyiapkan lembar penilaian, belum lagi nanti mengolah nilai yang mencakup 3 aspek. Ini menjadi tantangan para guru di lapangan (kalau tidak boleh dibilang “kendala”), yang tentunya akan sedikit menghambat pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah. Lebih disayangkan lagi, buku ajar yang dijanjikan akan beredar tahun ajaran baru, Juli 2014, sampai saat ini juga belum ada. Lalu, bagaiamana nasib pelaksanaan kurikulum 2013 tanpa buku ajar? Sedangkan belum semua guru mempersiapkan materi sesuai kurikulum 2013?
Lagi-lagi ini adalah tantangan yang harus diatasi. Jika guru bisa mengatasi tantangan tersebut, berarti para guru telah bisa melampui beberapa langkah kemajuan, dan akan semakin dekat dengan keberhasilan pendidikan seperti yang diharapakan kurikulum 2013, yaitu mendidik siswa dalam aspek spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Sebagaimana diamanatkan UUD 1945 pasal 33 dan Undang-Undang Sisdiknas no 20 tahun 2003.* Nur Hasanah Rahmawati, S.Ag, MM - kisuta.com
(Penulis Team Media Relation Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi DIY. Di samping mengajar di MTsN Maguwoharjo, penulis juga sebagai Instruktur Kurikulum 2013 Provinsi DIY)


