Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Sekar Turangga Jati

Rabu, 3 Desember 2014

SUASANA ketentraman di Kerajaan Amarta, Hastinapura, Dwarawati, Wirata dan kerajaan lain di sekitarnya sedang kacau. Pageblug (musim penyakit) merajalela, keamanan kacau balau, egoisme setiap insan meningkat tajam...ungkapan 'sapa sira sapa ingsun' menyiratkan rasa ke'aku'an yang tinggi.

Yudhistira sebagai raja Amarta makin pening dengan hilangnya adiknya ksatria panengah Pandawa Rd Arjuna.

Yudhistira: Kakaprabu Kresna, apa sebenarnya yang terjadi Kakanda...mengapa keruwetan dan kesemrawutan terjadi di mana-mana..malah ini Yayi Arjuna juga tidak ketahuan ke mana perginya..

Kresna: Yayi Yudhistira...jangan salah paham, watak Yayi Arjuna itu jika punya masalah selalu melarikannya ke Hyang Widi Wasa...saya rasa dia ini sedang semadi Yayi...hanya saja Kanda tidak tahu di mana dia semadi...

Yudhistira: Itulah Kanda, tujuan dan niat yang baik, kalau tidak disampaikan secara jelas...bukannya malah membuat bingung yang ditinggalkan?

Kresna: Hehehe...itulah kelemahan Arjuna, selalu menganggap dialah yang bisa mencari jalan keluar setiap masalah, dan tidak mau membuat repot keluarganya yang lain...akhirnya malah membuat yang lain panik...

Yudhistira: Lalu bagaimana dengan kesemrawutan ini Kakang...kita tidak mungkin menunggu Arjuna...apakah Kakaprabu punya wangsit, bagaimana mengatasi keruwetan ini...

Kresna: Ya Yayi...dalam wangsit yang Kanda terima di kaki gunung Indrakila, akan turun Sekar Turangga Jati, sebagai perlambang wahyu katentreman...

Yudhistira: Kalau demikian, baiklah saya akan perintahkan Yayi Bima memimpin pencarian Sekar Turangga Jati, Kakaprabu.

Sementara itu di kaki Gunung Indrakila ada seorang pertapa sakti yang sehari-harinya mengajarkan ilmu lahir batin, sangat diminati dan dihormati oleh para kawula. Karena begitu tersohornya sang pandhita, cantrik/siswanya melimpah ruah dari suluruh penjuru negeri. Karena tutur kata dan tindakan sang pandhita yang bijaksana dan tanpa pamrih itu, Sekar Turangga Jati yang ada di puncak gunung dan sedang dicari-cari para raja dan ksatria segenap negri itu, jatuh ke pangkuannya.

Pertapa yang bergelar Begawan Mintaraga itu kaget, dengan penuh kehati-hatian, segera disimpannya Sekar Turangga Jati di Sanggar Pamelengan. Para Raja dari berbagai negri, ketika mendengar Sekar Turangga Jati jatuh ke tangan Begawan Mintaraga, segera berebutan ingin memiliki Wahyu Katentreman itu, namun semua bukan tandingan Begawan Mintaraga, dengan mudah semua dikalahkan dan diusir Begawan Mintaraga. Akhirnya Bima pun berhadapan dengan Begawan Mintaraga.

Bima: Hooiii, Begawan Mintaraga, kamu pandita pertapaan yang tenang dengan cantrik-cantrik yang patuh...serahkan Sekar Turangga Jati kepadaku...aku dan kerajaan Amarta lebih memerlukannya..dibanding kamu...

Mintaraga (tidak berani menatap Bima, pandangannya selalu ke bawah) Kisanak yang perkasa...jangan jumawa, jika Sekar Turangga Jati ini memang bermanfaat untukmu, seharusnya bukan di pangkuanku dia jatuh...pahamilah, tidak semua kehendakmu bisa kau minta tanpa laku...

Bima: Pandang wajahku...kalau bicara itu hormati yang mengajak bicara, kenapa matamu tidak berani menatapku? Mintaraga, aku sudah minta baik-baik, ini juga berarti lakuku...serahkanlah...supaya aku tidak harus berperang melawanmu...

Mintaraga: Ksatria gagah...kalau engkau menyerang aku, aku tidak akan melawanmu...tapi aku juga tidak akan menyerahkan Sekar Turangga Jati begitu saja, karena...kesulitan, kesemrawutan, keruwetan harus diselesaikan secara baik, bukan dengan cara paksaan...camkan itu...

Bima tidak sabar berdiskusi dengan Begawan Mintaraga, segera diserangnya sang begawan dengan Gada Rujak Polonya....Angin menderu-deru saat gada di tebaskan...Mintaraga menghindar dengan lincah. Bima terus merangsek dengan kesaktian permainan gada dan pukulannya. Walaupun tidak pernah balas menyerang, kelincahan Mintaraga sangat luar biasa, dia bagaikan kunang-kunang yang terbang lincah dengan kilatan cahaya menyilaukan mata Bima.

Di kejauhan, Kresna memperhatikan pertempuran sengit ini dengan dahi mengernyit. Sebagai titisan Wisnu...dia mulai menyadari kejanggalan yang terjadi. Diam-diam di keluarkannya senjata Cakra, pada saat yang tepat tiba-tiba desing cakra memekakkan telinga....Deeessshhh !!!!, Cakra menghujam tepat di dada Begawan Mintaraga...Badan wujud sang Begawan beralih menjadi Raden Arjuna, yang segera berdatang sembah ke Kresna dan Bima.

Bima: Hhhhmmmm Jlamprong...ternyata kamu? Pantas saja lincah dan tidak mau menyerang aku ....apa maksudmu pakai menyamar segala...

Arjuna: Maafkan saya Kanda Bima, saya harus adil untuk hal ini...sesungguhnya Sekar Turangga Jati memang sudah Dinda dapatkan, dan itu akan segera Dinda serahkan ke Amarta sebagai wahyu ketentraman...tetapi kalau Kanda minta dengan cara paksa...Dinda takut, ketentraman itu sendiri akan pudar...karena Kanda...mengharapkan adanya ketentraman harus disadari dengan penuh kebijaksanaan, mana mungkin ada ketentraman kalau dihiasi dengan paksaan Kanda...

Kresna: Luar biasa Arjuna...pantas saja engkau yang mendapatkan wahyu Sekar Turangga Jati...kalau demikian...mari kita kembali...si Adi jangan suka menghilang lagi...istrimu Sumbadra dan Srikandi kasihan kebingungan mencari kamu...

Arjuna (tersenyum): Kanda...hamba serahkan Sekar Turangga Jati ini untuk ketentraman Praja...namun maaf, hamba belum bisa pulang, mohon dimengerti...selain ketentraman keluarga kita memerlukan kejayaan dan kemenangan dalam menghadapi Baratayudha...dan semua itu belum ada di tangan...mohon titip keluarga hamba pada rakanda berdua...

Hanya dalam sekejap mata...Arjuna berkelebat, hilang dari pandangan Kresna dan Bima...yang hanya mampu geleng-geleng kepala sambil mengamankan Sekar Turangga Jati yang sudah diserahkan oleh Mintaraga.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya