Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Menjalankan Profesi sebagai Orang Tua

Kamis, 4 Desember 2014

SETELAH anak kita lahir, hidup kita tak sama lagi.  Mungkin dulu kita adalah kita yang bukanlah siapa-siapa, tapi sekarang kita adalah orang tua dari anak-anak kita. 

Belum ditemukan studi yang menyingkap terbantuknya ikatan emosional (bonding) antara orangtua, terutama ibu, dengan anaknya. Namun seorang ahli menyatakan bahwa tubuh manusia memproduksi secara alamiah hormon-hormon yang memampukan seorang ibu untuk mencintai anaknya. Salah satunya adalah oksitoksin, adalah zat yang menghasilkan empati, kepedulian dan rasa percaya diri antara ibu dan anaknya. Kadar oksitosin ini akan meningkat apabila seseorang menghabiskan waktu untuk berkasih sayang dan cinta yang didekasikan kepada anak, seperti membelai, menimang, memeluk, bercanda dan sebagainya. Berdasarkan hal ini tips fisiologis agar benih cinta kepada anak tumbuh makin besar dan kokoh adalah dengan merawat dan mendampingi sendri proses tumbuh kembang anak kita.

 
Jauh sebelum para ahli melakukan penelitianya, Rasulullah Saw telah mengajarkan kita untuk mencintai anak-anak kita. Pada suatu hari Umar menemukan Nabi Muhammad merangkak di atas tanah, sementara dua anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata, “hai Nak, alangkah indahnya tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab, “Alangkah indahnya para penunggangnya!” Suasana seperti ini adalah tauladan tentang keakraban Nabi Muhammad dengan cucu-cucunya. Ia mengungkapkan cinta dengan sangat jelas.'

 
Banyak berita tentang kekerasan orang tua terhadap anaknya, bayi dibuang, ditelantarkan, bahkan ada yang tega membunuh darah dagingya sendiri. Tindakan orang tua yang brutal, membuat kita merinding. Mengapa mereka sampai hati tega melakukan hal itu? Menurut ahli psikologi, bahwa tindakan itu dilakukan karena salah satunya adalah karena orang tua tersebut masih menyimpan akar pahit berupa  trauma dan dendam masa kecilnya, sehingga ia meneruskan emosi negatif itu kepada anaknya. Tentunya kita tidak ingin mewariskan sebuah dendam kepada anak-anak kita yang akan menjadi generasi umat manusia selanjutnya. Sekadar punya anak itu gampang, tetapi untuk layak punya anak itulah yang harus kita miliki. Hendaknya pertanyaan yang pertama kita lontarkan sebelum kita punya anak adalah, siapkah kita memiliki anak?

 
Menjadi ibu atau ayah adalah profesi yang paling penting di dunia. Adalah hal yang sehat apabila para calon ibu dan ayah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengembangkan tanggung jawab sebagai orang tua yang seutuhnya. Tak ada manusia yang sempurna, oleh sebab itu, tidak perlu menunggu menjadi manusia yang sempurna untuk menjadi seorang ibu atau ayah. Karena alam menyediakan kapasitas untuk mencintai anaknya. Kita hanya memerlukan sebuah dorongan untuk menumbuhkan cinta yang emosional untuk menunaikan sebuah amanah.

 
Untuk mendesain baju atau rumah, untuk mengoperasionalkan kereta api, memanajemen perusahaan, diperlukan sekolah dan magang yang panjang. Apakah menyingkapkan kemanusiaan seorang anak dalam tubuh dan pikiranya dianggap hal yang lebih sederhana dari itu? Sehingga siapapun boleh menjadi penggantinya, memegang kekuasaan dan mengelolanya tanpa persiapan apapun. Adalah hal yang mustahil jika tidak ada syarat apapun untuk tugas yang sangat kompleks ini.

 
“Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang kecil” (Al-Hadits).* Yadi Fathur Berkata - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya