Surat Terbuka untuk Mendikbud
Kepada: Yang Terhormat Bapak Anies Baswedan
Selaku Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI
Di Tempat
Assalamualaikum, Wr Wbr
Perkenalkan, Pak Anies, saya guru Bahasa Inggris di MTsN Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Madrasah yang terletak di pinggir kali di sebuah dusun ini adalah tempat saya mengabdikan diri dan mengimplementasikan ilmu saya selama lebih dari 20 tahun, karena saya mulai mengajar di sana sejak tahun 1994.
Meskipun saya mengajar di daerah pinggiran, namun saya concern dengan perkembangan pendidikan demi kemajuan anak didik di MTsN Maguwoharjo, juga anak didik di sekolah lain di seluruh Indonsia pada umumnya. Sehingga ketika muncul kurikulum baru yang bernama kurikulum 2013 saya sambut dengan suka cita. Saya percaya bahwa perubahan adalah keniscayaan, dan pikiran positif saya adalah perubahan ini akan membawa perbaikan.
Kebetulan sekali, saat itu saya diutus oleh kemenag Provinsi DIY untuk mewakili guru-guru di Yogyakarta mengikuti diklat Instruktur Nasional Kurikulum 2013 di Bogor, yang nantinya saya berkewajiban mensosialisasikan kurikulum baru tersebut di lingkungan Madrasah di Provinsi DIY yang meliputi lima kabupaten, yaitu Sleman, Bantul, Kulon Progo, Yogyakarta dan Kodya Yogyakarta.
Selama bulan Desember 2013 sampai bulan Mei 2014 saya menjalankan amanah tersebut dengan memberikan bintek kurikulum kepada teman-teman guru madrasah di Provinsi DIY. Saya berusaha meyakinkan teman-teman untuk menerima perubahan. Sesuatu yang baru tentu dirasakan sulit menerapkannya, dan itu adalah tantangan. Dengan usaha dan belajar pasti kita bisa melampaui tantangan tersebut untuk mendekati suatu keberhasilan. Begitulah saya meyakinkan mereka.
Namun, jujur Pak Anis, saat itu saya pesimis dengan keberhasilan penerapan kurikulum 2013. Di lapangan, saya tahu sendiri bagaimana banyaknya kendala dan kesulitan guru melaksanakannya, belum lagi kurangnya pendampingan, sehingga kesiapan guru masih sangat minim. Juga kurang siapnya sarana prasarana seperti buku ajar yang terlambat datang ke sekolah-sekolah.
Dalam perjalanan, saya banyak membaca artikel di media cetak maupun online tentang permasalahan kurikulum 2013. Bahkan saya juga beberapa kali menulis di media cetak dan online tentang kesulitan guru melaksanakan kurtilas, juga tantangan guru mengimplementasikan kurtilas. Dan akhir-akhir ini, saya mendengar dan membaca beberapa artikel tentang kurikulum 2013 yang mungkin akan direvisi. Terkait dengan itu, terlepas dari apakah nanti kurikulum 2013 masih akan dipakai dengan revisi untuk semua sekolah, atau hanya dipakai untuk sekolah pilot project saja, ijinkanlah saya memberikan masukan bahwa janganlah hanya pada penerapan dan permen-permennya saja yang direvisi, namun juga diadakan analisa, evaluasi dan revisi pada buku ajar masing-masing mapel.
Bukan bermaksud tidak menghargai jerih payah penyusun buku tersebut, namun kenyataannya banyak Buku Ajar yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Waktulah yang membatasi penyusunan Buku Ajar untuk Guru dan Siswa tersebut, sehingga meskipun akhirnya selesai disusun, tetapi masih belum sempurna dan terdapat beberapa kekurangan. Salah satunya adalah Buku Ajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 7. Dalam hal ini, penulis sebagai guru Bahasa Inggris telah menganalisa Buku Ajar mata pelajaran Bahasa Inggris yang berjudul “WHEN ENGLISH RINGS THE BELL” (Untuk buku kelas 8 belum saya lakukan analisa).
Dari analisa kami, masih ditemukan banyak materi pokok yang seharusnya ada, sesuai yang tercantum dalam Kompetensi Dasar dalam silabus Kurikulum 2013, namun belum tertuang dalam Buku Ajar. Sehingga, jika guru mengajar hanya dengan bersumber pada buku ajar tersebut, rasanya, belumlah cukup bekal yang seharusnya disampaikan kepada peserta didik untuk menguasai Kompetensi Dasar yang telah ditentukan.
Apalagi, dalam pembelajaran Kurikulum 2013, digunakan pendekatan scientific, di mana peserta didik dituntut aktif melaksanakan pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas, dengan melakukan kegiatan observasi, menanya, melakukan percobaan, mengasosiasi/melakukan penerapan, dan mempresentasikan. Yang semua kegiatan tersebut memerlukan berbagai sumber buku yang dapat mendukung aspek penguatan proses pada pembelajaran scientific tersebut. Sedangkan penilaian yang dilakukan guru, mencakup penilaian proses dan unjuk kerja/portofolio, yang mencakup penilaian sikap, pengetahuan dan ketrampilan.
Namun, di dalam buku ajar tersebut, penulis belum menemukan latihan-latihan yang memadai, latihan-latihan yang dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik, latihan-latihan yang bisa dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas atau latihan-latihan yang bisa digunakan sebagai pekerjaan rumah, dalam porsi yang cukup, yang nantinya bisa dipakai untuk penilaian, baik penilaian sikap, pengetahuan maupun ketrampilan, juga penilaian unjuk kerja atau portofolio. Sehingga guru harus kreatif menyiapkan materi ajar dan bahan-bahan latihan sebagai pendamping, pelengkap, pendalaman dan pengayaan dari buku tersebut.
Namun sayangnya, tidak semua guru mau dan mampu membuat atau menyusun materi pengayaan. Di beberapa kegiatan Diklat Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum 2013 yang kebetulan penulis menjadi pembicara, banyak guru yang mengaku tidak siap menyiapkan materi pendamping untuk melengkapi Buku Ajar tersebut. Dengan kondisi seperti ini, sangat disayangkan kalau buku ajar Bahasa Inggris baik buku siswa maupun buku guru masih sangat minim dilihat dari contentnya.
Memang, sejak penulis menerima buku ajar “WHEN ENGLISH RINGS THE BELL” kira-kira pertengahan tahun 2013, penulis mulai mengamati, mencermati dan mempelajari isi buku tersebut. Apakah sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2013, apakah sudah mencakup pembelajaran dengan pendekatan scientific dan penilaian authentic. Penulis juga mengamati dan mempelajari situasi di lapangan, di beberapa sekolah, dengan kesiapan para guru dengan rencana pelaksanaan Kurikulm 2013.
Setelah penulis melakukan analisa, penulis menemukan beberapa catatan yang perlu ditindaklanjuti.
Adapun dari analisa buku ajar Bahasa Inggris “WHEN ENGLISH RING THE BELL” tersebut, penulis menemukan beberapa catatan:
1. Materi terlalu mudah dan dangkal dan tidak menantang. Sehingga, menurut teori motivasi, maka motivasi belajar peserta didik tidak meningkat secara optimal. John W. Atikson dan M. Imanudin Abdulrahim ( 1992 ), telah menemukan dalam penelitian mereka bahwa kadar motivasi seseorang akan naik seiring dengan naiknya kemungkinan keberhasilannya sampai mencapai derajat 50%. Jika kemungkinan keberhasilannya ditingkatkan terus diatas 50%, maka kadar motivasinya malah menurun. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kadar motivasi seseorang berada pada puncaknya jika kemungkinan berhasil dan gagal sama besarnya. Sehingga umtuk mencapai motivasi tertinggi maka siswa harus diberi tantangan. Apalagi jika buku tersebut digunakan untuk sekolah pilot project yang cenderung maju, maka buku tersebut terkesan tidak up to date.
2. Untuk kegiatan observasi, menanya, asosiasi, eksperimen, komunikasi, peserta didik memerlukan banyak bekal materi. Sehingga mereka bisa menanyakan materi yang sudah paham dan yang belum, peserta didik bisa membandingkan berbagai materi yang berbeda, dan mereka memerlukan contoh materi yang sebanyak-banyaknya untuk bisa melakukan eksperimen dan komunikasi. Di buku ajar tersebut belumlah cukup latihan yang mendorong peserta didik melakukan kegiatan tersebut. Sepintas ketika kita membuka buku tersebut, maka akan tampak gambar-gambar di setiap halamannya, seperti layaknya buku anak-anak TK atau Sekolah Dasar.
3. Latihan materi di setiap KD kurang, sehingga untuk penilaian pengetahuan, ketrampilan, unjuk kerja dan portofolio tidak mencukupi.
4. Materi ”greeting” terlalu banyak, bahkan sampai berlembar-lembar hanya untuk menyapa. Padahal materi tersebut termasuk materi yang mudah.Demikian juga materi “Introducing” juga terlalu banyak. Ini ironis sekali dengan Bab yang seharusnya memuat banyak materi sesuai KD, tetapi justru hanya muncul terlalu sedikit dan tidak lengkap.
5. Materi “Angka, Waktu, Tanggal, Tahun” tidak lengkap. Input pengetahuan peserta didik pada topik tersebut kurang sekali.
6. Materi “Jati Diri”, yang di dalamnya berisi topik simple present tense, pronoun, possessive, kosa kata kekerabatan, kosa kata tentang kata kerja sehari-hari, kosa-kata terkait dengan jati diri seperti profesi, hobi, kesukaan dan sebaginya masih sangat sedikit. Pengetahuan siswa tidak berkembang.
7. Materi “Things Around Us”, yang mencakup materi plural/singular, benda-benda di sekitar, binatang, bangunan umum, preposisi, lokasi, juga sangat kurang.
8. Dengan melihat sekilas buku tersebut, maka banyak guru akan spontan mengatakan, bahwa materi satu tahun (dua semester) dalam buku ajar tersebut akan selesai diajarkan dalam waktu dua-tiga bulan saja. Ini jika guru tidak membuat materi pengayaan. Dan memang kenyatannya banyak guru yang tidak siap membuat materi pengayaan.
9. Sehingga bagi sekolah yang gurunya hanya mengandalkan buku tersebut, setelah menyelesaikan buku tersebut pun, peserta didik masih akan kesulitan menghadapi latihan-latihan materi yang tercantum dalam KD yang sudah tertuang dalam silabus. Artinya, materi yang tercantum dalam buku ajar tersebut belum memenuhi harapan silabus.
Bagi penulis, untuk melengkapi buku ajar tersebut, penulis telah menyusun buku pengayaan dan pendalaman materi untuk kalangan sendiri berjudul “ENJOY YOUR ACTIVITY” sebagai suplemen dari buku ajar “WHEN ENGLISH RINGS THE BELL”. Buku yang saya buat ini masih banyak kekurangannya, karena kendala waktu, namun setidaknya bisa melengkapi buku ajar Bahasa Inggris Kelas 7 yang kami dapatkan dari pemerintah.
Oleh karena itu, sekali lagi saya mohon kepada Bapak Anis untuk melakukan analisa, evaluasi dan revisi pada setiap buku mapel yang akan digunakan untuk melanjutkan implementasi kurikulum 2013, meskipun hanya pada sekolah-sekolah pilot project.
Demikian surat saya yang panjang lebar ini, semoga bisa mewakili teman-teman guru yang merasakan hal yang sama. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.
Wassalamualaikum Wr. Wbr
Sleman, 4 Desember 2014
Hormat kami
Nur Hasanah Rahmawati, S Ag, MM


