Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Bakasura

Jumat, 5 Desember 2014

DI kota Ekacitra, para Pandawa menyamar sebagai brahmana. Mereka meminta-minta di jalan-jalan. mereka membawakan apa yang mereka peroleh untuk ibu mereka. Jika mereka terlambat pulang, Dewi Kunti menjadi cemas, takut jika mereka tertimpa malapetaka.

Kemudian, Dewi Kunti akan membagi makanan yang mereka peroleh menjadi dua. Satu bagian untuk Bima dan sebagian yang lain untuk keempat Pandawa yang lain dan sang ibu. Bima, putra Dewa Angin, mempunyai kekuatan yang luar biasa dan nafsu makan yang sangat besar. Itulah sebabnya ia juga dijuluki Wrekudara yang artinya "perut serigala". Serigala, seperti yang kita tahu, tampak selalu lapar. Karena nafsu makan yang tak pernah terpuaskan dan makanan yang mereka peroleh tidak pernah mencukupi, badan Bima menjadi kurus. Melihat hal itu, ibu dan saudara-saudaranya menjadi cemas.

Suatu hari, Bima berkenalan dengan seorang pembuat kendi. Bima menyukai orang itu. Ia suka membantu dan menggali dan mengangkut tanah liat. Sebagai balas budi, tukang kendi itu menghadiahkan Bima sebuah periuk besar. Gara-gara periuk itu, Bima menjadi bahan ejekan di jalan-jalan.

Suatu hari, ketika saudara-saudaranya pergi meminta-minta, Bima tinggal di rumah bersama ibunya. Tiba-tiba mereka mendengar ratapan pilu dari rumah pemilik rumah. Pasti sesuatu yang sangat menyedihkan menimpa keluarga itu. Dewi Kunti memberanikan diri untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Brahmana dan istrinya itu tidak dapat berkata apa-apa karena tangis mereka. Tetapi, akhirnya bramana itu berkata kepada istrinya:

"Perempuan malang dan bodoh, aku berulang kali mengatakan bahwa sebaiknya kita pergi dari kota ini untuk selama-lamanya. Tetapi engkau tidak setuju. Kau selalu berkata bahwa engkau lahir da dibesarkan di sini dan di sini pula --tempat orang tua dan sanak saudaramu tinggal dan mati-- kau akan tinggal. Bagaimana mungkin aku dapat hidup tanpa dirimu, pasangan hidupku, ibu anak-anakku tercinta. Engkau adalah segala-galanya bagiku. Aku tidak dapat membiarkanmu pergi menjemput ajal, sementara aku diam saja di sin. Anak perempuan ini Tuhan berikan kepada kita sampai nanti waktunya kita serahkan pada seorang laki-laki yang pantas. Kita tidak boleh mengorbankan anak perempuan kita. Dia adalah anak yang Tuhan berikan supaya dapat melanjutkan keturunan kita. Kita juga tidak mungkin mengorbankan anak laki-laki kita. Bagaimana kita dapat hidup setelah mengorbankan satu-satunya penghiburan dalam hidup dan harapan kita setelah mati? Siapa yang akan memberikan upacara persembahan untuk kita dan leluhur kita. Ya, Tuhan, engkau tidak mendengarkan kata-kata dan inilah akibatnya. JIka aku mengorbankan diriku, kedua anak ini pasti akan mati karena tidak ada yang melindungi. Apa yang harus aku lakukan? Sebaiknya kita semua mati saja." Setelah berkata demikian, brahmana itu tidak dapat menahan tangisnya.

Jawab istrinya: "Aku telah menjadi istri yang baik untukmu dan telah melakukan tugasku dengan baik dengan melahirkan kedua anak ini. Aku tidak akan bisa melindungi mereka, tapi engkau pasti bisa. Ibarat sisa makanan yang dibuang dan disambar burung-burung yang serakah, demikian nasib seorang janda, mudah dipermainkan laki-laki jahat. Anjing-anjing berkelahi memperebutkan kain basah yang berlumur mentega. Menariknya ke sana ke mari dengan tamak, merobek-robeknya menjadi kain rombeng. Karena itu, seorang janda hanya akan menjadi permainan orang-orang jahat. Aku tidak mungkin melindungi dua orang anak yatim --mereka hanya akan mati mengenaskan, seperti ikan di kolam kering. Sebaiknya aku saja yang diserahkan kepada raksasa itu. Berbahagialah perempuan yang mati terlebih dahulu daripada suaminya. Seperti yang kau tahu, begitulah yang tertulis dalam kitab-kitab sastra. Ucapkan selamat jalan kepadaku. Jagalah anak-anak kita. Aku bahagia hidup bersamamu. Aku sudah banyak melakukan kebaikan. Dengan pengabdianku yang setia kepadamu, aku yakin akan dirterima dengan baik di surga. Bagi seorang istri yang baik, kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Setelah aku mati, carilah istri lagi. Kuatkanlah hatiku dengan senyuman ikhlasmu. Restui aku dan antarkan aku kepada raksasa itu."

Mendengar jawaban istrinya, brahmana itu memeluk istrinya dengan lembut. Ia amat terharu dengan keberanian dan besarnya rasa cinta istrinya. Ia menangis sesenggukan seperti anak kecil. Dengan susah payah, ia berkata: "Isttriku tercinta dan termulia, aku tak sanggup hidup tanpamu. Tugas utama seorang laki-laki yang beristri adalah melindungi istrinya. Aku akan menjadi laki-laki yang paling hina jika menyerahkanmu untuk dijadikan mangsa raksasa itu. Itu sama saja dengan aku mengorbankan cinta dan menanggalkan kewajibanku."

Mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, sambil menangis salah satu anaknya yang perempuan berbicara: “Ayah dan ibu, mohon dengarkan aku, meskipun aku hanyalah seorang anak kecil. Lakukanlah apa yang mesti dilakukan. Hanya aku yang pantas diberikan kepada raksasa itu. Dengan mengorbankanku, kalian bisa menyelamatkan keluarga kita. Biarkan aku menjadi perahu yang mengantarkan ayah dan ibu melewati malapetaka ini. Jika ayah dan ibu mati, aku dan adik bayi ini pasti akan mati juga karena tidak ada yang melindungi. Jika dengan pengorbananku keluarga kita dapat selamat, aku pasti akan gembira. Bahkan, jika ayah dan ibu mempertimbangkan kesejahteraanku saja, semestinya ayah dan ibu mengirimkan aku pada raksasa tersebut.”

Mendengar kata-kata anaknya, brahmana dan istrinya memeluk anak perempuan mereka sambil menahan tangis. Anak laki-laki mereka yang masih bocah berkata kepada orang tuanya, dengan mata berbinar-binar: “Ayah, jangan menangis. Ibu, jangan menangis. Kakak, jangan menangis,” sambil menyusup dari satu pangkuan ke pangkuan yang lain. Setelah berkata demikian, ia bangkit mengambil sebatang kayu bakar. Dengan suara yang masih cadel ia mengacung-acungkan kayu dan berteriak: “Akan kubunuh lakcaca itu dengan tongkat ini.”

Tingkah laku bocah itu membuat ayah, ibu, dan si kakak perempuan tersenyum sedih. Mata mereka berkaca-kaca. Dewi Kunti, yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka, merasa bahwa sudah saatnya ia menyela pembicaraan mereka. Ia mengetuk pintu dan bertanya apa penyebab kesedihan mereka. Ia bertanya apa yang dapat ia bantu.

Brahmana itu berkata: “Wahai Ibu, kami tertimpa kemalangan yang sangat berat. Ibu tidak mungkin menolong kami. Di luar kota, terdapat sebuah gua. Di sana tinggal raksasa kejam bernama Bakasura. Sudah tiga belas tahun ia memperbudak kota dan kerajaan ini. Para kesatria penguasa negeri ini sudah melarikan diri ke Wetrakiya. Mereka tidak dapat membela dan melindungi kami. Dulu, setiap kali lapar, ia keluar dari gua dan memangsa orang-orang, tidak peduli laki-laki atau perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Lalu, para penduduk memohon:

“Jangan kau bunuh kami dengan sewenang-wenang. Seminggu sekali kami akan menyerahkan makanan dan minuman yang cukup untukmu. Kami akan mengirimkannya dalam sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kerbau dan seorang manusia yang diambil dari setiap rumah yang ada. Engkau boleh menyantap semua itu, tapi tidak boleh membunuh dengan sewenang-wenang. Raksasa itu setuju dengan tawaran tersebut. Sejak saat itu, Bakasura melindungi kami dari musuh dari luar dan binatang-binatang buas yang mengancam kami. Perjanjian ini telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Tidak ada yang sanggup membebaskan kami dari malapetaka ini. Dengan mudah raksasa itu mengalahkan dan membunuh mereka yang berani melawan. Ibu, raja kami tidak sanggup melindungi kami. Rakyat yang rajanya lemah sebaiknya tidak menikah dan tidak memiliki anak. Kehidupan keluarga yang baik dengan kebudayaan dan kebahagiaan hanya mungkin terjadi di kerajaan yang diperintah oleh raja yang baik dan kuat. Istri, harta benda, dan harta kekayaan lain apa pun tidak akan aman jika tidak ada pemerintahan yang kuat melindungi.

“Sekarang, giliran kamilah yang harus mengirimkan salah satu dari kami sebagai mangsa raksasa itu. Kami tidak punya uang untukmembeli pengganti nyawa kami. Kami tidak akan bisa hidup tenang jika mengirimkan salah satu dari kami. Karena itu, kami putuskan akan pergi sekeluarga. Biar raksasa rakus itu puas dengan pengorbanan kami. Kami telah membuat ibu merasa sedih dengan kisah kami, tapi ibu sendiri yang memintanya. Hanya Tuhanlah yang dapat membantu kami. Tetapi, sekarang kami sudah kehilangan semua harapan.” C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com   


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya