Srikandi Ngedan
SRIKANDI: Iki sapa ta?!!!...Enak saja ngaku-ngaku ibuku...bwuuweee...aku ini tumbuh dari batu...disempurnakan usapan embun...yiiiee..hihihihikkk...
Dewi Gandawati: Putriku ngger cah ayu...ingatlah nak, Aku ibumu, ratu Gandawati...sadarlah anakku sayang....(Dewi Gandawati mulai terisak, hatinya sedih melihat anak kandungnya yang cantik, menjadi lusuh dan bertingkah gila).
Srikandi: Dung..dung ..plak..ndut..ndut...koncreng....yuuk cari belalang, goreng-goreng buat suguhan, ..suamiku ilang, badanku kurang sentuhan...hihihihick...hick...hick....
Kresna: Yayi Drestajumena...jelas, gilanya adimu Wara Srikandi ini pasti karena hilangnya suaminya Arjuna..karena itu Yayi, ini aku pinjamkan Sekar Turangga Jati yang dititipkan Yayi Arjuna, coba dekatkan pada penciuman Yayi Srikandi...
Drestajumena: Sendika dawuh kakaprabu....(Drestajumena mendekatkan Sekar Turangga Jati ke hidung Srikandi....Sesaat Srikandi terpana...matanya terbelalak seperti tersengat petir, sesaat kemudian sambil berteriak-teriak tidak karuan, Srikandi minggat dari amarta).
Srikandi :...Awwwww...aku tahu siapa pemilik kembang ini....jiiiaaahhh.....wong bagus, tunggu akuuuuu yoooiiiii...
Srikandi dengan gesit lari meninggalkan Amarta, paniklah seluruh keluarga Amarta. Merasa bertanggung jawab, Kresna menentramkan mereka dan berjanji untuk menemukan Srikandi sekaligus Arjuna dan Sembadra yang ikut hilang bersama mereka.
Di pinggir Hutan Wanamarta, langkah Srikandi yang gila tertahan Sanghyang Kaneka Putra (Bathara Narada).
Narada: Uiii..wayah ingsun Srikandi...ana apa ayu-ayu kok ngedan kaya ngene nini...
Srikandi: Hihihihi...jalan-jalan di pinggir kandang, eh malah ketemu empang, hati saya lagi bimbang, sampeyan botak kok minta dikepang...xixixi...apa hayo..senyum-senyum ngga jelas...hihihihi...
Narada: Wah jan kebablasan iki...Srikandi, sadarlah...aku ini Dewa, aku tahu gilamu ini tidak sewajarnya...sudahlah, hentikan sandiwaramu, katakan padaku apa keinginanmu...
Srikandi: ..Hihihi...eh boss...ada hiu berantem sama badak..I Love you, mendadak...(dengan kegilaannya Srikandi mulai membelai Narada yang langsung mundur menghindar karena risih...akhirnya dibentaknya Srikandi).
Narada: Cukup Srikandi !!...kamu bisa menipu keluargamu dengan berpura-pura gila...tapi tidak untukku...sudah aku beri kesempatan untukmu...batalkan kegilaanmu, akan aku coba bantu engkau mendapatkan keinginanmu...tapi...kalau kesempatan ini tidak engkau manfaatkan..ya sudahlah...aku tinggalkan kegilaanmu...nikmatilah sendiri...
(Srikandi kaget melihat kemarahan Narada, sadarlah dia bahwa samarannya sebagai Srikandi edan harus dia hentikan untuk mencapai tujuannya...Srikandi berdatang sembah ke Narada).
Srikandi: Aduuuh tobat pukulun....nyuwun sakgunging pangapunten...maafkan saya...saya menggila karena sudah muak melihat suasana...banyak orang yang seharusnya waras menjadi gila membabi buta...memakan hak orang seenaknya sendiri, ada yang makan harta orang di bawahnya, ada yang menjamah istri yang ditinggalkan suaminya...yang menyedihkan, orang gila malah berlagak waras...tingkahnya penuh maksiat dan loba, tapi tampil bak pandita yang sering menebar nasehat...kok tidak melihat gajah yang nyumpal di matanya, malah berkoar tentang kuman di seberang lautan pukulun...saya muak...muak dan jijik....terlalu banyak kepalsuan...terlalu banyak kebusukan...sudah begitu...suami saya malah hilang...jangan-janga dia ikut rombongan orang waras yang menggila atau orang gila yang pura-pura waras..??
Narada: Ya...ya..Srikandi, aku memaklumi kemarahanmu...kamu ini wanita yang kelaki-lakian, sifatmu yang blaka suta selalu jujur menyimak keadaan memang bisa membuatmu stress nini...sekarang redakan kemarahanmu...aku ingin meringankan bebanmu...pejamkan matamu, akan aku ubah penampilanmu dalam wujud 'kedi/banci' ubahlah nanti namamu, menjadi Bambang Kandihawa. Ikutilah sayembara perebutan jodoh di negri Imaimantaka, memperebutkan Dewi Durniti, putri Prabu Dike. Mudah-mudahan dalam laku selanjutnya engkau akan dipertemukan dengan suamimu yang sedang menjalani hidupnya untuk mendapatkan Wahyu Makutarama nini.
Bllaarrrrr....sinar hijau kebiruan keluar dari tangan Narada menyapu wajah dan tubuh Srikandi, yang segera berubah menjadi pria muda tampan namun gemulai. Walaupun Srikandi, belum tahu apa yang akan terjadi dengan perubahan tubuhnya. Namun, mengikuti nasehat Narada, segera dia melangkah menuju kerajaan Imaimantaka.
Bambang Kandihawa berhasil mengalahkan semua musuh dalam sayembara tanding. Sebagai imbalan ia dikawinkan dengan Dewi Durniti putri Prabu Dike. Meskipun Prabu Dike berujud raksasa, Dewi Durniti adalah seorang wanita cantik.
Setelah melangsungkan malam pertama, Dewi Durniti menangis mengadu pada ayahnya. Suaminya, Bambang Kandihawa bukan seorang pria sejati melainkan banci yang tidak bisa membahagiakannya. Seketika itu Prabu Dike meluap amarahnya. Ia merasa dipermainkan. Tanpa banyak bicara Bambang Kandihawa dihajar habis-habisan, dan kemudian ditendang jauh-jauh. Bambang Kandihawa melayang tinggi di udara dan jatuh di Pertapaan Argasunu, di hadapan Begawan Amintuna, seorang brahmana berujud raksasa. Kandihawa berterus terang mengenai nasibnya. Begawan Amintuna merasa iba dan menawarkan pada Bambang Kandihawa untuk bertukar alat kelamin dengannya.
Bambang Kandihawa kemudian kembali ke Kerajaan Imaimantaka. Kali ini Bambang Kandihawa bersedia membuktikan bahwa ia pria sejati dan sanggup memberikan keturunan bagi Dewi Durniti. Kesanggupan itu terbukti. Dewi Durniti mengandung. Setelah genap usia kandungannya, ia melahirkan seorang bayi lelaki berujud raksasa. Bayi itu diberi nama Nirbita. Yang pertumbuhan badannya sangat menakjubkan dalam hitungan bulan sudah menjadi dewasa sebagai Raksasa muda yang perkasa yang kelak akan bergelar Niwatakawaca. Setelah melahirkan putranya ini Dewi Durniti mangkat. Maka pamitlah Bambang Kandihawa melanjutkan perjalanannya mencari Wahyu Makutarama sesuai petunjuk Narada dan meninggalkan anaknya pada asuhan mertuanya.
Syahdan di Gunung Kutarunggu tersiarlah kabar bahwa seorang pertapa sakti bernama Resi Kesawasidi, yang sedang meditasi, akan mbabar ilmu kejayaan berupa Wahyu Makutarama. Banyak raja dan ksatria yang mencoba bertemu dengan sang resi, tapi karena beratnya medan, banyak yang gagal sebelum bertemu sang resi.
Adipati Karna, termasuk salah satu ksatria yang berhasrat bertemu dengan Resi Kandihawa, langkahnya terhalang oleh Resi Anoman yang menjadi pengawal Resi Kesawasidi.
Resi Anoman yang memberitahukan bahwa Begawan Kesawasidi sedang bertapa dan tidak bisa ditemui. Adipati Karna terus mendesak untuk bertemu. Saat mengetahui Adipati Karna dan Kurawa bermaksud mengambil Wahyu Makutarama, Resi Anoman mencegahnya. Terjadilah perang antara Resi Anoman dan Adipati Karna sampai Adipati Karna mengeluarkan pusaka Kunta Wijayadanu. Resi Anoman kaget melihat kenekadan Adipati Karna, Kunta Wijayadanu adalah pusaka dewa yang tidak bisa dilawan kesaktiannya. Dengan kelincahan dan kemampuannya terbang, Resi Anoman dapat merebut senjata itu, dan segera melesat meninggalkan Adipati Karna yang lemas, senjata pusakanya dilolosi.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


