Selasa, 2 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Kematian Bakasura

Minggu, 7 Desember 2014

PELAJARAN politik yang terangkum dalam kisah Ekacakra ini patut dan menarik untuk diperhatikan.

Dewi Kunti membicarakan kisah sedih itu dengan Bima dan kemudian kembali kepada keluarga brahmana itu. Kata Kunti: "Wahai Brahmana budiman, jangan putus asa. Dewata Maha Agung dan Maha Besar. Aku memiliki lima anak. Salah satu dari mereka akan mengantarkan makanan untuk raksasa itu.

Mendengar ucapan Kunti, brahmana itu terkejut dan melompat kegirangan. Tetapi kemudian, ia segera duduk kembali. Ia menggelengkan kepala. Ia menolak untuk digantikan. Kata Kunti: "Brahmana, jangan takut. Anakku ini memiliki kekuatan melebihi kemampuan manusia biasa jika merapal mantra. Ia pasti dapat membunuh raksasa itu. Aku melihat sendiri ia membunuh para raksasa. Tapi, engkau harus merahasiakan hal ini. Jika tidak, kekuatannya tidak akan dapat keluar."

Sebenarnya Dewi Kunti takut jika kabar ini tersebar ke luar kerajaan. Jika itu terjadi, Duryudana akan tahu tentang sepak terjang para Pandawa dan dengan demikian akan tahu di mana mereka berada.

Bima amat senang dan tidak sabar untuk melaksanakan perintah ibunya. Ketika saudara-saudaranya pulang dari meminta-minta, mereka heran melihat wajah Bima yang berseri-seri. Yudhistira menanyakan kepada ibunya apa yang membuat Bima berseri-seri dan penuh semangat. Kunti menceritakan semua yang terjadi.

Kata Yudhistira: "Bagaimana ini? Jangan gegabah dan tergesa-gesa. Apakah kita akan membiarkan dia bertarung melawan raksasa itu, sementara kita tidur-tiduran dan melupakan bahaya dan kesusahan? Bukankah kita berharap merebut kembali tahta kerajaan dengan kekuatan dan keberanian Bima? Mengapa Ibu membahayakan nyawa Bima yang adalah perlindungan dan harapan kita? Ananda khawatir, rasa iba membuat Ibu tidak berpikir jernih."

Dewi Kunti menjawab: "Anakku, cukup lama kita hidup aman di rumah brahmana ini. Kewajiban kita adalah membalas kebajikannya dengan perbuatan baik. Ibu tahu benar kekuatan Bima dan ibu sama sekali tidak cemas. Ingatkah kau siapa yang membawa kita dari Warawanata dan membunuh raksasa Hidimba. Kita wajib berbuat kebajikan kepada keluarga brahmana ini."

Penduduk mengumpulkan makanan dan minuman yang kemudian dimuat ke dalam kereta yang ditarik dua ekor kerbau. Setelah siap, Bima mengendarai kereta itu menuju gua raksasa Bakasura.

Kereta itu bergerak maju dengan iringan musik. Ketika sampai di tempat yang telah ditentukan, para penduduk kota kembali. Mereka meninggalkan Bima sendirian dengan kereta itu. Di mulut gua, tulang belulang, tengkorak manusia, dan sisa-sisa makanan yang membusuk berserakan. Berbagai serangga mengerumuni sisa-sisa makanan, sementara burung bangkai melayang-layang di sisa-sisa mayat yang sudah membusuk. Bima menghentikan kereta itu dan mulai menghabiskan makanan yang sebenarnya akan diberikan untuk raksasa itu. Katanya kepada dirinya sendiri: "Aku habiskan saja makanan ini. Sebelum berceceran karena perkelahianku dengan raksasa itu. Selain itu, jika aku berhasil membunuhnya, badanku pasti akan kotor terkena mayat-mayat dan aku tidak bisa menikmati makanan ini."

Si raksasa Bakasura yang amarahnya sedang memuncak karena terpaksa menunggu lama, menjadi murka melihat apa yang dilakukan Bima. Bima juga melihat raksasa itu. Ia tantang raksasa itu untuk berkelahi. Raksasa yang berbadan sangat besar, kumis, jenggot, dan rambut merah serta bermulut sangat besar segera berlari menerjang Bima. Bima hanya tersenyum tidak peduli. Ia menghindar dari terkaman raksasa itu. Berkali-kali raksasa itu meninju punggung Bima, tapi Bima terus melanjutkan makannya tanpa mempedulikan raksasa itu. Kemudian, raksasa itu menjebol pohon-pohon besar dan melemparkannya ke arah Bima. Bima tetap tidak mempedulikan raksasa itu, hanya tangan kirinya bergerak menangkis serangan itu. Ia tetap asyik dengan makanannya. Baru setelah selesai makan, sampai tandas, dan menyeka mulutnya, Bima bangkit berdiri dengan seringai puas dan menghadapi raksasa itu.

Maka, terjadilah perkelahian yang seru. Bima mempermainkan raksasa itu. Membanting ke tanah dan menantangnya untuk berdiri lagi. Dengan demikian, raksasa itu berulang kali dilempar seperti boneka mainan. Akhirnya, Bima membanting raksasa itu keras-keras ke tanah. Dipukulnya raksasa itu dengan lututnya dan dipatahkan tulang-tulangnya. Raksasa itu meraung kesakitan, muntah darah, dan sebentar kemudian mati. Bima menyeret mayatnya ke pintu gerbang kota. Ia kembali ke rumah brahmana tempatnya menumpang, membersihkan diri, dan menceritakan apa yang ia lakukan pada ibunya.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya