Memangkas Budaya Narkoba dan Miras pada Remaja
BELUM hilang ingatan kita akan tertangkapnya pelawak Kabul Basuki alias Tessy dalam kasus narkoba, kejadian serupa kembali terjadi bahkan mengoyak dunia pendidikan kita.
Bagaimana tidak, belum lama ini seorang guru besar suatu universitas terkemuka tertangkap tangan mengonsumsi barang haram tersebut. Peristiwa itu telah mencederai profesi guru atau dosen sebagai pendidik dan pemberi teladan bagi anak didiknya.
Ancaman pada generasi muda tidak berhenti pada Narkoba saja. Minuman keras (Miras) juga merupakan ancaman yang mengerikan bagi generasi muda. Di Garut, Jabar, 17 anak muda meregang nyawa sia-sia dan belasan lainnya harus dirawat di rumah sakit akibat menenggak minuman keras oplosan tersebut. Generasi muda adalah aset negara untuk masa depan. Apa jadinya apabila calon-calon pengelola negara ini hidup berkalang narkoba dan miras? Tentu sudah bisa dibayangkan kejatuhan negara dari saat ini.
Menurut survei yang dilakukan BNN, prosentase penggunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Survei 2012 menyatakan bahwa 2,2 persen penduduk Indonesia adalah pengguna narkoba. Diperkirakan pada tahun 2015, tren ini akan meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5,8 – 6 juta jiwa. Ironisnya, pemerintah telah merencanakan Indonesia bebas narkoba pada tahun 2015. Sedangkan survei minuman keras oleh Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM), 80% miras yang beredar di Indonesia menyalahi aturan dan 95% pengguna miras adalah remaja. Padahal Permendag 43 Tahun 2009 tentang Pengadaan, Pengedaran, Penjualan, Pengawasan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol, usia minimal seseorang mengonsumsi miras adalah 21 tahun.Tentu keadaan ini merupakan tantangan berat buat pemerintah untuk mewujudkan negeri ini bebas narkoba dan miras. Namun sekeras apapun usaha pemerintah ini akan sia-sia belaka bila tidak ada kepedulian dari seluruh masyarakat Indonesia.
Menurut data kesehatan, baik narkoba maupun miras bisa mengacaukan panca indra dan merusak sistem kendali diri. Narkoba dan miras memberikan pemahaman yang salah bahwa pengguna berada dalam keadaan terbaik pada saat menggunakannya. Keduanya juga memicu halusinasi untuk menghancurkan diri pengguna sendiri dan orang lain. Narkoba dan miras jelas musuh negara. Mengatasi ancaman narkoba dan miras pada generasi muda ini tidak bisa dilakukan oleh keluarga saja. Memang tugas terbesar pasti diemban oleh keluarga.Namun, sekolah, masyarakat dan pemerintah harus ikut peduli terhadap masalah ini.
Pertama, Mengembalikan peran keluarga sebagaimana fungsinya sebagai tempat yang nyaman untuk keluarga. Alasan utama anak bersinggungan dengan narkoba dan miras adalah keinginan mendapatkan rasa nyaman. Rasa nyaman seharusnya bisa didapatkan di rumah dengan keluarga. Keluarga pula yang seharusnya memenuhi kebutuhan spiritual anak-anaknya. Dengan didikan agama dan karakter yang baik diharapkan akan terbentuk jiwa kuat generasi muda. Bila rasa nyaman dan kebutuhan spiritual tidak didapatkan dalam keluarga, wajarlah bila mereka akan mencari kenyamanan di tempat lain.
Kedua, Mengetahui teman bergaul dari anak-anak. ’Teman’ merupakan pintu masuk utama penyalahgunaan narkoba dan miras. Bersama teman untuk sekadar bersenang-senang merupakan alasan kedua penggunaan narkoba dan miras. Kecocokan dengan teman merupakan awal dari melakukan kegiatan yang sama. Mengetahui orang-orang di sekitar anak-anak bisa menjadi alat kontrol yang jitu terhadap ruang lingkup pergaulan mereka.
Ketiga, perlunya kepedulian dan pengawasan lingkungan. Kegiatan seperti neighbourhood watch (pengawasan lingkungan sekitar) dan school community watch (pengawasan komunitas sekolah) perlu digalakkan. Tujuannya adalah untuk menggugah kesadaran setiap pribadi untuk saling mengawasi dan peduli pada lingkungannya. Bila terjadi hal yang mencurigakan di lingkungan rumah maupun sekolah, setiap pribadi berkewajiban melaporkan hal tersebut sedini mungkin. Dengan begitu masalah juga akan teratasi dengan cepat.
Tentu banyak kesulitan membesarkan generasi muda yang tumbuh di lingkungan yang mendewakan uang, kekuasaan dan keberhasilan. Namun, usaha harus tetap dilakukan mengingat narkoba dan miras sangat berbahaya karena mengancam kelangsungan hidup suatu negara.* Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd. MA - kisuta.com
(Penulis adalah guru MtsN Yogyakarta 1, lulusan Curtin University of Technology, Australia)


