Cundrik Kyai Salukat
SANGKAKALA tanda dimulainya Baratayudha hari kedua sudah ditiup meraung-raung...gemanya menggetarkan sanubari setiap ksatria, inikah hari akhirku...?
Di Pesanggrahan Bulupitu sang Senopati Bisma yang agung mulai dihinggapi kegamangan, perang bathin kembali mengganggu nalarnya. Harus berapa lagi satria pinunjul yang harus tewas di tangannya? Kegalauan hatinya atas pilihan posisinya membuat Bisma seakan tak berpijak ke bumi.
Sementara itu di Randuwatangan, Resi Seta mengepalkan jari-jarinya, gemeretak bunyi tulang yang mengalirkan tenaga dalam dahsyat, menunjukkan dendam yang berkobar karena kematian Utara dan Wratsangka, adik-adik yang sangat dicintainya. Resi Seta mulai menaiki kereta perangnya. Dengan tangkas, kereta itu segera melesat memimpin pasukannya ke medan laga Kurusetra.
Kereta perang Resi Bisma bertemu Senapati Pandawa, Seta. Terjadilah adu panah antara Seta melawan Resi Bisma. Namun walaupun Bisma sudah berusia lanjut, ia masih lincah memainkan panah dan pedangnya. Keduanya masih berimbang. Sementara itu Werkudara dengan gadanya menyambar-nyambar kepala para Kurawa. Arjuna dengan panahnya melesat ke semua arah penjuru musuh, dan Nakula serta Sadewa membabat Kurawa dengan pedang kembarnya. Gatotkaca menyambar-nyambar lawannya dari angkasa. Para Kurawa banyak yang ketakutan dengan kegesitan para Pandawa.
Dendam yang bergolak di hati Resi Seta, ditambah kesaktiannya dan usianya yang lebih muda dari Bisma membuat Bisma terdesak, tanpa sadar keretanya terpojok di bibir jurang. Dengan teriakan dahsyat Resi Seta mengeluarkan aji Narantaka, hancurlah kereta Bisma, dan Bismapun terpental masuk ke sungai Gangga, di bawah jurang...Setelah menjatuhkan Bisma, Resi Seta segera kembali ke tengah laga mengobrak-abrik pasukan Kurawa.
Syahdan, di dalam Sungai Gangga, dalam keadaan antara sadar dan tidak, Bisma berhadapan dengan Dewi Gangga, ibu kandung yang tidak pernah ditemuinya...Bathari penguasa sungai Gangga.
Dengan lembut sang Bathari mengusap kening putranya yang berdarah. Dewi Gangga merasa sedih, karena seingatnya Resi Bisma, yang sewaktu muda bernama Dewabrata, sampai sekarang hidupnya tidak pernah bahagia, Bisma mestinya yang bertahta di Astina menggantikan ayahnya. Tetapi karena cintanya pada sang Ayah, dilepaskannya hak atas tahta, bahkan bersumpah wadat, agar tidak terjadi perebutan tahta...ternyata, suratan takdir tidak dapat dicegah...pengorbanan itu hampir tiada arti...Baratayudha perebutan tahta tetap terjadi...
Dewi Gangga: Anakku....maafkan Ibu, yang tidak bisa mendampingimu..sekali ini saja, biarlah aku memberikan sesuatu untuk peganganmu...Cundrik Kyai Salukat..hanya dengan cundrik ini, kekebalan Resi Seta bisa kau atasi...
Bisma: Duhai Ibu...buat apa ananda menambah jatuhnya korban. Resi Seta adalah satria pinunjul yang mulia budinya. Jikapun hamba pralaya di tangannya...hamba ikhlas Ibu, biarlah kuakhiri perasaan bimbang yang membuatku tak nyaman...
Dewi Gangga: Bisma, engkau Senopati Hastinapura...kemenangan adalah tujuanmu anakku...kemuliaan Seta tidak akan berkurang dengan kekalahannya. Semua sudah sesuai kitab Jitabsara, semua lelabuhan ada akhirnya...lelabuhanmu belum selesai, kisahmu belum digenapi...jangan surutkan langkahmu dengan keragu-raguan...bangkit anakku...sambut peperanganmu dengan pusaka ibu ini.
Dewi Gangga memberikan cundrik. Resi Bisma berpamitan dan keluar dari Sungai Gangga, ternyata di luar sudah ditunggu Seta. Resi Bisma meloncat dan segera terlibat perang tanding yang seru. Seta bagai banteng ketaton menyerang hebat tanpa memperhatikan pertahanan badannya karena yakin dengan kekebalannya, saat Seta menendang dan membuka dadanya Bisma menusukan cundrik di dada Seta, blaaaarrrrr...dentuman dahsyat keluar dari Cundrik kyai Salukat saat berbenturan dengan dada Seta...Seta bersimbah darah, Kyai Salukat menancap ke jantungnya, yang membuat Seta Gugur dalam keadaan berdiri tegak dan gagah.
Gegap gempita sorak sorai Bala Kurawa menyambut gugurnya Resi Seta.
Kresna sangat marah dengan kematian Resi Seta, dihunusnya panah Cakrabaswara hendak ditujukan kepada Resi Bisma.
Waspada sang Resi Bisma, didatanginya Kresna sambil mengingatkan “Duh Pukulun Sang Wisnu yang aku hormati, apakah paduka Sang Kesawa hendak mengubah jalannya sejarah yang sudah ditetapkan. Bukankan sumpah dewi Amba, yang akan menjemput titah paduka adalah prajurit wanita.”
Pukulun......ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa dia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung...
Tersadar Kresna dengan perkataan itu, segera Kresna mundur dari peperangan.
Begitu pula Werkudara. Melihat junjungannya tewas, Werkudara mengamuk hebat. Dicabutnya pohon randu besar dan disapunya para prajurit lawan di depannya hingga terpental bergelimpangan. Jadilah mereka korban yang tak sempat menghindar. Yang masih sempat berkelit melarikan diri kocar kacir mencari selamat.
Baratayudha hari kedua, dari sisi jumlah yang tewas Kurawa kalah telak, namun Pandawa kehilangan Resi Seta yang sangat mereka cintai dan hormati.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


