Destarasta Gundah
HARI ke lima Baratayudha, pesanggrahan Bulupitu seperti tersaput mendung. Rona wajah para raja sekutu Kurawa dan para ksatria Kurawa muram dan galau. Duryudana mondar mandir di hadapan Bisma dan Durna dengan omelan keresahannya.
Duryudana: Para Eyang sebagai senopati tidak bertindak dengan sepenuh hati. Apa artinya semua ini, katakan terus terang! Jumlah kita lebih banyak, bagaimana bisa kalah telak dan membawa korban saudara-saudaraku...heh...
Durna: Putra mahkota yang berhati keras, engkau berbicara tanpa menunjukkan pengertianmu. Selama ini kau slalu meremehkan kekuatan Pandawa. Kami telah melaksanakan kewajiban kami dengan sebaik-baiknya.
Bisma: Sadarlah Cucu Prabu, kalah menang dalam peperangan itu tidak hanya bergantung pada strategi, kesaktian dan jumlah yang banyak...ada hal lain di luar rencana manusia yang bertumpu pada kemurnian hati, kebajikan dan dharma....adakah semuanya itu sudah Cucu Prabu persiapkan...
Duryudana termangu mendengar tangkisan-tangkisan para senopati sepuh itu..Dia tutup rapat-rapat kupingnya jika pembicaraan sudah menyentuh ke arah dharma dan kebajikan, karena yang ada di kepalanya hanyalah kepentingannya sendiri yang harus di dahulukan.
Pertempuran di Medan Kurusetra berlangsung dengan hebat. Menjelang tengah hari, Durna berhadapan dengan Setyaki. ia melancarkan serangan bertubi-tubi kepada Setyaki, tetapi ksatria itu belum terkalahkan juga. justru Durna yang membutuhkan bantuan, maka datanglah Burisrawa untuk membantunya.
Melihat datangnya Burisrawa, Setyaki langsung merangsek musuh bebuyutannya itu, namun dari kejauhan Prabu Salya menghujaninya dengan anak panah, untuk menyelamatkan anaknya yang mulai terdesak. Setyaki dibuat repot menghindari anak panah Salya. Melihat ayahandanya terdesak 10 putra Setyaki, bergerak maju menyerang Durna dan Burisrawa, namun kesaktian para senopati Astina itu jauh di atas kemampuan mereka akhirnya ke 10 ksatria muda itu gugur di tangan Burisrawa dan Durna.
Di tepi Kurusetra, Srikandi mengernyitkan dahinya, melihat banyak ksatria sekutu Pandawa gugur, saat hendak maju ke medan laga, tangannya dipegang oleh ayahnya, Prabu Drupada.
Drupada: Tunggu dulu Srikandi apa yang akan kau lakukan.
Srikandi: Tentu saja mengobrak-abrik Kurawa, Ayah, akan aku pentang gendewaku dan membunuh sebanyak mungkin bala kurawa...
Drupada: Apakah sedemikian kejamnya hatimu anakku...ingatlah, perang ini untuk mencari kebajikan, bukan memusnahkan sebanyak-banyaknya musuh...
Srikandi: Aku tahu ayah...seharusnya tugasku hanyalah menghadapi Resi Bisma, untuk menuntut keadilan Dewi Amba...namun betapa pengecutnya laki-laki tua itu, setiap kali berhadapan denganku...dia selalu menghindar...lalu sampai kapan aku bisa melaksanakan takdirku...
Drupada: Mau bersembunyi sampai kapanpun...tidak akan ada yang mampu menghindari takdir....bicarakan dengan Kresna dan suamimu...tetaplah pada tugasmu...sasaranmu hanya Bisma yang agung...sisanya biarlah kami yang menghadapi.
Sementara itu Arjuna telah membabat habis ratusan prajurit Kurawa, seperti peladang yang dengan kesal menerabas semak belukar. Setiap bala bantuan yang dikirim Duryudana langsung dihabisi Arjuna.
Hari sudah sore, Bisma memerintahkan agar pertempuran dihentikan, kedua belah pihak kembali ke perkemahan masing-masing untuk beristirahat dan memulihkan kekuatan untuk menghadapi perang esok hari.
Sementara itu di istana Astinapura, dengan setia Sanjaya putra Yama Widura melaporkan jalannya pertempuran kepada Destarasta. Semua diceritakannya dengan terperinci karena ia dikaruniai kesaktian untuk melihat sesuatu yang jauh.
Destarasta: Aku ini seperti pelaut yang terkatung-katung di samudera luas setelah kapalnya tenggelam. Aku pasti tenggelam dalam lautan kedukaan ini. Bima pasti bisa membunuh semua anak-anakku. Aku tidak tahu, adakah ksatria mahasakti yang sanggup melindungi anak-anakku dari kemusnahan. Apakah Bisma, Krepa, Durna dan Aswatama hanya berpangku tangan melihat kehancuran yang dialami anak-anakku. Apa sebenarnya rencana mereka. Bagaimana dan kapan mereka mau membantu Duryudana dengan sungguh-sungguh.
Prabu Destarastra menangis, dari matanya yang buta mengalir air mata kesedihan.
Sanjaya: Bersabarlah Tuanku Raja. Ingatlah, Pandawa melandaskan kekuatan mereka pada kebenaran dan keadilan. Itu sebabnya mereka menang. Putra-putramu memang pemberani, tetapi mereka berhati busuk dan tak segan untuk berbuat curang. Keberuntungan takkan pernah memihak putra-putramu. mereka telah menghina dan memperdaya Pandawa. Kini putra-putramu telah memetik buah dari perbuatan mereka selama ini.
Bergetar hati Destarasta mendengar ucapan Sanjaya...Dia memahami apa yang terjadi, tetapi sebagai seorang ayah, cinta kasihnya pada anak-anaknya telah menyelubungi nuraninya menutup kepekaannya akan dharma....bahkan seorang raja hebat berbudi luhur seperti Destarasta pun bisa dihinggapi keraguan, kelemahan dan kenistaan yang selalu mengintip sanubari manusia.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


