Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Warsasena Gugur

Senin, 15 Desember 2014

PRABU Drupada kelihatan termangu di hadapan ke tiga anaknya, Drupadi, Drestajumena dan Srikandi. Peperangan yang melelahkan membuat ayah dan anak, merasa perlu untuk selalu berdekatan, mumpung nasib masih mempertemukan mereka.

Drupadi: Kanjeng Rama, mimpi hamba semalam sungguh membuat hamba was-was. Apakah sebaiknya paduka jangan turun ke medan laga dulu...? Jika hamba mengajukan ini ke Kanda Yudistira, tentu suara hamba akan di dengar.

Drupada: Anakku ngger Drupadi...apakah engkau tega melihat ayahmu menjadi seorang pengecut, yang bersembunyi saat nyawa terancam?

Drupadi: Aduh, nyadong deduka ingkang kathah Rama..maafkan Ananda..bukan itu maksud hamba, menepi sementara sampai bahaya lewat adalah bagian dari strategi perang Rama.

Drestajumena: Mbakyu Drupadi, aku mendukung Rama Prabu, seorang ksatria tidak akan gentar menghadapi kematiaannya. Kematian di medan laga memperjuangkan kebenaran adalah bau surga bagi seorang ksatria.

Drupada: Benar anakku, apalagi saat kemarin aku nampak tandang Durna..Kumbayana sudah sangat keterlaluan, dia manfaatkan ilmunya yang pilih tanding untuk membela angkara murka. Sebagai guru besar dia terus mengembangkan angkara murka, gemerlap duniawi selalu mencengkeram raganya yang penuh nafsu....(Drupada mengucapkan ini dengan gigi gemeretak, terdorong dendamnya pada Durna).

Srikandi: Rama Prabu, sebenarnya Pandita Durna adalah sepupu paduka, betapa menyedihkan akhirnya menjadi musuh bebuyutan seperti ini. Ananda melihat tiga macam nafsu paling berbahaya yang dapat menghancurkan hubungan tali persaudaraan baik dalam hubungan keluarga, pertemanan atau berbangsa dan bernegara yakni; nafsu cari benarnya sendiri, nafsu keinginan berkuasa, dan nafsu penguasaan harta (warisan).

Drupada: Anakku Srikandi benar sekali, penguasaan nafsu-nafsu itu, jika terjadi perang (saudara) akan menjadi perang yang sangat keji dan kejam. Terlebih lagi perang tersebut diwarnai dalih membela kebenaran, antara kekuatan “putih” dan “hitam". Akibatnya adalah kehancuran dahsyat.

Percakapan mereka terhenti karena Sangkakala hari ke 6 Baratayudha sudah dibunyikan. Drestajumena segera bergegas menyiapkan pasukannya, sebagai Senopati Amarta. Drestajumena membentuk formasi Makara, dengan Drupada dan Arjuna sebagai pemimpin garis depan. Bima dan Setyaki menjadi pendamping di sayap kiri dan kanan.

Bima bertarung melawan Durna dengan sengit. Bima memanah kusir kereta Durna sehingga tewas seketika. Durna mengambil alih kedudukan kusirnya, lalu menghancurkan sebagian besar pasukan Pandawa.

Serangan Durna dihadapi oleh Drestajumena. Sementara itu, Bima melancarkan serangan ke garis pertahanan yang terdiri dari putra-putra Dretarastra, yaitu: Dursasana, Durwisaha, Dursaha, Durmada, Jaya, Jayasena, Wikarna, Citrasena, Sudarsana, Carucitra, Duskarna, Kartamarma . Mereka semua mengepung Bima dari segala penjuru.
Bima meloncat turun dari keretanya sambil membawa gada. Di tengah pasukan musuh, Bima mengamuk sehingga pasukan Kurawa kacau-balau. Melihat Bima dalam bahaya, Setyaki memberikan bantuannya sehingga pasukan Kurawa kocar kacir menghadapi kedua ksatria gagah ini.

Warsasena (anak Karna) yang melihat kehebatan gada wesi kuning Setyaki segera menghujani Setyaki dengan panah. Namun, angin menderu yang keluar dari kibasan gada wesi kuning segera merontokkan panah-panah itu. Melihat Warsasena yang terus melepaskan anak panah, Setyaki segera meloncat meninggalkan Bima dan memburu Warsasena.

Warsasena meloncat dari kereta kudanya dan melayani tantangan Setyaki. Pertempuran seru terjadi di antara keduanya, kegesitan dan ketrampilan Warsasena, mendapat tandingan yang setimpal dengan kesaktian Setyaki yang penuh pengalaman. Saat Warsasena lengah, sikut Setyaki mendarat di rusuk kirinya, dalam keadaan oleng, kepala Warsasena retak dihantam Gada Wesi Kuning, tewaslah ksatria muda Awangga itu.

Sorak sorai balatentara Amarta di sayap kanan yang menyerukan tewasnya Warsasena, menggetarkan hati Karna dan keluarga Kurawa. Karna sadar, kematian adalah konsekuensi logis dari suatu peperangan, tetapi betapa sakit hatinya...bahwa kematian itu menimpa anaknya, yang seharusnya bisa diselamatkan agar tidak terlibat pertikaian keluarga besar ini.

Sekilas terbayang dialognya ketika meminta agar Warsasena dan Warsakusuma tidak turun ke medan laga, saat hampir dimulainya Baratayuda.

Warsasena: Rama, mengapa kami tidak diijinkan turun ke Baratayuda?

Karna: Karena ini bukan perangmu anakku...lagipula aku perlu menitipkan keselamatan ibumu Surtikanti, jagalah kadipaten Awangga, pastikan ibumu selamat.

Warsakusuma: Rama, apakah para putra Pandawa juga ikut berperang?

Karna: Setahuku demikian...Abimanyu, Gatotkaca, Pancawala,dll mereka ikut berperang kecuali Antareja, Antasena dan Wisanggeni yang moksa sebelum baratayudha...

Warsasena: Kalau demikian, apa bedanya dengan kami Rama? Sedangkan Rama sendiri yang sudah diminta Eyang Kunti untuk bergabung dengan Pandawa saudara kandung Rama, memilih tetap mengabdi di sini dan berperang untuk Kurawa. Bagaimana kami putra-putramu, mau mencari selamat? Inikah makna darma ksatria untuk kami Rama?

Warsakusuma: Kami sadar pilihan kami mengundang bahaya dengan taruhan nyawa. Namun Rama, lebih baik kami mati sebagai harimau yang tangguh ketaton di medan laga, daripada tikus yang mati kekenyangan bersembunyi di lubang sempit. (Lamunan Karna atas percakapan dengan putra-putranya buyar oleh tiupan Sangkakala yang bertalu-talu).

Airmata Karna menetes, Sangkakala tanda berakhirnya perang sore itu, menggerakkan langkahnya untuk menjemput jasad anaknya. Dipondongnya mayat dingin Warsasena, dibelainya rambut yang jatuh menutupi dahi anaknya. Di Pesanggrahan Bulupitu, Karna menyempurnakan perabuan jasad anaknya dengan kebanggaan seorang ayah.

"Warsasena, berjalanlah laju harimau di hatiku,.... tunggulah ayahmu yang akan segera bergabung denganmu dan memelukmu sayang di keabadian yang jauh dari luka dan sakit hati....perang ini adalah pemandian atas bara dendam, angkara dan pengabdian...biarlah kita selesaikan darma kita di sini sebagai laku satria sejati."*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya