Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Burung Saranga

Selasa, 16 Desember 2014

DALAM cerita yang ditulis dalam bahasa Purana, burung dan binatang lainnya bisa berbicara seperti manusia. Kadang mereka memberikan nasihat dan bahkan pengajaran kebijaksanaan moral. Sementara itu, sifat-sifat dasar binatang itu dengan cerdik digunakan untuk mengangkat sifat-sifat manusia.

Salah satu ciri keindahan sastra dalam bahasa Purana adalah penggabungan yang harmonis antara alam dan imajinasi. Pada sebuah bagian yang indah dalam Ramayana, Hanoman, yang digambarkan sebagai pribadi yang sangat terpelajar dan bijaksana, diceritakan mengungkapkan kegembiraannya seperti kera, ketika ia mengira anak gadis yang ia lihat di taman istana Rahwana adalah Dewi Sinta.

Tidak jarang orang menghibur anak-anak dengan cerita-cerita di mana burung-burung dan binatang bisa bicara seperti manusia. Tetapi, kisah-kisah sastra Purana dimaksudkan untuk kalangan dewasa. Biasanya dalam cerita-cerita itu, terdapat penjelasan latar belakang binatang-binatang yang memiliki kemampuan bicara seperti manusia. Cara yang paling umum digunakan adalah dengan menggunakan kisah kehidupan sebelumnya, yaitu ketika mereka masih menjadi manusia. Misalnya, seekor rusa dulunya adalah seorang resi atau seekor rubah dulunya adalah seorang raja –penurunan tingkat hidup semacam ini disebabkan oleh kutukan. Pada kasus semacam ini, rusa itu akan berperilaku seperti layaknya seekor rusa, tapi bisa bicara seperti seorang resi atau pada kasus rubah, kecerdikan rubah itu digambarkan dengan karakteristik seorang raja yang bijaksana dan telah banyak makan asam garam dunia. Dengan demikian, kisah itu menjadi alat untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran agung yang kadang terkandung di dalamnya.

Ketika Pandawa mulai membangun, Kandawaprastha masih berupa hutan yang menakutkan. Hutan itu penuh dengan semak duri dan puing-puing yang berserakan bekas kota yang telah lama ditinggalkan. Banyak burung dan binatang bersarang di tempat itu. Di sana banyak pencoleng dan orang jahat. Krishna dan Arjuna memutuskan untuk membakar hutan itu dan mulai membangun kota baru di tempat itu.

Seekor burung saranga bersarang di tempat itu bersama dengan keempat anaknya yang belum bisa terbang. Burung saranga yang jantan asyik terbang mengitari hutan bersama burung saranga betina lain. Ia melupakan anak istrinya. Burung saranga itu merawat anak-anaknya. Seperti yang diinginkan Krishna dan Arjuna, api dengan cepat menjalar ke segala arah. Ketika api mulai menjalar mendekati mereka, induk burung itu mulai meratap: “Api sudah semakin dekat, membakar habis semua yang ia jumpai. Tidak lama lagi, kita pun akan terbakar dan mati. Semua penghuni hutan kehilangan harapan dan seluruh hutan bergemuruh karena pohon-pohon bertumbangan. Kasihan kalian, anak-anakku. Kalian belum bisa terbang. Kalian pasti akan menjadi mangsa si jago merah. Apa yang harus aku lakukan? Ayah kalian telah meninggalkan kita. Aku tidak cukup kuat untuk membawa kalian semua pergi dari sini.”

Meskipun api sudah semakin mendekat, induk burung itu sama sekali tidak berpikir untuk meninggalkan anak-anaknya. Katanya: “Aku akan tetap berada di sini bersama kalian, mati dimakan api bersama kalian.”

Beginilah latar belakang kisah burung saranga itu: seorang resi yang bernama Mandapala selama hidup menjalani sumpahnya sebagai seorang brahmacarin dengan sempurna. Ketika ia akan masuk ke surga, penjaga gerbang berkata: “Tidak ada tempat untuk orang yang tidak punya keturunan.” Dan ia pun kembali. Kemudian ia terlahir kembali sebagai seekor burung saranga dan tinggal dengan pasangan betinanya Jarita. Jarita bertelur empat. Kemnudian, Mandapala meninggalkan Jarita dan terbang mengitari hutan bersama burung betina lain Lapita.

Keempat telur Jarita menetas tepat pada waktunya dan mereka adalah keempat anak burung yang diceritakan di depan. Karena adalah anak seorang resi, mereka bisa menghibur dan menguatkan hati sang induk dengan tingkah laku mereka.

Induk burung itu berkata pada anak-anaknya: “Di dekat akar pohon itu, ada lubang tikus. Aku akan menempatkan kaian di sana. Setelah kalian masuk ke dalam lubang itu, aku akan tutup jalan masuknya sehingga api tidak menjilat kalian. Setelah api padam, aku akan kembali dan mengeluarkan kalian.”

Anak-anak burung itu menolak rencana itu. Kata mereka: “Tikus yang tinggal di lubang itu akan memangsa kami. Lebih baik mati terbakar daripada dimakan tikus.”

Sang induk berusaha menenangkan hati anak-anaknya. Katanya: “Tikus itu telah dimangsa burung elang. Maka, tidak ada lagi yang kalian perlu khawatirkan.”

Tapi anak-anak itu berkata: “Di sana pasti ada tikus yang lain. Kematian satu tikus bukan berarti tidak ada bahaya lain. Ibu, cepatlah engkau pergi meninggalkan kami, sebelum api mencapai kita dan pohon kita ini terbakar. Kita tidak mau masuk ke lubang tikus. Ibu tidak perlu mengorbankan diri untuk kami. Kami tidak pantas mendapatkan pengorbanan ibu. Kami belum melakukan apa-apa untuk ibu. Kami hanya melahirkan kesedihan bagi ibu. Carilah pasangan lain dan hidup bahagia. Setelah mati terbakar, kami pasti akan diterima di surga. Seandainya kami bisa selamat karena mukjizat, ibu dapat kembali lagi ke sini setelah api padam. Ayo, segeralah ibu pergi. Demikian desak anak-anak burung itu supaya induknya terbang menyelamatkan diri.

Dengan cepat api menyambar pohon itu, tetapi keempat burung kecil itu tetap tenang dan terus berkicau satu sama lain dengan gembira.

Anak burung yang paling tua berkata: “Engkau sangat bijaksana. Tidak banyak yang memiliki jiwa teguh sepertimu.”

Dengan tersenyum, mereka semua menyambut kedatangan si jago merah. Kata mereka: “Wahai, api, ibu telah meninggalkan kami. Kami belum pernah melihat ayah kami. Setelah kami lahir, ia sudah tidak tampak lagi. Api yang perkasa, asap adalah benderamu. Engkaulah satu-satunya tempat kami menaungkan diri. Lihatlah kami belum bersayap dan tidak berdaya. Tidak ada lagi yang menjaga kami. Kami menyerahkan diri pada naungan perlindunganmu.” Demikianlah, mereka berdoa pada Dewa Api, seperti seorang brahmana yang brahmacarin mengucapkan syair Weda.

Api membakar habis seluruh hutan, kecuali anak-anak burung itu.

Ketika api mulai padam, induk burung itu kembali. Ia terheran-heran ketika melihat anak-anaknya tidak kurang suatu apa dan berkicau dengan gembira. Dengan suka cita, ia segera memeluk mereka semua.

Ketika api melahap hutan dengan ganas, si burung jantan gelisah. Kepada pasangan barunya, ia ungkapkan kekhawatiran atas keselamatan anak-anaknya. Mendengar itu, si betina menjadi marah: “Benarkah demikian?” katanya; “Aku tahu pikiranmu. Aku tahu kau ingin kembali pada Jarita, setelah puas denganku. Kau sendiri mengatakan bahwa anak-anak Jarita tidak akan mati terbakar karena Dewa Api memberimu mantra itu. Jujurlah dan pergilah pada kekasihmu Jarita, jika itu memang maumu. Aku ini hanyalah betina bodoh yang percaya dan akhirnya dikhianati pejantan tidak berguna. Pergilah, jika itu maumu!”

Burung yang adalah Mandapala itu berkata: “Kau salah mengerti. Aku memilih lahir menjadi burung supaya bisa memiliki keturunan dan wajar bukan jika aku mengkhawatirkan mereka. Aku akan pergi menengok mereka dan kembali lagi kepadamu.” Setelah menenangkan hati pasangan barunya, ia terbang menuju pohon di mana Jarita bersarang.

Jarita tidak mempedulikan suaminya. Ia larut dalam kegembiraan karena anak-anaknya selamat. Kemudian, ia menoleh kepada suaminya dan menanyakan alasan kedatangannya dengan nada tidak peduli.

Jawab Mandapala dengan penuh cinta: “Apakah anak-anakku bahagia? Mana yang sulung?”

Potong Jarita dengan dingin: “Apakah kau peduli? Kembalilah pada kekasih barumu. Tinggalkan kami.”

Mandapala menjawab secara filosofis: “Setelah punya anak, seorang perempuan tidak akan lagi peduli pada suaminya. Demikianlah hidup. Bahkan Wasistha yang tidak bercela, diabaikan Arundhati.” C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya