Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Sanjaya Sang Mata Raja

Jumat, 19 Desember 2014

SEMILIR angin di ujung malam Kadipaten Gajah Oya, membuat Destarasta tak nyenyak tidur. Esok adalah hari ke delapan Baratayudha, beberapa putranya sudah gugur, sementara keluarga Pandawa masih utuh. Kalau bisa dibuat perbandingan, kehilangan terbesar Pandawa barulah pada kematian Resi Seta dan Prabu Drupada. Tangannya menggapai membangunkan Sanjaya, putra Widura yang setia mendampinginya.

Destarasta: Sanjaya, satu demi satu putraku gugur di Kurusetra.. mengapa kekalahan akrab menimpa Kurawa?

Sanjaya: Uwa Prabu, tanpa hamba jawabpun sebenarnya Uwa tahu...tidak akan pernah keserakahan dan angkara murka memenangkan kebajikan...

Destarasta: Kalau demikian mengapa Kresna titisan Wisnu tidak mencegah peperangan ini?

Sanjaya: Uwa Prabu, bukankah saat Kresna duta, upaya mencegah peperangan ini sudah dilakukan? Putra padukalah yang menantang untuk tetap dilaksanakannya peperangan ini, karena yakin armada yang kuat, para senopati dan raja-raja sekutu yang sakti-sakti menjadi jaminan kemenangan.

Destarasta: Duhai...sekarang apa yang terjadi? Semua andalan itu ternyata berbeda dengan harapan...

Sanjaya: Demikianlah keangkuhan manusia Uwa Prabu....ukuran kejayaan dan harapan, selalu lebih tinggi dari kepastian hak sang pencipta...kalau akhirnya harapan itu tidak menjadi kenyataan...dengan mudah manusia menyalahkan penciptanya....lho...siapa yang berhak memastikan nasib manusia?

Destarasta termangu, setiap saat berdialog dengan Sanjaya, dia tahu jawaban yang muncul akan makin menjauhkannya dari harapan...namun apa dayanya? Sanjayalah satu-satunya 'mata' yang diharapkannya bisa memberikan gambaran dahsyatnya baratayudha di bilik sepinya.

Sementara itu, di pesanggrahan Bulupitu angan Sengkuni menjelajah ruang masa lalunya. Kraton Plasa Jenar, tempatnya dilahirkan adalah daerah taklukan Hastinapura, setiap laki-laki di Plasa Jenar, dibatasi asupan gizinya agar lemah raganya dan tetap menjadi daerah jajahan. Kakak sulungnya Prabu Gandara, telah mengalah memberikan jatah makanannya buat Haryasuman (Sengkuni) agar tetap mempunyai kekuatan raga, guna membebaskan rakyat Plasa Jenar dari penjajahan itu.

Sengkuni pun diperintahkan melamar Kunti untuk menambah sekutu, sayang Sengkuni kalah dengan Pandu Dewanata, bahkan Gendari kakaknya yang disodorkannya pada Pandu, malah dijodohkan dengan Destarasta kakak Pandu yang buta, yang menjadi raja Hastinapura sebagai wakil Pandu sampai Pandawa dewasa.

Dendam Sengkuni pada trah Hastinapura setinggi gunung seluas samudra, rangkaian kisah itulah yang membuatnya menjadi penghasut...tujuannya hanya satu, hancurnya trah Hastinapura...perangnya adalah perang kasak kusuk, perang hasutan dan memecah belah persatuan di keluarga besar Hastinapura...bagi Sengkuni dendamnya bukan dendam pribadi lagi...ini dendam seluruh warga Plasa Jenar..yang dikemasnya dalam kelicikan, slaman slumun slamet.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya