Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Antisipasi Banglistra

Senin, 22 Desember 2014

PERKEMBANGAN lingkungan strategis (Banglistra) dewasa ini, berlangsung sangat cepat dan dinamis, serta menghadirkan berbagai perubahan signifikan pada semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perubahan tersebut, secara otomatis juga berpengaruh terhadap penyelenggaraan aspek pertahanan negara yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama.

Seiring dengan perkembangan lingkungan strategis global yang demikian dinamis, dewasa ini kita berada pada rentang perspektif dalam kisaran isu-isu strategis, yakni energy security, terrorism, global warming, food crisis, enviromental issues, global financial crisis, weapon mass destruction, regional conflicts dll.

Issu strategis ini semakin memperjelas desire oleh state dan non state actors untuk mempertahankan dan merebut posisi sebagai “dominan actor” dalam konteks global, “dominan actor” dalam konteks penguasaan regional tertentu, dan bahkan “dominan actor” pada sektor kehidupan tertentu seperti sektor ekonomi, sektor transportasi dan bahkan industri militer.

Keinginan untuk menjadi pemain utama tersebut secara alamiah melahirkan dan bahkan menyuburkan perkembangan ancaman yang tidak lagi terbatas pada traditional threat, tetapi telah berkembang menjadi non-traditional threat, termasuk di dalamnya ancaman pada aspek perekonomian global, seperti akan diberlakukannya perdagangan pasar bebas.

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sekalipun tantangan yang dihadapi Indonesia tidak ringan, seperti krisis ekonomi global dan bencana alam yang tak kunjung henti. Namun, kita tetap bersyukur karena pembangunan nasional tetap dapat dijalankan, dan dioptimalkan dengan segenap semangat, kekuatan, dan sumber daya yang ada. Indikator-indikator pembangunan menunjukkan bahwa rakyat Indonesia mengalami peningkatan kesejahteraan dibandingkan periode sebelumnya, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 5,0 persen pada tahun 2004 dan terjaga pada kisaran rata-rata 5,8 persen dalam periode 2005 - 2013. Data Ekonomi Asean 2013, pertumbuhan ekonomi negara Indonesia adalah 5,7%, sesungguhnya Indonesia bisa mencapai 6,3%. Negara Malaysia sebesar 5%, Filipina 4,9%, Singapura 4,5% dan Thailand 4,5%. Tidak hanya itu, tahun 2014 Bank Dunia mengumumkan bahwa Indonesia termasuk dalam 10 besar ekonomi dunia berdasarkan metode perhitungan Purchasing Power Parity . Hal ini adalah sesuatu yang sangat membanggakan dan menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia sudah berada dalam jalur yang benar. Ke depan, Indonesia memiliki potensi yang amat besar untuk menjadi pelaku penting dalam perekonomian dunia.

Indonesia dengan kekayaan sumberdaya alamnya, “tidak boleh” maju dalam menghadapi perdagangan bebas menjadi pasar konsumen di tengah pergulatan pasar dunia. Kita harus bisa tampil sebagai produsen dalam pasar global. Kita tidak boleh 'rebah' tergilas mesin perekonomian kapitalis global. Di sinilah perlunya kita mengintegrasikan persatuan kesatuan bangsa. Di sinilah perlunya memperkuat jatidiri dan kemandirian sebagai sebuah nation-state. Di sinilah perlunya membangun perekonomian yang stabil, yang didukung stabilitas keamanan yang kondusif.

Untuk keperluan tersebut, maka kita perlu mewujudkan kesamaan persepsi tentang ancaman terhadap negara kita, dengan arif jangan sampai memaknai sesama warga bangsa sebagai sebuah ancaman..., tapi mari kita rapatkan dan gabungkan seluruh potensi yang ada untuk menghadapi ancaman yang nyata-nyata ancaman dan hendak meluluhlantakkan NKRI! Semoga...* Drs. Mu’tamar, M.Sc. - kisuta.com

(Penulis perwira menengah TNI AD lulusan Seskoad 2006, alumni Fisip UNS dan Tannas UGM)


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya