Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Gugurnya Sang Naga Perkasa

Senin, 22 Desember 2014

SUARA terompet Sangkakala hari ke delapan memekakkan telinga...pasukan Kurawa di bawah pimpinan Bisma menggunakan formasi Kurma Wyuha/Kura-kura, sementara di pihak Pandawa Drestajumena mengimbanginya dengan Trisula Wyuha. Dari sayap kanan Bima segera merangsek disambut keroyokan 8 Kurawa bersaudara Sunaba, Adityaketu, Wahwasin, Kundadara, Mahodara, Aparajita, Panditaka dan Wisalaksa, mereka bertempur membabi buta.

Beragam senjata seperti lembing, trisula, gada dan pedang dihujamkan ke arah Bima. Namun Bima sang Adipati Jodipati adalah ksatria kesayangan dewa. Kuku Pancanakanya memancarkan sinar biru, yang bisa menghancurkan senjata yang mendekati tubuhnya. Teriakan kesakitan akibat tubuh yang terobek kuku pancanaka, memekakkan telinga. Satu demi satu ke delapan Kurawa bersaudara tewas di tangan Bima.

Sesaat sayap kanan dihinggapi suasana senyap...pasukan Kurawa di barisan itu menjadi kocar-kacir...Bisma segera memerintahkan Prabu Gandara, kakak Sengkuni memperkuat sayap kanan yang diobrak-abrik Bima..Kehadiran Gandara disambut oleh Irawan putra Arjuna dan Dewi Ulupi yang bisa berubah wujud menjadi naga perkasa (karena Dewi Ulupi adalah keturunan suku Naga)...Gandara keteter, pasukannya hancur terkena semburan api dari naga jelmaan Irawan. Akhirnya Gandarapun tewas di tangan Irawan.

Kejayaan Irawan di sayap kanan segera berubah ketika Detya Alambusa merangsek maju dan merubah wujudnya menjadi Garuda Raksasa yang menyambar-nyambar untuk menghentikan amukan Irawan sebagai Naga. Peperangan sihir yang dahsyat antara keduanya terjadi, hingga suatu saat, semburan api Irawan berhasil memanggang Garuda Yaksa Alambusa, namun naas, saat Irawan terpana melihat hasil kerjanya, cakar Garuda Yaksa Alambusa berhasil merobek leher sang Naga...Irawan dan Detya Alambusa mati sampyuh.

Kematian Irawan, membuat Abimanyu, Gatotkaca, dan Setyaki yang tak jauh dari posisi itu mengamuk dahsyat..para senopati dan raja-raja sekutu Kurawa merasakan akibat amukan mereka. Shatrunjaya, Chandraketu, Mahawegha, Suwarcha , Suryabhasa, Kalikeya...raja-raja sekutu Kurawa ini gugur ditangan mereka....ditambah 8 lagi keluarga kurawa yang tewas tertembus panah Arjuna yang murka...jadi total di hari ke 8 itu ada 16 putra Destarasta yang gugur.

Peperangan hari ke 8 Baratayudha kembali dimenangkan keluarga Pandawa...namun suasana pesanggrahan Randuwatangan menyiratkan duka yang sangat dalam. Irawan putra Arjuna tewas di usia belianya. Arjuna membelai leher anaknya yang sobek berdarah, dikecupnya kening dingin putranya. Suara mendesis keluar dari mulutnya berlahan:

"Pergilah anakku sayang, lanjutkan perjalananmu ke keabadian. Aku ayahmu tak mampu mencegahmu terjun ke medan laga, ketika tekadmu begitu kuat mendarmabaktikan jiwa ragamu...Ibumu Ulupi dulu menyelamatkan nyawaku, kini putra satu-satunya juga menyerahkan jiwa untuk kejayaan Pandawa...Irawan, pengorbananmu tidak akan sia-sia anakku..akan aku tuntaskan perjuangan ini, hingga Hyang Widi Wasa mempertemukan kita kelak dalam keabadian."

Seluruh anggota keluarga Pandawa tertunduk dalam khidmat, ketika Arjuna memeluk erat jasad Irawan, sebelum kemudian menyalakan api dan memerabukan putranya itu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya