Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Sengkuni Turun Gelanggang

Kamis, 25 Desember 2014

SEUSAI upacara Rajasuya, para raja, pangeran, pendeta, dan sesepuh yang menghadiri upacara minta diri dan meninggalkan Indraprasta. Begawan Wiyasa mendatangi mereka dan pamit. Dharmaputra segera berdiri dan menghaturkan sembah hormat dan duduk di sebelahnya. Mahaguru itu berkata:

"Wahai putra Kunti, engkau sekarang bergelar maharaja. Engkau memang layak menyandang gelar itu. Semoga bangsa Kuru yang masyhur ini mencapai keagungan bersamamu. Sekarang, aku akan kembali ke pertapaanku."

Yudhistira menyembah kaki mahaguru dan moyangnya itu dan berkata: "Guru,hanya engkaulah yang dapat menenangkan kecemasanku. Orang-orang bijaksana dapat meramalkan malapetaka yang akan terjadi. Apakah menurut Guru tanda-tanda malapetaka telah terpenuhi dengan kematian Sisupala atau apakah malapetaka yang lebih besar akan segera menjelang?"

Begawan Wiyasa menjawab: "Anakku terkasih, engkau mengalami banyak kesusahan dan penderitaan selama tiga belas tahun mendatang. Tanda-tanda menunjukkan bahwa akan terjadi kehancuran di antara golongan kesatria dan itu belum selesai dengan kematian Sisupala. Jauh lebih mengerikan daripada itu. Ratusan raja akan tewas dan tatanan kehidupan yang lama akan berganti. Malapetaka ini akan timbul karena permusuhan di antara kau dan adik-adikmu di satu pihak dan sepupumu, putra-putra Destarata, di pihak lain. Permusuhan ini akan berujung pada perang besar yang menewaskan sejumlah golongan kesatria. Tidak ada orang yang bisa melawan takdir. Teguhkanlah hatimu dan tegakkan keluhuran budimu. Waspadalah dan perintahlah rakyatmu dengan arif bijaksana. Aku pamit." Dan Wiyasa memberkati Yudhistira.

Ramalan Begawan Wiyasa membuat Yudhistira tenggelam dalam kesedihan dan membuatnya merasa jijik pada ambisi-ambisi duniawi dan hidup itu sendiri. Ia menyampaikan ramalan tentang kehancuran golongan kesatria yang tidak terelakkan. Ia merasa hidupnya terasa sia-sia karena kepunahan bangsanya sudah diramalkan.

Arjuna berkata: “Engkau adalah seorang raja. Tidak semestinya engkau terpengaruh ramalan itu. Kita hadapi suratan takdir dengan penuh keberanian dan melakukan tugas kita dengan sebaik-baiiknya.”

Yudhistira menjawab: “Saudaraku, semoga Tuhan melindungi dan memberi kita kebijaksanaan. Aku sendiri akan bersumpah tidak akan bicara kasar kepada saudara-saudaraku dan kerabatku selama tiga belas tahun ke depan. Aku akan menghindarkan diri dari segala hal yang dapat menimbulkan sengketa. Aku tidak akan membiarkan amarah menguasaiku, sebab amarah merupakan akar penyebab permusuhan. Semoga kita dapat belajar dari ramalan Begawan Wiyasa.” Saudara-saudaranya sepakat dengan Yudhistira.

Peristiwa yang mengawali rangkaian malapetaka yang memuncak dalam perang besar-besaran di medan Kurusetra adalah dari perjudian. Dalam perjudian itu Yudhistira diperdaya oleh Sengkuni, penasihat Duryudana. Mengapa Yudhistira yang bijaksana dan berbudi bisa dipengaruhi untuk melakukan sesuatu yang ia sendiri tahu itu bukan keputusan yang benar?

Faktor penyebab utama adalah keputusannya untuk bersikap ramah pada saudara-saudara sepupunya. Ia tidak mau menolak keinginan-keinginan mereka dan undangan untuk bermain dadu tidak mungkin ditolak. Tata cara zaman dulu mewajibkan orang untukmenerima undangan semacam itu. Terlepas dari niat baiknya, Yudhistira justru membukakan jalan untuk tumbuhnya benih-benih kebencian dan kemusnahan. Kisah ini menggambarkan betapa rapuhnya rencana manusia, sebaik dan sebijaksana apa pun itu, jika tidak disertai campur tangan Hyang Maha Kuasa. Kebijaksanaan tidak akan ada artinya di hadapan suratan takdir. Jika nasib baik berpihak, kebodohan akan berbalik menjadi keuntungan.

Sementara Yudhistira berusaha keras menghindari perselisihan, Duryudana justru panas hati karena dengki dan iri melihat kemakmuran kerajaan yang dipimpin Pandawa. Ketika menghadiri upacara Rajasuya, Duryudana menyaksikan kemakmuran, kemegahan istana yang dihias dengan pintu kristal yang memikat hati, balairung yang dihias dengan benda-benda seni yang menawan. Semuanya mengesankan bahwa Yudhistira telah memerintah dengan adil dan baik. Ia juga menyaksikan betapa gembiranya para raja menjadi sekutu Yudhistira. Duryudana tenggelam dalam rasa iri pada kemakmuran yang telah diraih para Pandawa hingga ia tidak mendengar Sengkuni, yang duduk di sebelahnya, bicara kepadanya.

Kata Sengkuni: “Mengapa engkau diam saja? Jangan bersedih.”

Jawab Duryudana: “Yudhistira dikelilingi para saudaranya. Ia seperti Dewa Indra, raja para dewa. Sisupala dibunuh di hadapan para raja. Tak seorang pun berani membelanya. Seperti para pedagang yang hanya mementingkan keselamatan diri dan dagangannya laku, mereka menjual kehormatan dan kekayaan asalkan bisa bergabung dengan Yudhistira, Bagaimana aku tidak sedih melihat itu semua? Apa gunanya hidup seperti ini?”

Kata Sengkuni: “Duryudana, Pandawa adalah sepupumu. Tidak sepantasnya engkau iri melihat kemakmuran mereka. Mereka memperoleh kerajaan dan kemakmuran itu secara sah. Nasib baik memihak mereka sehingga mereka dapat menikmati kekayaan dan kemakmuran tanpa merugikan orang lain. Mengapa engkau harus iri? Mengapa engkau biarkan kekuatan dan kebahagiaan mereka menggerus kebesaranmu. Saudara dan kerabatmu ada di belakangmu dan patuh kepadamu. Durna, Aswatama, dan Karna ada di pihakmu. Apakah masih ada alasan untuk bersedih ketika Bhisma, Kripa, Jayadrata, Somadatta, dan aku sendiri selalu mendukungmu? Bahkan jika mau, kau bisa menaklukkan seluruh dunia. Jangan biarkan dirimu dirongrong kesedihan.”

Duryudana menjawab: “Paman Sengkuni benar. Aku memiliki banyak pendukung. Mengapa kita tidak serang dan usir saja Pandawa dari Indraprasta?”

Tapi jawab Sengkuni: “Tidak. Itu tidak akan mudah. Aku tahu cara mengusir Yudhistira dari Indraprasta tanpa harus berperang atau menumpahkan darah.”

Mata Duryudana berbinar. Tetapi gagasan itu terdengar terlalu indah, hingga Duryudana bertanya: “Paman, apakah mungkin mengalahkan Pandawa tanpa harus bersabung nyawa? Apa rencanamu, Paman?”

Sengkuni menjawab: “Yudhistira gemar bermain dadu, tapi tidak pandai. Ia tidak tahu tipu muslihat dan peluang-peluang yang bisa digunakan orang yang cerdik. Jika kita undang untuk bermain dadu, ia pasti akan menerima, sebagaimana tradisi para kesatria. Aku tahu tipu muslihat permainan dadu dan aku akan bermain atas namamu. Melawanku Yudhistira pasti tidak akan berdaya. Ia tidak akan bisa berbuat apa-apa, seperti seorang anak kecil. Aku akan memenangkan kerajaan dan kemakmurannya untukmu tanpa harus menumpahkan darah.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya