Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Undangan Bermain Dadu

Sabtu, 27 Desember 2014

DURYUDANA dan Sengkuni menghadap Destarata. Sengkuni mengawali pembicaraan. Katanya: "Tuanku Raja, Duryudana dilanda kesedihan dan rasa cemas. Tetapi, mengapa Paduka tidak menghiraukan kesedihan dan kecemasannya? Mengapa Paduka tidak melihatnya?"

Destarata yang terlalu mengasihi Duryudana itu memeluk anaknya dan berkata: "Aku tidak tahu mengapa engkau bersedih. Apa yang merisaukan hatimu? Seluruh dunia tunduk di bawah kakimu. Ketika semua kesenangan ada di sekelilingmu mengapa kau biarkan hatimu bersedih? Engkau sudah mempelajari kitab-kitab Weda, ilmu perang, dan ilmu-ilmu lain dari para mahaguru terbaik. Sebagai putra sulung, engkau akan mewarisi tahtaku. Apa lagi yang masih kurang? Katakan pada ayahmu ini."

Duryudana menjawab: "Ayahanda, seperti yang lain, baik yang kaya atau miskin, aku makan dan berpakaian, tapi aku merasa hidupku tidak membahagiakan. Apa gunanya hidup seperti ini?" Dan kemudian ia jelaskan secara rinci rasa iri dan kebencian yang menggembosi gairah hidupnya. Ia menyebut kemakmuran yang ia lihat di ibu kota kerajaan para Pandawa. Ia merasa keberhasilan para Pandawa terasa jauh lebih menyakitkan daripada jika ia kehilangan semua yang telah ia peroleh.

Ia meledak. Katanya: "Sikap puas diri dengan apa yang telah dimiliki bukanlah sifat kesatria. Rasa takut dan rasa kasihan merendahkan martabat seorang raja. Kekayaan dan kesenangan tidak lagi membuatku merasa bahagia setelah melihat Yudhistira semakin kaya. O Ayahanda, Pandawa semakin berkuasa dan makmur sementara kita semakin lemah dan pudar."

Destarata berkata: “Anakku terkasih, engkau adalah putra sulungku. Engkau akan mewarisi kelayakan dan keagungan keluarga kita yang termasyhur. Jangan kau tanam benih kebencian pada Pandawa. Kebencian hanya akan membuahkan kesedihan dan kematian. Apalagi mereka tidak bersalah. Katakan pada ayahmu ini mengapa engkau begitu membenci Yudhistira yang tidak bercela itu? Bukankah kekayaannya adalah kekayaan kita juga? Teman-temannya adalah teman-teman kita juga? Kau dan dia sama-sama perwira dan berasal dari garis keturunan yang sama. Mengapa engkau merasa iri pada saudaramu? Kau tidak boleh mengotori hatimu dengan rasa iri.” Demikian yang dikatakan raja tua itu, yang meskipun terlalu mencintai putranya, tidak jarang secara lugas mengatakan apa yang ia anggap benar.

Duryudana sangat kecewa mendengar nasihat ayahnya. Ia menyahut dengan tidak sopan.

Jawabnya: “Orang yang tidak punya akal sehat, tapi tenggelam dalam samudera ilmu, ibarat sendok kayu yang ditenggelamkan ke dalam masakan yang lezat. Sendok itu tidak akan dapat merasakan kelezatan atau manfaat makanan itu. Ayahanda telah belajar ilmu kenegaraan, tapi sama sekali tidak bijak dalam memerintah. Cara menghadapi dunia hidup sehari-hari dan cara mengurusi urusan kenegaraan adalah dua hal yang berbeda. Seperti yang dikatakan Brihaspati: Meskipun merupakan kewajiban bagi rakyat biasa, menahan diri dan sikap puas diri bukanlah sifat mulia seorang raja. Tugas kesatria adalah terus selalu mencari kemenangan.”

Demikian, Duryudana bicara dengan mengutip ucapan orang-orang yang mumpuni di bidang pemerintahan dan menyebutkan contoh. Ia berusaha membalikkan apa yang tidak baik supaya tampak baik.

Sengkuni menyela, menjelaskan rencana untuk mengundang Yudhistira bermain dadu, mengalahkannya secara telak dan merebut semua yang ia miliki tanpa harus angkat senjata.

Sengkuni mengakhiri pembicaraannya dengan mengatakan: “Paduka Raja cukup mengizinkan kami untuk mengirim utusan guna mengundang Pandawa bermain dadu. Selebihnya serahkan saja pada hamba.”

Duryudana menambahkan: “Jika Ayahanda setujuy, Paman Sengkuni akan merebut kekayaan para Pandawa tanpa harus berperang.”

Destarata berkata: “Nasihatmu kedengarannya tidak pantas. Sebaiknya kita tanyakan soal ini kepada Widura. Ia akan memberikan nasihat yang benar kepada kita.”

Tetapi, Duryudana tidak mau mendengarkan nasihat Widura. Katanya: “Widura hanya akan memberikan nasihat tentang budi pekerti yang membosankan. Ia tidak bisa menolong kita untuk mewujudkan tujuan kita. Kebijakan seorang raja tidak harus sama dengan ajaran-ajaran kitab ilmu pemerintahan yang baik dan bahkan sulit karena ukurannya adalah keberhasilan. Selain itu, Widura tidak suka denganku dan memihak Pandawa. Ayahanda lebih tahu soal itu daripada Ananda.”

Destarata berkata: “Pandawa kuat. Tidaklah bijaksana memusuhi mereka. Permainan dadu hanya akan menyeret kita ke dalam permusuhan. Nafsu serakah yang ditimbulkan permainan ini tidak mengenal batas. Kita tidak boleh melakukannya.”

Tetapi Duryudana terus mendesak: “Seni memimpin kerajaan yang baik terletak pada kemampuan mengenyahkan ketakutan dan melindungi diri dengan kekuatan sendiri. Bukanlah sebaiknya kita lakukan rencana ini mumpung kita masih lebih kuat daripada mereka? Keputusan ini didasarkan pada perhitungan yang jauh ke depan. Kesempatan tidak pernah datang dua klali. Permainan dadu bukanlah siasat buatan kita. Permainan ini sudah dilakukan para kesatria sejak dahulu kala. Dan kalau kita yakin bisa mengalahkan mereka tanpa pertumpahan darah, mengapa tidak?”

Destarata menjawab: “Anakku, aku sudah tua. Lakukanlah apa yang kau ingin lakukan. Tapi, aku tidak merestuinya. Rencana yang kau tawarkan padaku tidak membuatku tertarik. Aku yakin kelak akan menyesal. Semua ini adalah jalannya takdir.”

Pada akhirnya, setelah kalah berdebat, lelah, dan putus asa karena tidak bisa menasihati anaknya supaya tidak melakukan rencana itu, Destarata memberikan persetujuan. Ia memerintahkan para pelayan mempersiapkan balairung untuk permainan dadu. Hati kecilnya menjerit. Dan karena itu, diam-diam ia minta nasihat pada Widura.

Kata Widura: “Tuanku, permainan itu pasti akan menghancurkan bangsa kita, karena hanya akan mengobarkan kebencian yang tidak akan pernah padam.”

Destarata yang tidak dapat menghalangi kemauan anaknya berkata: “Aku tidak akan khawatir, jika nasib berpihak pada kita. Tetapi, sebaliknya jika nasib tidak memihak kita, apa yang harus kita lakukan? Tidak ada yang bisa menentang garis nasib. Pergilah, Widura, atas namaku, undanglah Yudhistira.”

Destarata yang lemah hati, tidak kuasa menasihati anaknya dan akhirnya ia mengalah pada kemauan anaknya. Cinta yang terlalu besar pada anak membuatnya memilih keputusan yang salah. Ia abaikan kenyataan bahwa ia sudah tahu –takdir sedang menenun jalan.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya