Bisma Perlaya
PADANG Kurusetra menyisakan bau amis yang menyebar menyeramkan, kedua kubu mulai merasakan keletihan luar biasa memasuki hari ke 10 Baratayuda. Di Pesanggrahan Bulupitu, Duryudana bersungut-sungut mengomel di hadapan Bisma dan Durna.
Duryudana: Hhhmm...ketiwasan, kita kerajaan besar dengan panglima sesepuh yang disegani. Ternyata cuma jadi mainan kerajaan kecil yang baru tumbuh dengan para murid dan teruna yang mau sungguh-sungguh mencurahkan tenaga, pikiran bahkan nyawanya.
Durna: Ooo ggrroock...groock... Si pandir di tengah huma, apa anak Prabu menyindir aku dan kakang Bisma? (Durna langsung menyela mendengar sindiran tajam di balik keluhan Duryudana)
Duryudana: Ooo Eyang Durna merasa tersindir? Coba Paduka rasakan sendiri, hampir semua ksatria adalah murid Paduka. Tapi, apa yang terjadi, sudah lebih dari 20 saudaraku yang gugur, juga raja-raja sekutu...lihatlah di pihak Pandawa, baru beberapa anak Arjuna yang tewas, ditambah Prabu Drupada dan Resi Seta...huh sungguh tidak sepadan. Saya salut pada Resi Seta, walaupun kesaktiannya sundul langit, dalam peperangan melawan eyang Bisma pun hampir menang...dia total membantu Pandawa sampai dia serahkan nyawanya untuk kemuliaan Pandawa...itu baru namanya dukungan.
Bisma: Hm, jadi itu ukurannya mendukung sampai taruhan nyawa cucu Prabu? Baiklah....akan tiba waktunya aku dan Guru Durna membuktikan padamu, nyawa tua ini tidak berarti apa-apa untuk munculnya kebajikan.
Ucapan Bisma membuat pesanggrahan Bulupitu dilanda kesenyapan. Di ujung lain Kurusetra, Pesanggrahan Randuwatangan, Kresna mulai mengarahkan strategi pada Arjuna dan Drestajumena.
Kresna: Kemenangan kita tidak akan ada artinya, jika Eyang Bisma dan Eyang Durna masih kuat sebagai panglima. Ini sudah memasuki hari ke 10, salah satu di antara mereka harus pralaya hari ini.
Arjuna: Duh Kanda...lalu siapa yang hendak kita pastikan gugur?
Kresna: Arjuna ingat! Singkirkan keraguan di hatimu. Karena keraguan itu bisa menjadi petaka yang memperlambat tindakan, membuat keputusan tidak bulat, dan anak buah tidak terarah. Kalau menurut aku Eyang Bisma harus kita sudahi hari ini.
Drestajumena: Kalau Eyang Bisma, itu tugas ayunda Srikandi yang menjadi titisan Dewi Amba. Sedangkan Durna, serahkan pada saya Kakaprabu. Sudah menjadi tugas utama saya wasiat dari ayahanda Drupada untuk membunuh Durna.
Demikianlah, kesokan harinya dengan didampingi Arjuna, Srikandi menuju medan laga Kurusetra mengendarai kereta perangnya.
Terkejut Bisma melihat Srikandi menuju ke arahnya. Sementara di angkasa sukma Dewi Amba yang pernah disakiti hatinya oleh Bisma telah siap meraga sukma ke tubuh Srikandi, Bisma sadar bahwa lembaran hidupnya akan segera berakhir. Ia berguman: "Amba aku takkan lari dari sumpahmu. Tapi aku sebagai prajurit takkan membiarkan kemenanganmu akan mudah diraih," tegasnya.
Hari itu peperangan antara Srikandi dan Bisma berlangsung dahsyat. Srikandi yang dipandu dan didampingi Arjuna, menggunakan kegesitan dan kelincahannya untuk mengecoh Bisma. Tubuh langsingnya melenting ke sana ke mari sambil menghujani Bisma dengan anak panah. Akhirnya Bisma roboh setelah sebuah panah Srikandi menancap di dadanya yang kemudian disusul panah Arjuna mendorong panah Srikandi bagaikan sebuah paku yang dipalu panah itu tembus ke punggung sang Bisma Agung. Tapi karena badannya penuh dengan panah, maka tubuhnya tidak sampai menyentuh tanah. Ia seolah-olah berkasurkan panah, sedang kepalanya terkulai.
Robohnya Bisma bersamaan dengan Sangkakala tanda berakhirnya perang hari ke 10. Berhamburan keluarga Pandawa dan Kurawa mengelilingi Bisma yang terkulai dengan puluhan anak panah Srikandi menancap di badannya.
Bisma (dengan suara lemah): Panah-panah ini sungguh menjadi kasurku. Terima kasih Srikandi kau sempurnakan hari akhirku sebagai panglima perang. Tapi...kepalaku penat sediakanlah bantal untuk penopang kepalaku.
(Duryudana tergopoh-gopoh memberikan bantal sutra berisi bulu angsa yang mewah. Tapi ditolak Bisma. Dengan cekatan Arjuna melepas sekaligus 3 anak panah yang berdesing dan tepat menyangga kepala Bisma yang terkulai).
Bisma: Nah, beginilah pantasnya bantal seorang prajurit di medan laga. Jangan dipindah aku dari sini. Dewata agung mengijinkanku memilih waktu kematianku. Aku ingin menyaksikan peperangan ini sampai tuntas, barulah aku ikhlas menyusul Amba ke Nirwana. Ooo cucu-cucuku, aku haus...
(Duryudana sigap menyediakan sari buah yang segar di gelas yang mewah. Kembali Bisma menolaknya, kerlingannya ke arah Arjuna, membuat penengah Pandawa itu kembali meluncurkan anak panah tepat di sebelah kanan kepala Bisma. Meluncurlah air yang jernih dari sumbernya tepat di mulut Bisma).
Bisma: Wahai cucuku Duryudana, kepandaian Arjuna menandingi Dewa. Dalam segala hal ia tampak lebih menonjol. Karena itu dia bukan tandinganmu. Lebih baik berdamai, berikanlah sebelah negeri ini kepada Pandawa dan hiduplah rukun bersamanya.
(Duryudana mengeraskan hatinya, dia menolak bujukan Bisma. Baginya harga diri ini telah meminta korban yang teramat banyak. Perang harus berlanjut, jawabannya hanya Kurawa atau Pandawa yang bertahan hidup).
Gelanggang perang Kurusetra yang terhampar luas bagaikan sebuah pentas permainan drama perebutan nyawa. Panggung maut itu tampak menyeramkan dikelilingi hutan tempat setan dan iblis bercokol turut berpesta menonton kisah drama kematian. Mereka tertawa riang, mereka merasa senang melihat darah berceceran, daging berkeping-keping pertanda hancurnya peradaban manusia, nyawa tidak berharga. Dan di ujung Kurusetra, Bisma meregang Nyawa menjadi saksi Baratayuda hingga nyawa putus sesuai waktu yang dipilihnya. Yaitu selesainya Baratayuda.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


