Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pertaruhan

Selasa, 30 Desember 2014

MELIHAT Widura, Yudhistira bertanya dengan perasaan khawatir: "Mengapa engkau tampak berduka? Apakah keluarga di Hastinapura baik-baik saja? Apakah Baginda dan para pangeran sehat?"

Widura menjelaskan maksud kedatangannya: "Semua yang ada di Hastinapura baik-baik saja. Bagaimana keadaan di sini? Aku diutus untuk mengundangmu atas nama Raja Destarata melihat bangunan yang dipersiapkan untuk bermain dadu. Di sana telah didirikan bangunan yang indah seperti yang ada di sini. Raja mengundangmu dan saudara-saudaramu untuk melihat-lihat dan bermain dadu di sana."

Yudhistira tidak langsung menerima undangan itu. Ia minta nasihat Widura: "Permainan pertaruhan menimbulkan pertengkaran di kalangan kesatria. Orang yang bijak sebisa mungkin akan menghindari permainan seperti itu. Kami minta nasihatmu. Apa yang mesti kami lakukan?"

Jawab Widura: "Semua orang tahu permainan dadu adalah sumber semua kejahatan. Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menentang rencana ini. Tetapi, raja bersikukuh untuk mengundangmu bermain. Lakukanlah apa yang kau anggap baik."

Meskipun mendapatkan peringatan halus itu, Yudhistira tetap saja berniat pergi ke Hastinapura bersama saudara-saudaranya.

Bagaimana bisa Yudhistira yang bijaksana mau menerima undangan seperti itu? Ada tiga alasan. Secara sadar manusia memilih jalan menuju kehancurannya ketika membiarkan diri digoda nafsu birahi, judi, dan kebiasaan minum-minum. Sebenarnya, Yudhistira sendiri gemar bermain judi. Menurut tradisi zaman itu, untuk memenuhi etika kesopanan dan kehormatan seorang kesatria tidak boleh menolak undangan untuk bermain dadu. Alasan ketiga: Yudhistira berusaha menepati sumpahnya ketika Begawan Wiyasa memperingatkannya tentang malapetaka yang akan menjelang dalam rentang waktu tiga belas tahun ke depan.

Waktu itu, Yudhistira bersumpah akan menghindari hal-hal yang bisa berujung pada permusuhan. Karena tidak mau membuat orang lain marah atau kecewa, Yudhistira menerima undangan untuk bermain dadu. Ketiga alasan tadi ditambah dengan kegemarannya bermain judi membuat Yudhistira menerima undangan itu dan pergi ke Hastinapura. Pandawa dan rombongan mereka tiba di istana dan langsung dipersilakan beristirahat di bangunan yang telah dipersiapkan. Setelah cukup beristirahat, esok harinya mereka diantar ke arena permainan.

Setelah bertegur sapa sesuai adat, Sengkuni mengumumkan bahwa kain untuk bermain dadu telah dipersiapkan dan ia mengundangnya untuk ikut bermain.

Yudhistira berkata: "Paduka, bermain dadu itu tidak baik. Kemenangan permainan ini tidak ditentukan oleh keperwiraan atau keutamaan, tapi oleh keberuntungan. Resi Asita, Dewala, dan para resi yang lain yang telah mengenal hakikat kehidupan mengatakan judi sebaiknya dihindari karena bisa membuat orang menipu atau berbohong. Mereka juga mengatakan bahwa jalan yang paling pantas bagi kesatria adalah kemenangan dalam pertempuran. Paduka Tuanku pasti sudah tahu hal itu."

Meskipun berkata seperti itu, sebagian diri Yudhistira tidak bisa mengelak dari goda kegemarannya bermain dadu. Di batinnya berkobar perang batin, antara penilaian akal sehat dan nafsu untuk bermain dadu. Dalam pembicaraannya dengan Sengkuni, kita bisa melihat perang batin ini. Sengkuni yang sudah berpengalaman tahu pergolakan batin dalam diri Yudhistira. Ia langsung menohok pada titik kelemahan itu.

Katanya: “Apa yang salah dengan permainan dadu? Bukankah sebenarnya permainan ini adalah perang? Bahkan apa yang dikatakan para ahli kitab Weda? Orang yang pintar akan menang atas orang yang bodoh. Orang yang lebih pintar akan menang dalam setiap hal. Permainan ini hanyalah ujian kekuatan  dan keterampilan. Itu saja. Tidak ada yang salah dengan permaianan ini. Karena hasilnya, orang yang mumpuni pasti akan mengalahkan orang yang masih hijau. Dan itu juga terjadi dalam permainan dadu. Tapi jika takut, engkau tidak perlu bermain. Hanya saja jangan gunakan alasan ajaran moral baik dan buruk sebagai alasan.”

Yudhistira menjawab: “Baiklah, siapa yang akan melawanku?”

Duryudana langsung menjawab: “Aku ingin memenangkan semua taruhanmu, semua harta kekayaan dan kerajaanmu. Paman Sengkuni akan mengocok dadu atas namaku.”

Yudhistira yakin menang melawan Duryudana. Tapi melawan Sengkuni, ini soal lain. Sengkuni memang dikenal sebagai pemain dadu ulung. Ia menjadi ragu dan berkata: “Apakah itu tidak menyalahi adat? Tidak lazim orang bermain atas nama orang lain.”

Jawab Sengkuni sambil mengejek: “Aku tahu engkau hanya mencari alasan.”

Wajah Yudhistira memerah. Sambil menahan marah, ia menjawab, “Baiklah, aku akan bermain.”

Arena permainan itu penuh sesak. Durna, Kripa, Bhisma, Widura, dan Destarata juga hadir di sana. Mereka tahu permainan itu akan berujung malapetaka. Tetapi mereka hanya bisa duduk diam dan gelisah tanpa bisa berbuat apa-apa. Para putra raja menonton permainan itu dengan penuh minat dan semangat.

Mula-mula mereka bertaruh batu permata,kemudian emas, perak, dan kemudian kuda dan kereta. Yudhistira selalu kalah. Tetapi, karena memang sedang bernasib buruk, Yudhistira terus saja bermain. Ia kehilangan semua perhiasan yang ia dan saudara-saudaranya pakai, bahkan juga pakaian yang mereka kenakan. Tetap saja nasib buruk tidak mau beranjak dari Yudhistira, atau lebih tepatnya kelicikan Sengkuni benar-benar telah membuat Yudhistira tidak berdaya.

Sengkuni bertanya: “Apakah masih ada yang ingin kau pertaruhkan?”

Yudhistira menjawab: “Aku pertaruhkan Nakula, saudaraku yang tampan dan berkulit bersih. Ia adalah satu hartaku yang paling berharga.”

Sengkuni bertanya: “Apakah engkau tidak akan menyesal? Kami akan senang sekali memenangkan taruhan ini.” Sambil berkata demikian, ia lemparkan dadu. Angka yang dimunculkan dadu itu persis seperti yang dikatakan Sengkuni.

Para hadirin keheranan. Kata Yudhistira: “Aku pertaruhkan Sadewa. Ia adalah orang yang paling berpengetahuan luas tentang seni. Aku tahu tidak semestinya aku pertaruhkan dirinya, tapi aku lakukan juga. Ayo, teruskan permainan ini.”

Sengkuni melemparkan dadunya dan berkata: “Baiklah, kita teruskan permainan. Dan lihatlah...aku menang lagi!”

Sengkuni yang berhati jahat khawatir Yudhistira akan berhenti bermain. Katanya: “Arjuna dan Bima adalah saudara kandungmu. Engkau pasti lebih menyayangi mereka daripada kedua putra Madri itu. Engkau tidak akan mempertaruhkan mereka bukan?”

Yudhistira telah kehilangan kendali. Ia tersinggung ketika disindir telah tega mempertaruhkan saudara-saudara tiri. Jawabnya: “Hai manusia bodoh, engkau memang sengaja mau memecah belah kami? Bagaimana mungkin kau yang hidup di jalan sesat bisa memahami kami yang hidup berdasarkan kebenaran?”

Lalu lanjutnya: “Aku pertaruhkan Arjuna, pahlawan yang tidak pernah kalah di medan perang. Ayo kita teruskan permainan ini.”

Jawab Sengjkuni: “Baiklah, aku lemparkan dadu.” Lagi-lagi Yudhistira kalah dan harus kehilangan Arjuna.

Terus menerus didera kekalahan membuat Yudhistira gelap mata. Tanpa ia sadari, ia semakin tenggelam dalam tipu daya Sengkuni. Dengan air mata berlinang, ia berkata: “Aku pertaruhkan Bima, saudaraku, panglima tertinggi pasukanku. Para setan pun takut padanya dan tidak ada yang bisa menandingi kekuatannya. Ia tidak pernah mengenal kata menyerah. Aku berikan dia sebagai taruhanku.” Setelah berkata demikian, dia bermain lagi dan dia harus kehilangan Bima.

Sengkuni yang jahat bertanya: “Apakah masih ada yang kau ingin pertaruhkan?”

Jawab Dharmaputra: “Ya, aku sendiri. Jika kau menang, aku akan jadi budakmu.”

“Lihat, aku akan menang lagi.” Demikian, seru Sengkuni sambil melempar dadu dan benar. Ia menang lagi. Setelah itu, Sengkuni berdiri di hadapan hadirin. Ia memanggil nama kelima Pandawa dan mengumumkan dengan lantang bahwa sekarang mereka semua adalah budaknya.

Hadirin hanya bisa terpaku. Mereka tidak kuasa berkata apa-apa. Sambil memandang Yudhistira, ia berkata: “Masih ada satu permata milikmu yang bisa kau pertaruhkan. Siapa tahu kau menang dan bisa membebaskan dirimu. Apakah engkau masih berani melanjutkan permainan dengan mempertaruhkan Drupadi, istrimu?”

Dengan nada putus asa Yudhistira menjawab: “Aku pertaruhkan dia.” Badannya gemetar hebat.

Para hadirin menjadi ribut. Para sesepuh kerajaan tampak tidak setuju. Banyak yang berseru: “Tidak, tidak!” Banyak yang menangis sedih. Banyak yang berkeringat dingin. Mereka merasa kiamat sudah menjelang.

Duryudana dan saudara-saudaranya dan Karna bersorak-sorak. Di kalangan Kurawa, hanya Yuyutsu yang menundukkan kepala. Ia merasa malu sendiri dan sedih bukan alang kepalang. Ia hanya bisa menarik napas panjang. Sengkuni melempar dadu dan sekali lagi berseru. “Aku menang!”

Duryudana langsung menoleh kepada Widura dan berkata: Pergi dan ambillah Drupadi, istri terkasih para Pandawa. Ia harus dibawa ke sini untuk menyapu dan membersihkan istana. Ayo cepat. Bawa dia kemari!”

Widura menjawab: “Apakah kau sudah gila hingga kau menyongsong kehancuranmu sendiri? Kau menggantungkan diri pada benang tipis. Jika tidak hati-hati kau akan jatuh ke dalam jurang tanpa dasar. Apakah kau tidak sadar, kau sedang mabuk di lautan kemenangan yang nantinya justru akan menenggelamkanmu!”

Setelah mengingatkan Duryudana dengan keras, Widura menoleh pada hadirin dan Yudhistira, lalu berkata: “Yudhistira tidak berhak mempertaruhkan Drupadi karena ia sendiri sudah tidak bebas lagi. Ia sudah mempertaruhkan dirinya sendiri. Ia telah kehilangan kebebasan dan haknya. Aku melihat keruntuhan Kurawa sudah dekat. Karena mengabaikan nasihat para sahabat dan tetuanya, anak-anak Destarata kini sedang merintis jalan menuju neraka.”

Mendengar kata-kata Widura, Duryudana sangat marah. Ia berkata pada Prathikami, sais keretanya: “Widura iri melihat kemenangan kita. Ia takut pada Pandawa. Tapi, kau ada di pihak kami. Pergilah dan bawalah Drupadi ke sini.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya