Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Drupadi Dipertaruhkan

Jumat, 2 Januari 2015

PRATHIKAMI segera pergi menjemput Drupadi seperti yang diperintahkan. Katanya kepada Drupadi: "Paduka Permaisuri, Raja Yudhistira kalah dalam permainan dasdu. Ia telah mempertaruhkan semuanya, termasuk diri Paduka. Sekarang, Paduka adalah milik Duryudana. Hamba diperintahkan menjemput Paduka untuk dijadikan pelayan istana ini."

Drupadi, permaisuri maharaja yang baru saja melaksanakan upacara Rajasuya, sangat terkejut dengan pesan yang sangat aneh itu. Ia bertanya: "Prathikami, apa maksud perkataanmu itu? Apakah ada raja yang mempertaruhkan istrinya? Apakah ia sudah tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan?"

Prathikami menjawab: "Paduka raja telah kehilangan semua miliknya. Ia tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan Paduka." Kemudian, ia ceritakan semuanya yang terjadi, bagaimana Yudhistira bisa kehilangan seluruh kekayaan dan akhirnya terpaksa mempertaruhkan istrinya. Ia juga menceritakan bahkan Yudhistira telah mempertaruhkan saudara-saudaranya dan dirinya sendiri.

Meskipun kabar itu sungguh menghancurkan hati dan memadamkan semangat hidup, Drupadi masih tegar. Katanya dengan tegas dan amarah memancar dari kedua matanya: “Wahai sais kereta, kembalilah kepada tuanmu. Tanyakan kepadanya kepada yang bermain dadu apakah ia kehilangan istrinya dulu atau dirinya sendiri. Tanyakan pertanyaan ini kepada hadirin semua; berikan jawabannya padaku dan engkau bisa membawaku pergi.”

Prathikami pergi ke arena permainan dadu. Ia segera bertanya kepada Yudhistira. Ia mengutarakan pertanyaan yang ditanyakan Drupadi. Yudhistira tidak bisa berkata apa-apa.

Kemudian, Duryudana menyuruh Prathikami untuk membawa Drupadi ke arena dan menanyakan sendiri kepada suaminya.

Sekali lagi, Prathikami pergi menghadap Drupadi. Ia menghaturkan sembah dan berkata: “Paduka Permaisuri, Duryudana yang berhati keji mengharapkan Paduka pergi ke arena permainan dan bertanya sendiri kepada suami Paduka.”

Drupadi menjawab: “Tidak, kembalilah dan ajukan pertanyaan itu dan kembalilah dengan jawabannya.”

Prathikami melakukan seperti yang diperintahkan. Ia kembali ke arena permainan dan menghadap Duryudana dan melaporkan bahwa Drupadi tidak bersedia datang.

Mendengar itu, Duryudana marah besar. Ia segera menyuruh saudaranya, Dursasana. Katanya: “Orang ini bodoh dan takut pada Bima. Pergilah dan bawa Drupadi ke sini. Jika perlu, seret dia ke mari!”

Mendapat perintah itu, Dursasana yang berhati busuk segera pergi dengan suka hati. Ia bergegas ke balai peristirahatan Drupadi. Teriaknya: “Ayo, kemarilah. Mengapa harus berlama-lama? Sekarang, kau adalah milik kami. Jangan malu, wanita cantik. Menurutlah karena kau sudah jadi milik kami. Sekarang juga, ayo kita ke arena permainan!” Karena tidak sabar, ia pun memaksa Drupadi.

Panchali berdiri ketakutan. Dengan perasaan sedih bercampur amarah, ia berusaha bersembunyi di kamar permaisuri Raja Destarata. Tetapi, Dursasana mengejar dan menyergapnya. Dengan kasar, ia mencekal rambut Drupadi. Ia seret Drupadi ke arena permainan.

Kita bisa bayangkan betapa buruknya perlakuan Dursasana pada Drupadi. Sesampainya di arena permainan, Drupadi berusaha mengendalikan amarahnya. Katanya pada para tetua yang hadir di sana:

“Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana kalian bisa mendiamkan aku dijadikan taruhan oleh raja. Kalian tahu raja sendiri dijebak dalam permainan ini dan ditipu oleh penjahat yang mumpuni dalam permainan ini. Karena ia sendiri sudah tidak memiliki kebebasan lagi, bagaimana mungkin ia mempertaruhkan orang lain?” Kemudian, setelah melepaskan diri dan berusaha membersihkan matanya yang basah karena air mata, ia berseru dengan suara yang terpatah-patah oleh tangis.

“ Jika kalian menghormati ibu yang melahirkan dan menyusui kalian, jika kalian menghargai kehormatan istri, saudari, atau anak perempuan kalian, jika kalian memang percaya kepada Tuhan dan dharma, jangan biarkan aku dihina seperti ini. Penghinaan ini jauh lebih kejam daripada kematian.”

Mendengar seruan yang menyayat hati itu –seperti anak rusa malang yang sekarat—para sesepuh memegang kepala mereka dengan perasaan sedih dan malu. Bima tidak bisa menahan diri lagi. Hatinya yang tersayat-sayat duka ia lepaskan dengan teriakan menggelegar yang menggetarkan dinding-dinding istana. Ia menoleh kepada Yudhistira. Katanya pahit:

“Penjudi kawakan paling bejat sekalipun tidak akan mempertaruhkan perempuan kotor yang mereka pelihara. Tetapi, lihatlah dirimu. Kau jauh lebih buruk daripada mereka. Kau lemparkan putri Drupada pada bangsat-bangsat tengik itu. Aku tidak bisa lagi membiarkan ketidakadilan ini. Kaulah penyebab kejahatan besar ini. Saudaraku, Sadewa, ambillah api. Aku akan bakar orang-orang yang merencanakan permainan licik ini.”

Arjuna bangkit. Ia berusaha menahan Bima. Katanya: “Sejak semula engkau diam saja. Tipu muslihat yang dirancang musuh-musuh memang dimaksudkan untuk menjebak kita agar ikut berbuat jahat. Jangan biarkan diri kita terseret masuk dalam tipu daya mereka. Tetaplah waspada.”

Dengan susah payah, Bima berusaha meredakan gelegak amarahnya.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya