Duka Cita Drupadi
WIKARNA, salah satu anak Destarata tidak sampai hati melihat penderitaan Panchali. Ia bangkit dan berkata: “Wahai, para kesatria, para pahlawan. Mengapa kalian semua diam saja? Aku tahu, aku hanyalah seorang anak muda yang masih hijau.
Tetapi, karena kalian semua diam saja, terpaksa aku angkat bicara. Dengar baik-baik! Yudhistira telah dibujuk untuk bermain dalam permainan yang telah dirancang masak-masak sebelumnya. Karena itu, ia tidak mungkin menang. Selain itu, Yudhistira mempertaruhkan istrinya, padahal istrinya bukan hanya miliknya seorang. Karena alasan itu saja, pertaruhan menjadi tidak sah. Yudhistira juga telah kehilangan kebebasan dan karena sudah tidak bebas, apakah ia masih memiliki hak untuk mempertaruhkan istrinya? Dan masih ada hal lain yang memberatkan. Sengkunilah yang mengusulkan supaya Drupadi menjadi taruhan. Padahal siapa pun yang bermain tidak bisa meminta taruhan tertentu kepada lawannya. Jika kita pertimbangkan semua keberatan itu, kita harus mengatakan bahwa Drupadi dimenangkan secara tidak sah. Demikian pendapatku.”
Kata-kata Wikarna yang tajam dan berani membuka mata hati hadirin. Mereka bersorak: “Hidup dharma! Hidup dharma!”
Saat itu juga Karna berdiri dan berkata: “Wikarna, engkau lupa. Banyak yang lebih tua darimu hadir di sini. Lancang benar kau. Berani mempertanyakan aturan-aturan. Kelancanganmu mencederai keluarga yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kau ibarat nyala api yang membakar kayu arani dan akhirnya memusnahkan pohonnya sendiri. Ibarat burung, kau rusak sarangmu sendiri. Sejak awal, ketika Yudhistira masih bebas, ia telah mempertaruhkan semua yang ia miliki. Tentu saja ini berarti termasuk Drupadi. Dengan demikian, tidak perlu dikatakan tentang hal ini. Bahkan pakaian yang mereka kenakan sekarang adalah milik Sengkuni. Dursasana, lucuti pakaian Pandawa dan Drupadi. Serahkan semua pada Sengkuni.”
Mendengar kata-kata Karna yang tajam, Pandawa sadar bahwa mereka harus menghadapi cobaan dharma yang paling berat. Mereka tanggalkan semua pakaian mereka. Mereka siap dengan semua konsekuensi untuk mengikuti jalan kehormatan dan kebenaran.
Dursasana segera menuju Drupadi dan bersiap melepaskan pakaian Drupadi dengan paksa. Sadar bahwa tidak mungkin mengharapkan bantuan dari orang-orang yang berada di sekitarnya, Drupadi menguatkan hati untuk memohon pada kuasa Ilahi. “Oh, Dewata Penguasa Alam Semesta, jangan tinggalkan aku dalam penghinaan yang sangat menyakitkan ini. Engkaulah satu-satunya harapanku. Lindungilah aku.” Dan ia pingsan.
Kemudian, ketika Dursasana yang berhati jahat mulai melakukan perbuatan yang sangat memalukan itu, melucuti pakaian Panchali dan mereka yang masih punya hati merasa malu sendiri dan menutup mata, terjadilah keajaiban itu. Setiap kali Dursasana melepaskan satu pakaian yang dikenakan Drupadi, setiap kali pula muncul pakaian baru menutupi tubuhnya. Demikian seterusnya sampai pakaian Drupadi menumpuk seperti gunung. Dursasana pun akhirnya berhenti dan terduduk lemas, kehabisan tenaga. Hadirin gemetar menyaksikan keajaiban itu. Mereka yang masih punya hati menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Dengan bibir gemetar menahan amarah, Bima mengucapkan sumpah yang mengerikan: “Aku tidak akan diterima di antara para nenek moyangku di surga, sebelum kuremukkan dada Dursasana yang penuh dosa dan meminum darah Dursasana yang telah membuat malu wangsa Bharata.”
Tiba-tiba terdengar lolongan srigala, keledai meringkik, dan burung-burung menyanyikan lagu duka. Menandakan akan datangnya malapetaka mengerikan di masa yang akan datang.
Destarata sadar peristiwa ini akan menyebabkan kehancuran keturunannya. Ia segera mengambil keputusan yang berani dan bijaksana. Ia panggil Drupadi ke sisinya dan menghiburnya dengan kata-kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian, ia berpaling pada Yudhistira dan katanya: “Engkau sungguh suci murni hingga tidak punya musuh. Ampunilah kejahatan Duryudana demi keagungan hatimu. Lupakan peristiwa pahit ini. Ambillah kembali kerajaan, kekayaan, dan semua milikmu. Engkau bebas dan bawalah rakyatmu menuju kemakmuran. Pulanglah ke Indraprasta.”
Demikianlah, Pandawa meninggalkan arena terkutuk itu. Mereka tampak kebingungan dan hanya diam saja, melihat keajaiban yang baru saja mereka dengar dari mulut Destarata. Tapi masih ada penderitaan lain yang menjelang mereka.
Setelah Yudhistira dan saudara-saudaranya meninggalkan arena, terjadilah perdebatan panjang dan sengit di istana Kurawa. Karena hasutan Dursasana dan Sengkuni, Duryudana memaki-maki ayahnya yang telah mengacaukan rencana mereka. Ia mengutip kata-kata Brihaspati bahwa apa saja boleh digunakan untuk menghancurkan musuh yang sangat kuat. Ia paparkan kehebatan Pandawa. Katanya satu-satunya harapan untuk mengalahkan mereka adalah dengan tipu daya dan memanfaatkan harga diri dan rasa kehormatan mereka. Tidak ada kesatria terhormat yang akan menolak undangan untuk bermain dadu. Tahu bahwa ayahnya sangat mencintainya, Duryudana meminta persetujuan Destarata untuk mengundang Yudhistira bermain dadu sekali lagi. Dengan hati berat, karena punya firasat buruk, Destarata memberikan persetujuan.
Duryudana segera mengirim utusan untuk menyusul Yudhistira yang belum sampai ke Indraprasta. Atas nama Destarata, utusan itu mengundang untuk kembali ke Hastinapura. Mendengar undangan itu, Yudhistira berkata: “Takdirlah yang menentukan baik dan buruk. Kita tidak bisa menghindar. Jika harus bermain lagi, aku akan jawab ya.”
Memang benar, seperti yang dikatakan Begawan Wiyasa: “Rusa emas itu tidak mungkin ada. Itu tidak mungkin! Tetapi Rama tetap saja berusaha mengejar apa yang tampak seperti rusa emas. Ketika malapetaka akan datang, yang pertama-tama terlupakan adalah pertimbangan nalar.”
Dharmaputra kembali lagi ke Hastinapura dan bersiap bermain lagi melawan Sengkuni, meskipun hadirin sudah berusaha untuk melarangnya. Sepertinya, ia hanya bidak yang digerakkan Batara Kali, Dewi Kemusnahan, untuk meringankan beban dunia.
Yang mereka pertaruhkan adalah yang kalah harus mengasingkan diri di hutan selama dua belas tahun dan hidup menyamar selama setahun penuh. Jika penyamaran terbongkar, mereka harus menjalani dua belas tahun pengasingan lagi. Tidak perlu dikatakan bahwa Yudhistira kalah lagi dan dengan demikian, mereka harus mengasingkan diri ke hutan. Mereka yang menyaksikan menundukkan kepala karena malu.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


