Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Menyoal Perayaan Tahun Baru

Minggu, 4 Januari 2015

SETIAP kali malam pergantian tahun, terjadi euphoria di masyarakat negeri ini yang mengklaim sebagai negeri dengan mayoritas beragama Islam. Benarkah? Sekali lagi Benarkah?

Euphoria bukan hanya terjadi di saat mempersiapkan sebuah acara yang disusun sedemikian rinci agar berlangsung meriah dan menciptakan kesan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Bahkan sebelum puncak malam pergantian tahun, suara petasan sudah terdengar di mana-mana.

Bagi mereka yang memiliki harta kekayaan berlebih, tentunya akan mengakhiri pergantian malam tahun baru dengan pergi terbang berlibur ke luar negeri, bagi yang kurang memiliki banyak waktu akan pergi ke lain pulau atau sekedar menghabiskan malam tahun baru di hotel berbintang dan menyaksikan pegelaran musik dengan harga paket yang tidak murah.

Bagi kelas menengah tidak sedikit yang pergi ke tempat hiburan atau objek wisata. Seperti ke Puncak, Lembang, Pangandaran, Pelabuhanratu dan lainnya dengan bersusahpayah mencapai tujuan karena antrian kendaraan yang mengular. Sementara bagi mereka yang pas-pasan juga tidak mau ketinggalan tuk merasakan euphoria malam pergantian tahun, meski hanya sekedar membakar jagung, meniup terompet, membakar petasan atau kembang api dan bernyanyi bersama dengan iringan gitar. Parahnya lagi, tidak sedikit dari mereka merayakan pergantian tahun dengan makan-makan berlebihan dan bahkan minum-minum beralkohol hingga mabuk
dan tidak bisa pulang ke rumah.

Memang sangat aneh sekali dan kadang saya menyaksikannya di siaran sejumlah stasiun televisi menjadi bingung sendiri, mengapa kita begitu heboh dengan persiapan-persiapan tahun baru Masehi dan semakin menjadi manakala malam pergantian berlangsung? Bukankah malam pergantian tahun baru Masehi merupakan perayaan besar buat mereka yang non muslim? Jadi sangat wajar kalau saya bertanya, benar negeri ini mayoritas beragama Islam? Benarkah? Sekali lagi Benarkah?

Tapi coba perhatikan, seberapa banyak masyarakat (yang katanya beragama Islam) yang merayakan malam pergantian tahun Islam yang jatuh setiap 1 Muharam. Hanya segelintir orang tua dan beberapa anak yang melakukan doa di mesjid, serta puluhan anak lainnya berada di luar mesjid bersiap-siap menggelar Pawai Ta’Aruf dengan membawa obor.

Mari kita telaah ke belakang tentang sejarah, sejak kapan tradisi atau kebiasaan malam pergantian tahun baru dirayakan. Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Sahabat Abdullah bin ’Amr RA memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi IX/234: ”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” Atau hadist lainnya yang berbunyi, “Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. Jelaslah ketika kita ikut serta merayakan tahun baru Masehi, sama artinya kita termasuk ke dalam golongan mereka, na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Tapi mari kita bandingkan dengan manfaat yang dapat kita raih bila kita menyelami dan meresapi pergantian tahun baru Islam yang jatuh setiap tanggal 1 Muharram.

Sebagaimana yang dikutip dari khotbah Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal ST, MSc, Ustadz Pesantren Darush Shalihin di Dusun Warak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta. Diungkapkannya, Tahun Baru Islam 1 Muharram mempunyai arti bulan haram ataupun bulan suci. Selain itu sedikitnya ada dua arti mengapa 4 bulan suci Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan juga Rajab selain Muharram disebut bulan haram.

“Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah menyatakan, ”Dikatakan bulan haram sebab ada dua arti, yaitu: Pada Bulan tersebut diharamkan beragam pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah dimasa Rasulullah SAW pun meyakini demikian.

Pada bulan tersebut larangan untuk melaksanakan perbuatan yang haram lebih ditekankan ketimbang bulan yang lainnya sebab bulan tersebut sangat mulia. Demikian pula ketika itu amatlah baik untuk melaksanakan amalan ketaatan. ”Dikarenakan ketika itu ialah waktu amat baik untuk melaksanakan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf amat suka untuk melaksanakan puasa pada bulan haram tersebut.

Sufyan Ats Tsauri menyatakan, ”Pada bulan-bulan haram, saya amat senang berpuasa di dalamnya.”

Ibnu ’Abbas RA menyatakan, ”Allah SWT mengkhususkan 4 bulan tersebut bulan haram, dianggap selaku bulan suci, melaksanakan maksiat pada bulan tersebut dosanya lebih besar, dan juga amalan sholeh yang dilakukan akan mendapatkan pahala yang amat sangat banyak.

Rasulullah SAW bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”

Bulan Muharram benar-benar sangat istimewa sebab disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan kepada lafazh jalalah Allah. Sebab disandarkannya bulan ini kepada lafazh jalalah Allah, ini-lah yang memperlihatkan keagungan dan juga keistimewaannya.

Perkataan yang amat bagus dari Ustadz As Zamakhsyari, kita nukilkan dari Faidhul Qodir (2/53), Rahimahullah menyatakan, ”Bulan Muharram ini disebut sebagai bulan syahrullah (bulan Allah), disandarkan kepada lafazh jalalah ’Allah’ untuk memperlihatkan mulia dan juga agungnya bulan tersebut, seperti mana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) ataupun ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy.

Oleh karena itu, mari kita isi pergantian tahun (walaupun bukan tahun baru hijriah) dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, muhasabah diri. Menghisab diri, sebelum datang masa kita dihisab yang sebenarnya. Mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan di tahun-tahun yang telah lalu. Kemudian membuat perencanaan yang lebih baik di tahun yang akan datang. Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.* Retno Heriyanto - kisuta.comn


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya