Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Arjuna Merajalela di Kurusetra

Minggu, 4 Januari 2015

SEMILIR angin yang mengiringi rintik hujan di Pesanggrahan Randuwatangan, membawa kesejukan yang terbawa sampai ke paseban. Prabu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Bathara Kresna, terlibat pembicaraan menyimak perang hari ke 11 yang baru saja usai.

Yudistira: Rakanda Prabu, peperangan hari ini mulai menampilkan anak-anak kita, dan saya melihat kemampuan Gatotkaca serta Abimanyu sungguh luar biasa.

Kresna: Benar Yayi, tapi Kanda khawatir dengan strategi yang digelar Pandita Durna. Sebaiknya Yayi Arjuna jangan jauh-jauh menjaga keselamatan Yayi Prabu Yudistira. Kalau soal menggempur formasi lawan biarlah Bima, Setyaki dan Drestajumena tetap jadi andalan kita, dan Yayi Nakula Sadewa, Gatotkaca serta Abimanyu tetap sebagai ksatria pendobrak di sisi kiri dan kanan.

Arjuna: Sendika dawuh Kanda, kemarin hamba juga merasakan betapa segenap kekuatan Kurawa diarahkan merangsek ke pertahanan Kanda Yudistira, namun jangan khawatir Dinda akan curahkan segenap tenagaku untuk mengamankan Kakanda.

Keluarga Pandawa memiliki ketenangan dan kecermatan dalam membaca strategi lawan, dengan dipandu Bathara Kresna sang titisan Wisnu, segala taktik berbalut kecurangan dari pihak Kurawa, seakan mampu mereka bedah dalam kebijaksanaan.

Sangkakala hari ke 12 di bunyikan memekakkan telinga, Durna sang senopati agung Kurawa, segera memerintahkan Prabu Susarma raja Trigatra untuk menyerang Arjuna, karena selama Arjuna bersikukuh mengamankan Yudistira, maka rencana penculikan Yudistira tidak akan pernah berhasil.

Prabu Susarma yang memang dendam pada Arjuna, karena pernah dipermalukan sebagai pecundang saat Arjuna menyamar sebagai Whrehatnala banci pengajar tari pada kisah Wirataparwa, segera menyetujui strategi Durna, Diajaknya 35 putranya untuk mengeroyok Arjuna.

Susarma: Hooiiiii Arjuna, jangan malang kadak, hayoo sini hadapi Susarma yang akan melumatmu menjadi bubur...

Arjuna: (terkekeh ringan) Hem Susarma, bangunlah dari mimpimu..sedangkan dulu saat aku menyamar menjadi Whrehatnala saja, engkau sudah bertekuk lutut, dan sempat aku cengkiwing kuncirmu untuk tunduk menyembah Eyang Matswapati, apalagi sekarang saat jiwa dan ragaku siap sebagai senopati perang...

Susarma: Huuuwiiisss kurang ajar !! ..Bagus rupamu cetek pemahamanmu, dulu aku gegabah tidak hati-hati menyepelekan rupamu yang wandu itu...tapi sekarang, dendamku setinggi langit padamu, dan dendam itu akan melipatgandakan kekuatanku untuk meremukkanmu...

Arjuna: Kasihan engkau Susarma, ketika kau andalkan dendammu untuk mencapai tujuanmu, lihatlah iblis bersorak...dan engkau akan terlibas oleh dendam yang akan menyingkirkan kewaspadaan dan nuranimu....mari aku ladeni tantanganmu..

Ketenangan Arjuna disikapi dengan kemarahan meledak dari Susarma yang merasa Arjuna sombong dan terus meledek dia...pertarungan yang dahsyat terjadi di antara keduanya, ketika tubuh Susarma terpental oleh tamparan Arjuna, ke 35 anak-anaknya segera mengeroyok Arjuna, dengan dibantu Nakula Sadewa, Arjuna menepi mengambil jarak untuk melepaskan panah saktinya Ardhadedali dari Gendewanya yang juga pusaka ampuh pemberian Dewa Baruna...Desing panah bergulung-gulung dengan suara raungan seakan burung raksasa memekak membelah angkasa....panah ini tiba-tiba membelah diri menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan panah bernyala memerah darah....Nakula Sadewa sadar untuk segera menyingkir, mereka gunakan kegesitannya untuk menyingkir dari arah jelajah panah. Akhirnya ratusan bala perajurit Trigatra bersama 35 putra Susarma menjadi korban keganasan Ardhadedali mereka tewas dengan tubuh membiru seakan terbakar panah sakti tersebut.

Susarma menjerit menyaksikan kematian anak-anaknya, bagai banteng ketaton Susarma mencoba mengejar Arjuna, namun dia memang bukan tandingan Arjuna dengan satu sabetan dari pusaka Gandewanya, kepala Susarma pecah di medan laga.

Kematian Susarma dan anak-anaknya makin melemahkan pertahanan Kurawa, Sebelum berakhirnya pertarungan hari ke 12, Durna terus mengarahkan pasukan Kurawa untuk memperkuat pertahanan. Sementara Drestajumena makin bersemangat untuk menyerang dan menjadikan Durna sebagai target utamanya.

Berakhirnya pertarungan hari ke 12 dengan kemenangan telak di pihak Pandawa, makin membuat Duryudana uring-uringan...wajahnya merah padam, tangannya terkepal.

Duryudana: Eyang Durna, bagaimana ini ?....Sungguh saya kecewa dengan hasil perang hari ini...besok, saya minta salah satu keluarga Pandawa atau keturunannya harus jadi tumbal...buktikan kesaktian Eyang dengan kematian mereka.

Durna: Jagad Dewa Bathara, anak prabu....tidak perlu ragu dengan kesungguhan dan kesaktian Eyang...sadarlah ada hal lain di luar kesaktian itu sendiri yang menjadi penyebab kekalahan ini...

Duryudana: Halah..jangan buat alasan lagi...buktikan saja besok...saya mau giliran Pandawa yang harus meratapi kehilangan keluarganya di Kurusetra.

Duryudana membanting gelas minuman di tangannya dan segera masuk ke peraduannya dengan amarah menggelegak.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya