Kekhawatiran Destarata
KETIKA para Pandawa berangkat menuju pengasingan di hutan, rakyat merasa sangat sedih. Sambil meratap mereka menyaksikan kepergian para Pandawa di pinggir-pinggir jalan, di atas pohon, dan atap-atap rumah. Para pangeran yang dulu biasa naik kereta kuda yang mewah atau gajah sekarang berjalan dengan kaki telanjang. Rakyat yang menyaksikan menangis. Mereka berseru: "Apakah para Dewata menyaksikan dari kahyangan?"
Destarata mengutus Widura untuk menyaksikan kepergian mereka ke pengasingan. Jawab Widura: "Yudhistira, putra Kunti, berjalan dengan wajah ditutupi kain. Di belakangnya, Bima berjalan dengan kepala tertunduk. Arjuna berjalan paling depan sambil menaburkan pasir di sepanjang jalan. Nakula dan Sadewa melumuri badan mereka dengan debu. Mereka berjalan di belakang Yudhistira. Ia biarkan rambutnya terurai menutupi wajah dan air matanya. Resi Dhaumya mengiringi kepergian mereka dengan mengidungkan madah suci Sama, yang ditujukan kepada Batara Yama, Dewa Kematian."
Mendengar cerita Widura, Destarata semakin sedih dan khawatir. Ia bertanya lagi: "Bagaimana tanggapan rakyat?"
Jawab Widura: "Tuanku, aku akan ulangi kata-kata yang mereka ucapkan. Mereka berasal dari semua lapisan dan golongan masyarakat; 'Para pemimpin telah meninggalkan kita. Terkutuklah tetua bangsa Kuru yang membiarkan ketidakadilan ini terjadi! Destarata dan anak-anaknya yang pendengki telah mengusir anak-anak Pandu ke hutan!' Sewaktu rakyat menyalahkan kita, langit menjadi gelap, petir menyambar-nyambar, dan bumi berguncang. Dan masih ada pertanda buruk yang lain."
Ketka Destarata sedang berbincang dengan Widura, tiba-tiba muncullah Batara Narada di depan mereka. Sabdanya kepada mereka: “Empat belas tahun terhitung mulai dari hari ini, bangsa Kurawa akan musnah akibat perbuatan jahat Duryudana.” Setelah bersabda demikian Batara Narada lenyap.
Duryudana dan saudara-saudaranya menjadi cemas. Mereka menghadap Durna. Mereka memohon supaya Durna tidak meninggalkan mereka apa pun yang terjadi.
Dengan sedih, Durna menjawab: “Aku percaya pada para bijaksana yang mengatakan bahwa Pandawa berasal dari keturunan suci dan tidak mungkin dikalahkan. Tetapi, kewajibanku adalah bertempur di pihak putra-putra Destarata yang mengandalkanku dan memberiku makan. Tapi, kekuatan takdir amat kuat. Para Pandawa pasti akan kembali dari pengasingan. Hati mereka pasti terbakar oleh amarah. Aku bisa membayangkan amarah mereka karena aku menumbangkan dan mempermalukan Drupada disebabkan marahku kepadanya. Karena dendamnya padaku, ia melakukan upacara korban agar dianugerahi seorang anak yang kelak akan membunuhku. Kabarnya anak itu diberi nama Dristadyumna. Seperti telah ditakdirkan, ia sekarang menjadi ipar dan sekutu terpercaya Pandawa. Sepertinya semua bergerak sesuai yang telah digariskan. Perbuatan-perbuatan kalian pun mengarah pada takdir itu. Kalian sekarang tinggal menunggu waktu. Jangan buang-buang waktu. Segeralah berbuat kebajikan, lakukan upacara korban. Jangan melakukan kesenangan yang tercela. Berikan sedekah pada mereka yang membutuhkan. Pembalasan keadilan akan datang padamu pada tahun keempat belas. Duryudana, berdamailah dengan Yudhistira –ini nasihatku untukmu—tapi, engkau pasti hanya akan melakukan apa yang kau suka.”
Duryudana sama sekali tidak senang dengan nasihat yang diberikan Durna.
Sanjaya bertanya kepada Destarata: “Tuanku Raja, mengapa Paduka berduka?”
Raja yang buta itu menjawab: “Bagaimana aku tidak berduka melihat hati Pandawa dilukai?”
Kata Sanjaya: “Apa yang Paduka katakan benar. Orang yang melawan takdir pasti akan tersesat, kehilangan pengetahuan tentang yang baik dan buruk. Waktu akan meluluhlantakan semua hal, tidak butuh gada untuk memecahkan kepala. Waktu akan meluluhlantakkan pengetahuan baik dan buruk, membuat orang bertindak gila, dan mengundang kehancurannya sendiri. Dengan cara yang sangat keterlaluan, putra-putra Paduka menghina Panchali. Itu akan membuka jalan bagi mereka sendiri untuk menuju kehancuran.”
Kata Destarata: “Aku tidak mengikuti jalan dharma dan pemerintahan yang baik. Aku membiarkan diri dibawa ke jalan yang salah oleh anakku yang bodoh. Benar, seperti yang kau katakan kita sedang berlari menyongsong jurang kehancuran.”
Biasanya Widura menyampaikan nasihatnya pada Destarata secara terang-terangan. Ia sering berkata: “Putra-putra Paduka telah melakukan kesalahan besar, menipu Dharmaputra. Bukankah itu tugas Paduka untuk membawa kembali ke jalan yang benar dan menjauhkan mereka dari jalan kejahatan. Sebaiknya Paduka segera memerintahkan supaya Indraprasta dikembalikan kepada Pandawa. Paduka sebaiknya memanggil kembali Yudhistira dari pengasingan di hutan dan berdamai dengan mereka. Pendek kata, harus ada yang menghentikan Duryudana, jika perlu gunakan kekerasan.”
Semula Destarata diam saja dan mendengarkan kata-kata Widura. Dengan hati pedih, ia mengakui yang dikatakan Widura. Ia tahu Widura jauh lebih bijaksana daripada dirinya. Tetapi lama kelamaan, kesabarannya habis ketika mendengarkan khotbah yang sama diulang-ulang.
Suatu hari, Destarata tidak bisa lagi menahan diri. Katanya dengan keras: “Widura, kau selalu memihak Pandawa dan menyalahkan putra-putraku. Kau tidak pernah menghargai kebaikan kami. Duryudana adalah darah dagingku. Bagaimana aku meninggalkannya? Apa perlunya kau selalu menasihatiku untuk membenci putra-putraku? Sudah habis kepercayaanku kepadamu. Aku tidak butuh kau lagi. Kau boleh pergi pada para Pandawa, jika itu maumu.” Kemudian, ia berdiri meninggalkan Widura sendiri dan masuk ke kamar peristirahatannya.
Widura sangat sedih. Ia bisa merasakan kehancuran wangsa Kuru sudah menjelang. Setelah mendengar hardikan Destarata, ia segera bergegas keluar dari istana. Cepat-cepat ia pacu keretanya ke hutan di mana para Pandawa tinggal.
Hati Destarata sangat gundah. Ia duduk terpekur sendiri: “Apa yang telah aku lakukan? Aku justru menambah kekuatan Pandawa dengan mengusir Widura yang bijaksana.” Setelah duduk termenung, ia mengutus Sanjaya untuk menyampaikan penyesalannya atas kata-kata yang tidak semestinya dan memintanya untuk kembali.
Sanjaya yang berangkat ke pertapaan tempat tinggal para Pandawa. Saat itu, para Pandawa mengenakan pakaian dari kulit rusa. Mereka sedang dikelilingi para resi dan pendeta. Widura juga ada di sana. Ia sampaikan pesan Destarata. Ia tambahkan bahwa raja buta itu akan mati merana jika Widura tidak berkenan kembali.
Widura yang berhati lembut dan merupakan penjelmaan darma terharu. Ia bersedia kembali ke Hastinapura.
Sesampainya di istana, Destarata memeluk erat Widura. Air mata dan kasih sayang menghapus perselisihan di antara mereka.
Suatu hari Resi Maitreya datang ke istana Raja Destarata. Ia disambut dengan penghormatan. Destarata yang sangat mengharapkan restunya. Tanyanya: “Resi pasti telah berjumpa dengan putra-putraku terkasih, Pandawa di Kurujanggala. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah keluarga kami masih bisa saling mengasihi?”
Jawabnya: “Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Yudhistira di hutan Kamyaka. Para resi yang bertapa di hutan itu berdatangan mengunjunginya. Dari sana aku tahu apa yang terjadi di Hastinapura. Aku tidak habis pikir bagaimana semua itu bisa terjadi di hadapan Tuanku dan Bhisma?”
Kemudian, Resi Maitreya juga bertemu dengan Duryudana. Demi kebaikan Duryudana sendiri, ia menasihati Duryudana untuk menghindari permusuhan dan menjalin perdamaian dengan Pandawa. Selain kuat, mereka mendapat dukungan Krhisna dan Drupada.
Duryudana yang keras kepala dan bodoh hanya tertawa dan menepuk-nepuk pahanya dengan sikap mencemooh. Ia menghentakkan kakinya di tanah dan pergi begitu saja.
Maitreya menjadi berang. Sambil memandang Duryudana, ia berkata: “Apakah engkau memang sangat sombong dan menyepelekan orang yang mengharapkan kebaikan untukmu dengan menepuk-nepuk paha? Bima dengan gadanya akan meremukkan kedua pahamu. Kau akan mati di medan perang.” Mendengar kutukan itu, Destarata terperanjat. Ia segera menjatuhkan diri di kaki resi itu, memohon ampunan untuk putranya.
Maitreya berkata: “Kutukanku akan batal jika anakmu mau berdamai dengan Pandawa. Jika tidak, kutukan itu akan terjadi.” Kemudian, dengan hati marah, resi itu meninggalkan istana.
Mahabharata adalah kisah kuno tetapi sifat manusia tetap sama. Bahkan di zaman sekarang, amarah dan kebencian bisa mengantarkan manusia pada penderitaan dan kehancuran, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau kondisi. Ketika hati panas karena amarah, membaca bab ini dan merenungkannya, akan banyak membantu kita untuk menjadi bijaksana dan menghindarkan kita dari perbuatan bodoh dan jahat.* C Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


