Sumpah Krishna
SALWA sangat marah ketika mendengar berita tewasnya Sisupala oleh Krishna. Ia segera mengepung Dwaraka dengan pasukan yang sangat kuat. Waktu itu, Krishna belum kembali ke Dwaraka. Urusan sehari-hari kerajaan diserahkan kepada Ugrasena. Pengepungan yang digambarkan dalam Mahabharata sangat mirip dengan pengepungan dalam perang-perang zaman ini.
Dwaraka dikelilingi benteng yang sangat kuat dan didirikan di sebuah pulau yang dilengkapi dengan persediaan senjata yang sangat lengkap. Di dalamnya didirikan barak-barak dan gudang-gudang senjata dan persediaan pangan dalam jumlah yang melimpah. Pasukan Dwaraka sangat banyak dan dipimpin oleh para perwira yang cakap.
Ugrasena mengumumkan keadaan perang. Dalam keadaan dikepung itu, Ugrasena menganjurkan rakyat untuk tidak melakukan pesta. Semua jalan masuk ke kota dipasangi batang-batang pohon berduri. Orang-orang yang keluar masuk kota diperiksa dengan ketat tanpa kecuali. Parit-parit yang mengelilingi benteng ditanami paku-paku besi besar. Semua peraturang ditegakkan dengan tegas untuk memperkuat kota yang karena alamnya sebenarnya sudah sulit ditaklukkan. Gaji pasukan ditambah. Para relawan yang akan membela kerajaan diuji dengan ketat sebelum diterima sebagai anggota pasukan.
Tetapi serangan pasukan Salwa sangat hebat hingga kota Dwaraka banyak mengalami kerusakan. Ketika kembali, Krishna mendapati ibu kotanya telah dihancurkan bala tentara Salwa. Ia segera menyerukan untuk memperkuat benteng, menyerang balik dan mengalahkan bala tentara Salwa. Ketika itulah Krishna mendengar untuk pertama kali peristiwa yang menimpa para Pandawa di Hastinapura. Karena kalah dalam permainan dadu, Pandawa harus menjalani hidup dalam pengasingan di hutan. Segera ia bersiap pergi ke hutan tempat para Pandawa tinggal.
Banyak yang turut pergi bersama Krishna, antara lain pemuka suku Bhoja dan Wrisni, Dritaketu –Raja Chedi—dan Kekaya yang semuanya merupakan sahabat para Pandawa.
Mereka amat marah ketika mendengar kejahatan Duryudana. Saking marahnya, mereka berkata bahwa bumi akan meminum darah manusia-manusia jahat seperti Duryudana. Drupadi mendekati Krishna dan dengan suara yang terputus-putus karena tangis, ia menceritakan penghinaan yang ia alami.
Katanya: “Aku diseret ke arena permainan, ketika aku hanya mengenakan selembar pakaian. Anak-anak Destarata menghinaku dengan sangat keji. Mereka pikir aku mau menjadi budak mereka. Aku diperlakukan seperti aku ini dayang mereka. Yang lebih menyakitkan hati adalah sikap Bhisma dan Destarata yang seolah-olah lupa asal-usul kelahiranku dan tali keluarga di antara kami. O, Janardhana, bahkan suami-suamiku tidak melindungiku dari ejekan dan penghinaan yang cabul para bangsat itu. Kekuatan raga Bima yang perkasa dan gandewa Arjuna yang sakti tidak ada artinya sama sekali. Melihat penghinaan yang sedemikian keji dan merendahkan, orang yang paling lemah sekalipun akan menemukan kekuatan dan keberanian untuk melawan. Para Pandawa adalah para pahlawan yang termasyhur tapi mereka tidak berbuat apa-apa. Aku, putri Raja Drupada...rambutku dicengkram dan diseret ke arena permainan. Aku, istri lima pahlawan Pandawa, dihina serendah-rendahnya, bahkan engkau sendiri meninggalkanku sendiri.”
Ia berdiri gemetaran tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya karena amarah dan sakit hati yang tak tertanggungkan.
Krishna sangat terharu. Ia berusaha menghibur Drupadi yang menangis tersedu-sedu. Katanya: “Mereka yang telah mempermalukanmu akan binasa dalam perang besar yang penuh dengan pertumpahan darah. Hapuslah air matamu. Aku berjanji semua penghinaan yang kau alami akan dibalas setimpal. Aku akan menolong Pandawa dalam segala hal. Kau akan kembali menjadi permaisuri maharaja. Langit boleh runtuh, Gunung Himalaya boleh terbelah, bumi boleh hancur lebur, dan samudera boleh mengering, tetapi aku akan tetap memegang teguh kata-kataku. Aku bersumpah.”
Demikian sumpah Krishna di hadapan Drupadi. Sumpah ini, akan terbukti, seperti yang dinyatakan dalam kitab-kitab suci sesuai dengan janji Hyang Widhi: Aku akan lahir di dunia dari abad ke abad, untuk melindungi kebenaran, menghancurkan kejahatan, dan menegakkan hukum.
Dristadyumna juga menghibur Drupadi. Katanya para Kurawa pasti akan merasakan pembalasan yang setimpal. Katanya: “Aku akan membunuh Durna, Srikandi akan menewaskan Bhisma, Bima akan menghabisi si jahat Duryudana, dan Arjuna akan menamatkan Karna, anak sais kereta kuda itu!”
Kata Krishna: “Ketika peristiwa sedih ini terjadi, aku sedang berada di Dwaraka. Andai aku ada di sana, aku pasti tidak akan membiarkan permainan dadu yang penuh kecurangan itu terjadi. Walaupun tidak diundang, aku pasti akan datang dan mengingatkan Durna, Kripa, dan para kesatria tua lain tentang tugas suci mereka. Apa pun caranya, aku pasti mencegah permainan dadu itu.
Ketika Sengkuni memperdayakan kalian, aku sedang bertempur melawan Raja Salwa yang mengepung kotaku. Aku baru mendengar kabar sedih ini setelah aku mengalahkan Raja Salwa. Aku sangat sedih tidak bisa menghapuskan kesedihanmu saat ini juga, tapi ibarat memperbaiki bendungan, tidak bisa langsung selesai, pasti ada air yang merembes.”
Kemudian Krishna pamit dan kembali ke Dwaraka bersama dengan Subadra, istri Arjuna dan anak mereka Abimanyu. Dristadyumna kembali ke Panchala bersama anak-anak Drupadi.* C Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


