Abimanyu Gugur
RAUT muka Arjuna kelihatan muram saat pulang dari Kurusetra, dilihatnya wajah Sumbadra sembab, airmata masih menggenang di ujung matanya.
Arjuna: Mbone Thole, apa yang membuatmu berduka, tidak biasanya kamu sambut aku dengan wajah yang lara seperti ini.
Sumbadra: (pecah sedu sedan di dadanya) Bapakne Thole...engkau tahu, tidak ada peristiwa yang bisa membuatku lepas waspa, saat kau khianati aku, atau saat sepi menyergapku, aku masih memegang teguh kautaman seorang putri, untuk madep mantep percaya pada keadilanNya, tapi...ini...(menangis sendu)
Arjuna: (meraih lembut pundak istrinya, dan membiarkan muka sang Dewi tersedu di dadanya)..Oo Sumbadra, engkaulah kekasih hatiku, ragaku yang nakal, tidak akan berdaya ketika mengingat keluhuran budimu. Bahkan Supraba ratu bidadaripun tak mampu menahan lama tubuh dan jiwaku bersamanya, karena bayanganmu adalah cinta sejatiku...katakan wahai belahan jiwaku, apa yang membuatmu begitu sedih...
Sumbadra: Bapakne Thole..semalam aku bermimpi, awan hitam bergulung-gulung menutupi raga anak kita Abimanyu, tidak ada yang mampu mengeluarkan Abimanyu dari awan itu, dan ketika angin memecah awan...aa..aa..nak..ku...Ooouhgh...anakku bersimbah darah perlaya dengan tubuh arang kranjang....(menangis tersedu)...jangan biarkan anakku maju ke medan perang hari ini suamiku...firasatku tajam sekali...
Arjuna tercenung mendengar ratapan istrinya, segera disampaikannya firasat Sumbadra ini pada Sri Kresna. Atas kesepakatan keluarga, hari itu Abimanyu disengker (disembunyikan) di Glagah Pinutu, pesanggrahan pengintai di pinggir Kurusetra, dengan dijaga Srikandi dan Setyaki.
Tabuh perang dan Sangkakala hari ke 13 berbunyi memekakkan telinga, pasukan Kurawa di bawah komando Durna berderap memasuki medan Kurusetra dengan formasi Cakrawyuha, Durna menginstruksikan bahwa hari ini harus ada darah asli Pandawa yang tumpah, oleh karena itu, siapapun ksatria yang bisa dijepit dengan formasi Cakrawyuha, semua harus kompak mengikuti perintahnya. Jayadrata diperintahkannya untuk waspada sebagai senopati penjepit.
Di pihak Pandawa, Drestajumena menggelar formasi Candrawyuha (bulan sabit), dengan Arjuna dan Bima di ujung-ujung sabitnya.
Peperangan berlangsung seru dan seimbang. Desing senjata, dan pekik heroik menggema di kedua belah pihak.
Di Glagah Pinutu, Abimanyu gelisah mendengar hiruk pikuk peperangan. Matanya tajam menatap binatang undur-undur di bawah pembaringannya..jiwa ksatrianya bangkit...mengapa takut mati? Firasat ibunya tidak akan menjadi halangan untuk dharma baktinya..angannya menerawang, istrinya Utari sedang hamil tua, dia ingin anaknya mendengar betapa perkasanya sang Ayah, nanar matanya membayangkan sebutan pengecut akan tersandang, jika dia menghindar dari kesulitan yang menghadangnya. Abimanyu bangkit, seperti undur-undur, dia mengendap berjalan mundur, lolos dari pengawasan Srikandi dan Setyaki....sang Putra Parta, mantap membawa gendewa dan anak panahnya, menggunakan baju zirahnya menyerbu ke medan laga.
Dalam formasi bulan sabit, pasukan Pandawa mulai keteter di bagian tengah yang di komandoi oleh Drestajumena, tiba-tiba saat mereka mulai terdesak datang ksatria muda berkuda yang menebar panah dan menyabetkan gendewanya bagai petir yang memporak porandakan pasukan Kurawa. Antara lega mendapat bantuan dan terkejut, Drestajumena makin khawatir ketika melihat ksatria muda yang perkasa itu adalah Abimanyu, segera diarahkannya keretanya untuk mendampingi pangeran muda itu.
Melihat kenekadan Abimanyu menerobos Cakrawyuha, Bagawan Durna memutuskan strategi yaitu Pasukan Pandawa harus dipancing dipecah menjadi 3 bagian, Arjuna dipancing musuhnya keluar dari Tegal Kurusetra lari ke arah pantai, Werkudara dipancing musuhnya lari ke selatan ke arah pegunungan. Tinggal Abimanyu sendiri ditinggal di Tegal Kurusetra. Pasukan Kurawa menggunakan gelar perang “tepung gelang”. Abimanyu yang seorang diri dipancing untuk masuk ke perangkap yang dirancang Bagawan Durna. Saat Drestajumena hendak mendekati Abimanyu untuk menariknya keluar dari Cakrawyuha, Jayadrata sebagai ksatria penjepit segera menghalanginya, dan menutup formasi Cakrawyuha sehingga Abimanyu terjepit di tengah-tengah.
Bagawan Durna memberi aba-aba satu..,dua…,tigaaaa….,semua prajurit melepaskan anak panah ke arah Abimanyu yang berada di tengah-tengah. Abimanyu terkena panah dari segala arah. Seluruh tubuh Abimanyu sudah tidak ada bagian yang tidak terkena anak panah. Darah mengalir membasahi tubuh Abimanyu. Menurut kisah busur panah yang digunakan prajurit Kurawa sengaja dibuat dari kayu “sempu”, kayu tersebut yang menyaksikan ketika Abimanyu bersumpah kepada Dewi Tari (Abimanyu pernah bersumpah masih jejaka ketika hendak melamar Dewi Utari, padahal sebenarnya sudah beristri Siti Sendari yang mandul, putri Sri Kresna, dalam sumpahnya Abimanyu mengatakan rela mati arang kranjang kalau berbohong tentang statusnya)
Abimanyu tidak dapat roboh meskipun terkena ribuan anak panah karena tubuhnya ditopang oleh ribuan anak panah yang tertancap di badannya. Prajurit Kurawa segera mendekat karena mengira Abimanyu sudah mati berdiri. Tidak ketinggalan putera mahkota Kurawa Pangeran Lesmana Mandrakumara ikut mendekat melihat dari dekat Abimanyu yang sudah tidak berujud manusia tersebut. Dengan kata-kata yang penuh kesombongan dan menyakitkan Lesmana Mandrakumara menantang Abimanyu "Hei Putra Parta, cuma sebegitu kesaktianmu..heheheh...kalau kamu mati biarlah istrimu yang mandul Siti Sendari dan istrimu si cantik Utari yang lagi hamil tua, aku boyong ke Hastinapura menemani hari-hari sepiku...hwahahahah."
Mendengar kata-kata Lesmana Mandrakumara hati Abimanyu menjadi marah karena ada kata-kata akan merebut istri yang ia cintai, istri yang menyebabkan ia rela mengorbankan segalanya. Seperti ada kekuatan yang datang, tiba-tiba Abimanyu menebaskan pedang yang masih ia gengam sebelumnya tepat mengenai leher Lesmana Mandrakumara, seketika ia roboh bersimbah darah. Lesmana Mandrakumara tewas seketika. Mengetahui putra mahkota menjadi korban, Jayadrata sang paman menghujamkan tombak ke arah dada Abimanyu. Abimanyu roboh seketika ia pun tewas.
Gugurnya Abimanyu menggenapi sumpahnya yang serampangan, sekaligus menjadi bukti penentu bagi Durna sebagai senopati Kurawa atas permintaan Duryudana, walaupun untuk itu Kurawapun kehilangan putra mahkotanya Lesmana Mandrakumara.
Perang hari ke 13 menyisakan duka yang mendalam di kedua belah pihak, Sumbadra dan para putri terus meratapi kepergian ksatria muda perkasa dengan cara yang mengenaskan. Arjuna mengepalkan tangannya, badannya bergetar menahan dendam dan amarah, tiba-tiba terdengar teriakannya lantang : "Jagad Dewa Bathara, sudah aku coba menyelamatkan anakku dengan dayaku...namun..kuasaMu Ooo Hyang Widi Wasa telah mengantarkan tunas muda buah kasihku mendahuluiku di keabadian sukma...baik...baiklah...aku terima lelakon ini...tapi, aku tidak bisa membiarkan kecurangan dan kelicikan menjadi penyebab gugurnya anakku. Dengarlah....sebelum sangkakala petang berakhir besok pada hari ke 14, aku akan membunuh Jayadrata pembunuh anakku...jika aku gagal menetapi sumpahku, aku akan mati obong mengantarkan buah hatiku."
Petir menyambar, geledek gemuruh bersahut-sahutan, sumpah Arjuna seakan direstui langit dan bumi....mata-mata Kurawa segera menyampaikan hal ini pada Bagawan Durna. Sri Kresna mengernyitkan dahinya mendengar sumpah Arjuna, dia memaklumi perasaan iparnya, namun sebagai penasehat perang Pandawa, Sri Kresna merasa perlu menyusun strategi untuk membantu terlaksananya sumpah Arjuna itu.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


