Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pasopati

Sabtu, 10 Januari 2015

PADA awal masa pengasingan mereka di hutan, Bima dan Drupadi sering berdebat dengan Yudhistira, Kata Bima pada Yudhistira, amarah yang didasari kebenaran itu tidak salah bagi seorang kesatria. Seorang kesatria tidak sepantasnya pasrah begitu saja menanggung penderitaan dan penghinaan.

Mereka berdebat sedngit dengan mengutip pendapat para arif bijaksana untuk membenarkan pendapat mereka. Dengan tegas, Yudhistira menjawab bahwa seorang kesatria haruslah teguh memegang janji dan kesabaran dalam menanggung penderitaan merupakan kebajikan paling mulia. Bima tidak sabar ingin segera menyerang dan membunuh Duryudana. Ia ingin segera merebut kerajaan. Menurutnya, bukan sifat seorang kesatria terus-menerus tinggal di hutan, tanpa berperang.

Kata Bima pada Yudhistira: "Engkau bicara seperti orang yang mengidungkan mantra dan sudah puas hanya dengan mendengarkan kidunganmu sendiri, meskipun sebenarnya tidak tahu artinya. Pikiranmu tidak lagi lurus. Engkau dilahirkan sebagai kesatria tapi pikiran dan tingkah lakumu tidak seperti kesatria. Perilakumu sudah seperti brahmana. Seharusnya engkau tahu, dalam kitab-kitab suci tertulis bahwa seorang kesatria harus teguh hati dan ulet. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak Destarata berbuat curang seenaknya. Sia-sialah dilahirkan sebagai kesatria, jika kita tidak bisa menundukkan musuh yang licik. Itu pendapatku dan menurutku, seandainya kita harus masuk neraka karena menghabiskan musuh yang jahat dan licik, neraka itu akan serasa surga bagiku.

"Kesabaranmu menanggung derita ini membuat hati kami panas. Aku dan Arjuna sulit menerima ini semua. Hati kami berontak hingga kami sulit memejamkan mata. Bangsat-bangsat itu telah merampas kerajaan kita dengan licik. Kini mereka bergelimang kekayaan dan pesta pora. Sementara itu, engkau di sini diam saja sepertiular sanca yang kekenyangan. Katamu kita harus menepati janji kita. Bagaimana mungkin Arjuna yang masyhur hidup tanpa dikenali orang? Bagaimana mungkin Gunung Himalaya yang menjulang tinggi disembunyikan dengan segenggam rumput. Bagaimana mungkin Arjuna, Nakula, dan Sadewa yang berhati singa disuruh bersembunyi? Apakah mungkin Drupadi yang sedemikian terkenal berjalan tanpa dikenali orang?

“Bahkan jika kita lakukan hal yang mustahil itu, kaki tangan anak-anak Destarata akan menemukan kita. Oleh karena itu, sumpah kita itu mustahil untuk dilaksanakan. Semua itu hanya alasan untuk mengusir kita selama tiga belas tahun lagi. Kitab-kitab suci membenarkan kata-kataku dengan mengatakan bahwa janji yang didasarkan kecurangan bukanlah janji. Engakau harus putuskan untuk menggempur musuh sekarang juga! Bagi seorang kesatria, itulah kewajiban yang paling mulia.”

Tanpa jemu, Bima terus mendesakkan pandangannya. Drupadi juga sering mengingatkan Yudhistira betapa ia telah dijamah oleh tangan-tangan kotor Duryudana, Dursasana, dan Karna. Dengan mengutip nukilan-nukilan kitab-kitab suci, kadang ia memanas-manasi Yudhistira. Yudhistira menjawab dengan menggunakan ungkapan-ungkapan politik pemerintahan kuno dan membeberkan perhitungan kekuatan lawan.

Katanya: “Musuh-musuh kita memiliki sekutu yang kuat pada diri Burisrawa, Bhisma, Durna, Karna, dan Aswatama. Duryudana dan saudara-saudaranya adalah orang yang mumpuni dalam ilmu perang. Banyak raja, baik yang besar maupun yang kecil, kini berada di pihak mereka. Memang, Bhisma dan Durna tidak suka dengan sikap Duryudana, tapi mereka pasti tidak akan meninggalkannya. Mereka pasti bersedia mempertaruhkan nyawa untuk kubu Kurawa. Karna adalah petarung yang berani dan mumpuni. Ia sangat mahir menggunakan senjata. Perang tidak bisa diramalkan dan kemenangan belum tentu bisa diraih. Tidak ada gunanya tergesa-gesa.” Dengan susah payah, Yudhistira berusaha menenangkan hati saudara-saudaranya.

Atas nasihat Begawan Wiyasa, Arjuna pergi ke Gunung Himalaya untuk bertapa, mohon agar dikaruniai senjata-senjata baru oleh para dewata. Ia minta diri pada saudara-saudaranya dan Panchali. Kata Panchali: “Dananjaya, semoga engkau berhasil menjalankan tugasmu. Semoga Dewata memberimu semua yang diidam-idamkan ibumu, Dewi Kunti, sejak dulu. Kebahagiaan, kehormatan, dan kemakmuran kita semua tergantung padamu. Kembalilah setelah berhasil mendapatkan senjata-senjata baru.” Demikian, Panchali mengantarkan Arjuna dengan kata-kata yang membesarkan hati.

Meskipunkata-kata itu keluar dari mulut Drupadi, istrinya, doa penuh harapan itu adalah doa ibunya, Dewi Kunti: “Semoga Dewata memberimu semua yang diidam-idamkan ibumu, Dewi Kunti, sejak dulu.”

Arjuna berjalan melewati hutan-hutan belantara dan sampai dipuncak Gunung Indrakila. Di sana, ia bertemu seorang brahmana tua. Petapa itu tersenyum dan bicara dengan penuh kasih kepada Arjuna: “Nak, engkau berpakaian seperti layaknya prajurit dan membawa senjata. Hai, Kesatria, apa yang kau cari di tempat ini, tempat pertapaan orang-orang suci dan para pendeta yang telah menaklukkan amarah dan nafsu?”

Sebenarnya brahmana tua itu adalah Batara Indra, raja para Dewata dan ayah Arjuna sendiri, yang sedang menyamar, setelah lega melihat putranya dalam keadaan baik, ia menanggalkan samarannya dan menjelma menjadi Batara Indra.

Arjuna menyembah hormat kepada ayahnya dan berkata: “Hamba datang dengan maksud mencari senjata. Berilah hamba senjata.”

Batar Indra menjawab: “Dananjaya, apa gunanya senjata? Mintalah kesenangan dan carilah tempat yang lebih tinggi di dunia ini untuk bersenang-senang.”

Jawab Arjuna: “Paduka Raja Dewata, Hamba tidak menginginkan kesenangan atau mencari dunia yang lebih tinggi. Hamba ke sini meninggalkan Panchali da saudara-saudara Hamba di hutan. Hamba hanya menginginkan senjata.”

Kata dewa yang memiliki seribu mata itu: “Jika engkau bisa mendapat restu Batara Syiwa, dewa bermata tiga, dan mendapatkan restunya, kau akan berhasil mendapatkan senjata yang kau inginkan. Pergilah dan mohonlah restu kepada Batara Syiwa.” Setelah berkata demikian, Batara Indra menghilang. Kemudian Arjuna pergi ke Himalaya dan bertapa untuk mohon restu dari Batara Syiwa.

Batara Syiwa menyamar menjadi seorang pemburu. Ia ditemani Saktinya, Dewi Uma. Mereka pergi ke hutan untuk berburu. Perburuan mereka sangat ribut. Seekor babi hutan lari kalang kabut menuju tempat Arjuna bertapa. Melihat babi itu, Arjuna segera mengangkat gendewanya dan segera membidik ke arah babi hutan itu. Bersamaan dengan lepasnya panah dari busur Arjuna, meluncur pula panah Pinaka milik Batara Syiwa. Kedua anak panah itu tepat mengenai sasaran.

Arjuna berteriak dengan lantang: “Siapa kau? Mengapa engkau pergi berburu bersama istrimu? Mengapa kau lancang memanah babi hutan yang kupanah?”

Pemburu itu menjawab dengan sikap menghina: “Hutan ini, yang penuh dengan binatang buruan, adalah hutan kami, orang-orang yang tinggal di hutan. Kau sama sekali tidak tampak seperti orang yang tinggal di hutan. Badan dan penampilanmu menunjukkan engkau biasa menjalani kehidupan yang nyaman. Semestinya akulah yang harus bertanya siapa dirimu dan mengapa kau berada di sini?” Ia juga mengatakan bahwa anak panahnyalah yang membunuh babi hutan itu dan jika Arjuna tidak setuju, ia mau menerima tantangan untuk berkelahi.

Tanpa basa-basi segera Arjuna menerima tantangan itu. Ia segera bangkit berdiri dan menghujankan anak panah ke arah Batara Syiwa. Arjuna terpana ketika melihat, hujan panah itu sama sekali tidak bisa melukai pemburu itu. Semua anak panah yang dilepaskan jatuh ke tanah tanpa ada yang bisa melukai si pemburu. Setelah panahnya habis, ia mulai memukul Batara Syiwa dengan busur, tetapi pemburu itu tetap tenang. Bahkan dengan mudah, ia merampas busur dari tangan Arjuna. Ia tertawa terbahak-bahak. Arjuna hanya bisa terperangah. Tapi itu tidak membuat hati Arjuna ciut. Ia terus menyerang pemburu itu dengan pedangnya. Arjuna hanya bisa terperangah ketika ia melihat justru pedangnya yang berkeping-keping ketika mengenai tubuh si pemburu. Arjuna tidak punya pilihan lain selain bertarung tangan kosong. Sekali lagi, ia kalah. Pemburu itu menangkap Arjuna dan memegangnya kuat-kuat hingga Arjuna tidak berkutik. Dalam keadaan tidak berdaya, Arjuna mengheningkan cipta dan memohon kepada Batara Syiwa. Dan seketika itu juga terlintas di pikirannya yang sudah kehabisan akal. Ia tersadar siapa sebenarnya pemburu itu.

Ia segera bersimpuh dan menyembahnya. Ia Ia mohon ampun atas kelancangannya. Kata Batara Syiwa sambil tersenyum: “Aku mengampunimu.” Setelah berkata demikian, Batara Syiwa mengembalikan gandewa dan pedang Arjuna. Ia juga menghadiahkan senjata yang sangat ampuh, Pasopati.

Tubuh Arjuna, yang luka terkena pukulan dalam pertarungan yang tidak seimbang itu, menjadi utuh dan sempurna kembali berkat sentuhan Batara Syiwa. Selain itu, berkat perkelahian itu tubuh Arjuna menjadi seratus kali lebih kuat dan cekatan. Kata Batara Syiwa: “Pergilah ke kahyangan dan temui ayahmu, Batara Indra, untuk menyampaikan hormat dan baktimu kepadanya.” Setelah berkata demikian, Batara Syiwa menghilang.

Arjuna sangat gembira. Serunya: “Benarkah aku telah bertemu langsung dengan Batara Syiwa dan mendapatkan berkahnya? Apa lagi yang aku butuhkan? Waktu itu, Matali, sais kereta Batara Indra tiba di sana dan membawa Arjuna ke kerajaan dewata.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya