Agastya
PARA brahmana, yang dulu bersama-sama Yudhistira di Indraprasta, setia menemaninya di hutan. Tidaklah mudah mengatur rombongan yang besar itu. Beberapa saat setelah Arjuna pergi untuk mencari karunia senjata sakti dari dewata, seorang resi yang bernama Lomasa mendatangi Pandawa. Ia menasihati Yudhistira untuk memperkecil rombongan sebelum melanjutkan peziarahan. Rombongan yang besar akan menyulitkan mereka untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Yudhistira, yang sejak lama telah menyadari kesulitan itu, mengatakan kepada rombongan bahwa mereka yang tidak terbiasa hidup susah dan yang hanya ingin menunjukkan kesetiaan dipersilakan untuk kembali pada Destarata atau, jika mereka suka, pergi ke Panchala yang diperintah Raja Drupada.
Kemudian, dengan rombongan yang jauh lebih sedikit, para Pandawa melanjutkan peziarahan ke tempat-tempat suci. Mereka mempelajari kisah dan tradisi tempat-tempat suci itu. Salah satu yang mereka pelajari adalah kisah Agastya.
Konon, suatu hari Agastya melihat ruh-ruh manusia berdiri terbalik. Kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Agastya bertanya kepada ruh-ruh itu, bagaimana mereka bisa mengalami keadaan yang tidak mengenakkan itu. Jawab mereka: "Nak, kami adalah nenek moyangmu. Jika engkau tidak membayar utangmu pada kami dengan menikah dan memiliki keturunan, tidak akan ada lagi yang akan melakukan upacara pemujaan untuk kami. Maka, kami melakukan tapa seperti ini agar engkau menyelamatkan kami dari malapetaka ini."
Mendengar itu, Agastya memutuskan untuk menikah.
Raja Widarbha tidak punya anak. Ia sangat gelisah. Ia memohon restu kepada Resi Agastya agar dikaruniai anak. Ketika memberikan restu, Resi Agastya mengatakan bahwa raja itu akan mendapatkan seorang putri dan ia minta putri itu diserahkan padanya untuk dijadikan istri.
Tidak lama kemudian permaisuri raja melahirkan seorang putri. Putri itu bernama Dewi Lopamudra. Seiring dengan berjalannya waktu, Lopamudra tumbuh berkembang menjadi seorang putri yang jelita. Kecantikannya termasyhur di kalangan kaum kesatria. Tetapi, tidak ada yang berani melamar putri karena takut pada Resi Agastya.
Kemudian, Resi Agastya datang ke istana Raja Widarbha untuk melamar Dewi Lopamudra.
Sebenarnya raja enggan menyerahkan putrinya kepada resi yang hidup sangat sederhana di hutan, tapi ia takut jika penolakannya akan membuat resi itu marah. Raja sangat sedih. Setelah mengetahui penyebab kesedihan orang tuanya, Dewi Lopamadra –-dengan mengingkari keinginannya sendiri—justru menyatakan kesediaannya untuk menikah dengan resi tua itu.
Raja merasa amat lega. Kemudian, pernikahan antara Resi Agastya dan Dewi Lopamudra dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Sebelum kembali ke hutan, Resi Agastya meminta istrinya menanggalkan semua perhiasan dan meninggalkan pakaian-pakaian yang mewah dan mahal. Tanpa bertanya, ia segera membagi-bagikan pakaian dan perhiasan yang ia miliki kepada teman-teman dan pelayannya. Dengan pakaian dari kulit rusa dan kulit pohon, dengan sepenuh hati ia menemani suaminya kembali ke hutan.
Selama menjalani tapa dan meditasi di hutan Ganggadwara, cinta yang kuat dan membara tumbuh di antara mereka berdua. Dewi Lopamudra merasa prihatin dengan minimnya ruang pribadi bagi hidup berumah tangga mereka. Maka, suatu hari dengan malu-malu dan rendah hati ia mengungkapkan perasaannya kepada suaminya.
“Aku ingin memiliki ranjang kerajaan yang empuk, pakaian yang indah, dan perhiasan yang seperti dulu diberikan orang tuaku. Aku juga ingin kau mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah. Dan kita bisa menikmati hidup sesuka hati kita.”
Sambil tersenyum Agastya menjawab: “Aku tidak punya kekayaan atau kemudahan untuk memberikan semua yang kau inginkan. Bukankah kita hidup seperti layaknya peminta-minta di hutan?”
Tapi Lopamudra tahu kekuatan yoga suaminya, dan katanya: “Suamiku, engkau memiliki kekuatan gaib karena bertapa. Kau bisa mendapatkan kekayaan dunia setiap saat engkau mau.”
Agastya menjawab, memang benar demikian, tapi jika menggunakan kekuatan tapanya untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat sementara, seperti harta kekayaan, kekuatannya akan musnah.
Kata Lopamudra: “Aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin engkau berusaha mendapatkan kekayaan dengan cara yang sewajarnya sehingga kita bisa hidup nyaman dan tenang.”
Agastya setuju untuk menempuh jalan brahmana, yaitu dengan meminta-minta kepada para raja. Agastya pergi kepada seorang raja yang tersohor sangat kaya.
Resi tua itu berkata kepada sang raja: “Tuanku Raja, aku datang untuk memohon harta. Berilah aku yang bisa diberikan, tanpa menyebabkan kerugian atau kekurangan bagi orang lain.”
Kemudian, raja memperlihatkan catatan pendapatan dan pengeluaran kerajaan. Katanya ia boleh mengambil sebanyak yang ia anggap pantas. Ternyata tidak ada kelebihan. Setiap catatan pendapatan dan pengeluaran kerajaan selalu tidak ada kelebihan. Tampaknya kenyataan ini terjadi sejak zaman dulu.
Melihat kenyataan tersebut, Agastya berkata: “Menerima sedekah dari seorang raja sama artinya dengan memperberat beban yang harus ditanggung rakyat kerajaan itu. Aku harus mencari di tempat lain.” Demikian kata resi itu ketika mohon diri. Raja itu ingin menemani Resi Agastya. Maka, mereka berdua pergi ke kerajaan lain. Ternuyata mereka menemukan hal yang sama.
Demikianlah Begawan Wiyasa memaparkan pelajaran bahwa seorang raja tidak boleh membebani pajak rakyatnya melebihi jumlah yang diperlukan untuk kepentingan rakyat. Jika orang menerima pemberian yang diambil dari hasil pungutan upeti, itu sama artinya dengan menambah beban yang harus ditanggung rakyat. Agastya berpikir mungkin sebaiknya ia pergi pada raksasa Ilwala dan Watapi.
Ilwala dan Watapi sangat membenci kaum brahmana. Mereka memiliki muslihat licik untuk membunuh para brahmana. Dengan keramahtamahannya, Ilwala mengundang para brahmana untuk menghadiri pesta. Dengan kekuatannya, ia ubah saudaranya menjadi kambing. Kemudian, kambing jadi-jadian itu disembelih dan dagingnya disajikan kepada para brahmana yang malang. Pada waktu itu, brahmana boleh makan daging.
Setelah pesta selesai, Ilwala akan memanggil saudaranya, Watapi, supaya keluar. Ilwala memang memiliki ilmu menghidupkan kembali siapa pun yang telah ia bunuh. Dan Watapi, yang sudah berada di perut brahmana yang malang akan keluar dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apa pun. Sementara brahmana yang tadi memakannya, mati dengan perut terburai. Dengan tipu muslihat ini, mereka telah membunuh banyak brahmana.
Ilwala sangat gembira ketika mendengar bahwa Agastya berada di kerajaan tetangga. Ia pikir seorang brahmana suci akan mengantarkan nyawanya padanya. Maka, ia menyambut Agastya dengan suka hati dan mempersiapkan pesta seperti biasanya. Resi itu makan daging kambing, yang adalah penjelmaan Watapi, dengan lahap. Setelah itu, tibalah saat Ilwala memanggil saudaranya keluar untuk menyudahi pesta. Seperti biasanya, Ilwala membaca mantra dan berseru: “Watapi, keluarlah!”
Agastya tersenyum dan dengan lembut ia belai perutnya, katanya: “Watapi, sedang dicerna dalam perutku untuk kebaikan dan kedamaian dunia.”
Tidak ada jawaban. Akhirnya, Resi Agastya menjelaskan mengapa Watapi tidak bisa keluar dari perutnya. Tipu muslihat itu sudah terlalu sering digunakan. Raksasa itu akhirnya mengaku kalah pada Resi Agastya dan memberikan kekayaan yang ia miliki. Dengan demikian, Resi Agastya bisa memenuhi keinginan Dewi Lopamudra.
Agastya bertanya kepada istrinya manakah yang akan ia pilih: sepuluh anak yang biasa-biasa saja atau satu anak yang memiliki kemampuan seperti sepuluh anak. Lopamudra meminta anak yang berbudi luhur dan pandai. Konon, Dewi Lopamudra akhirnya mendapatkan anak seperti yang ia inginkan.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


