Lesmana Perlaya
PESANGGRAHAN Bulupitu dirundung duka mendalam dengan kematian Lesmana Mandrakumara. Duryudana tampak sangat terpukul, walaupun Abimanyu putra Arjuna juga telah dikeroyok sampai tewas, namun kematian Abimanyu tidak sia-sia, saat-saat terakhir jelang kematiannya pedangnya sudah menebas tewas sang Pewaris tahta Astina.
Duryudana: Eyang Begawan Durna, peperangan kemarin memang sudah berhasil menewaskan Abimanyu, tapi lihatlah...masih lebih banyak yang tewas di pihak kita, termasuk anakku Lesmana Mandrakumara...
Durna: Wayah Prabu, perjuangan kami menghabisi Abimanyu jangan dipandang sebelah mata, segala taktik perang, kerjasama antar senopati dan keikhlasan berjuang para ksatriamu...adalah bukti nyata tewasnya ksatria muda andalan Pandawa itu. Syukurilah jangan diragukan...kematian cucunda Lesmana lebih karena kesembronoannya mendekati dan mengejek Abimanyu, itu semua di luar dugaan wayah prabu...
Duryudana: Heemm kalau baru melawan Abimanyu saja semua sudah direpotkan, bagaimana kita membunuh Pandawa? Sementara sampai hari ke 13 kemarin sudah lebih dari 20 saudaraku mati di tangan Bima dan Arjuna...
Karna: Agak repot memang...kalau sebagian ksatria sepuh berperang separo hati...raganya membela Paduka tapi hatinya condong ke Pandawa...
Salya: Eeee...Karna!! Lancang mulutmu...siapa yang kamu sindir itu? Dasar orang tidak tahu diuntung!, dari semua menantuku, engkaulah sudra sempali yang menangguk untung jadi menantu Salya. Prabu Baladewa menantuku yang pertama adalah raja besar keturunan Basudewa, Prabu Duryudana menantu keduaku raja besar Hastinapura yang aku bela dengan segenap jiwa dan raga...malang benar nasib anakku Surtikanti yang mabok asmara pada anak kusir yang jadi adipati karena belas kasihan Prabu Duryudana...(Prabu Salya murka, mendengar sindiran Karna, rasa ketidakpuasannya bermenantukan Karna keluar sebagai sumpah serapah pada menantu yang kurang dikehendakinya itu...)
Karna: Maaf Rama Prabu, saya tidak pernah menyebutkan nama orang yang hamba maksudkan...mengapa Paduka marah-marah seperti itu...apakah itu berarti Paduka merasa cocok dengan pribadi yang hamba maksudkan? (Karna menimpali amarah Salya dengan sinis, yang membuat suasana pesanggrahan mulai panas)
Durna: Sudah...sudah...jangan kita pecah sendiri sebelum maju perang...Adi Salya, kuasai dirimu, anakku Karna kendalikan rasa hormatmu pada mertuamu. Untuk semuanya saja, saya minta hari ini semua konsentrasi melindungi Jayadrata, karena sesuai sumpah Arjuna, jika sampai petang hari perang hari ke 14, Arjuna tidak sanggup membunuh Jayadrata, maka dia akan mati obong. Ini kesempatan kita untuk membunuh Arjuna akibat sumpahnya. (Ucapan Durna sekaligus menutup pertemuan di paseban Bulupitu yang berujung pada strategi perang hari ke 14)
Peperangan hari ke 14, sudah dapat diperkirakan merupakan peperangan penuh strategi. Pasukan Kurawa menggelar formasi Padmawyuha untuk melindungi Jayadrata mati-matian. Sementara Pandawa menggelar formasi Sarpawyuha yang aktif menyerang untuk mendobrak pertahanan Kurawa.
Arjuna maju perang di atas kereta yang dikusiri Kresna berhadapan dengan Durna. Setelah menyembah Gurunya, ia berkata bahwa kedatangannya adalah untuk membalas kematian Abimanyu dan melaksanakan sumpahnya untuk membunuh Jayadrata. Kata-katanya dijawab Durna dengan ucapan bahwa Arjuna takkan bisa maju sebelum berhasil menaklukkan dirinya.
Maka kedua senopati sakti itu saling membidikkan anak panah. Durna menggunakan panah api, Arjuna membalas dengan panah air. Perang panah itu berlangsung cukup lama. Masing-masing sama saktinya dan sama-sama memiliki panah sakti.
Suatu kali, kedua panah mereka berbenturan, menimbulkan ledakan dan membuat langit tiba-tiba menjadi gelap .Saat itulah Kresna menasihati Arjuna agar menyelinap, menghindari Durna, lalu menembus pasukan Kurawa dari samping sambil maju sampai ke tempat Jayadrata.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


