Risyaringga
KELIRU jika mengira bahwa hidup dalam kesucian itu mudah, jika orang dibesarkan dalam kondisi yang sama sekali tidak mengajarkan pengetahuan tentang kenikmatan duniawi dan kenikmatan olah asmara. Kebajikan yang dutuntun oleh ketidaktahuan akan mudah goyah, seperti yang akan digambarkan kisah berikut ini. Kisah ini juga diceritakan dalam Ramayana, meskipun dalam rincian yang berbeda.
Resi Wibhandaka yang gilang gemilang seperti Batara Brahma, Sang Pencipta, tinggal di hutan bersama dengan putranya Risyaringga. Sepanjang hidup, Risyaringga belum pernah bertemu dengan manusia lain, laki-laki atau perempuan, selain ayahnya.
Dulu Kerajaan Angga mengalami bencana kelaparan yang sangat dahsyat. Pertanian mengalami gagal panen karena kekurangan air. Banyak orang mati kelaparan. Semua makhluk hidup di negeri ini mengalami masa-masa yang sangat sulit. Romapada, Raja Angga, memanggil para brahmana dan minta nasihat untuk menyelamatkan kerajaan dari bencana kelaparan. Para brahmana menjawab: "Paduka Raja, ada seorang resi muda bernama Risyaringga. Ia telah bertapa lama tanpa terputus-putus. Undanglah ia untuk datang ke kerajaan kita. Berkat kehidupannya yang sempurna, ia sanggup memanggil hujan."
Bersama para penasihat, raja merundingkan cara untuk mengundang Risyaringga ke negeri mereka. Atas nasihat mereka, ia memanggil para perempuan penggoda yang paling cantik dan menugaskan mereka untuk membawa resi muda itu ke Kerajaan Angga.
Semula para perempuan itu kebingungan. Di satu sisi, mereka takut menolak permintaan raja dan di sisi lain, mereka juga takut menghadapi kemarahan Resi Wibhandaka. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi. Mereka memasrahkan diri sepenuhnya pada Ilahi supaya bisa menyelamatkan negeri mereka dari bahaya kelaparan. Sebelum berangkat ke pertapaan, semua kebutuhan mereka dipersiapkan dengan baik.
Pimpinan perempuan penggoda itu membuat taman indah di dalam sebuah kapal. Taman buatan itu ditanami pohon-pohon dan tanaman buatan. Di tengah taman dibangun sebuah asrama. Mereka melabuhkan kapal mereka di pinggir sungai dekat pertapaan Wibhandaka. Dengan hati berdebar karena takut, para perempuan itu mendatangi pertapaan.
Untung bagi mereka, Resi Wibhandaka sedang tidak berada di pertapaan. Melihat kesempatan emas itu, salah satu dari mereka segera menemui Risyaringga.
Ia segera memberi salam pada Risyaringga: "Resi yang mulia, apakah engkau baik-baik saja? Apakah persediaan akar-akaran dan buah-buahanmu cukup? Apakah pembersihan dosa yang dilakukan di pertapaan ini berjalan dengan baik? Apakah pesona ayahmu semakin gilang gemilang? Apakah pelajaran Wedamu mengalami kemajuan? Demikianlah, salah yang biasa disampaikan satu resi kepada resi yang lain.
Petapa muda itu belum pernah melihat perempuan cantik dan suara yang sedemikian merdu. Meskipun belum pernah melihat perempuan, dorongan batin untuk hidup bersama dalam masyarakat, terutama dengan lawan jenis, mulai hidup dalam diri brahmana muda itu. Pikirnya perempuan itu adalah petapa muda juga yang seperti dirinya. Ia merasakan gejolak batin yang aneh dan tidak tertahankan mulai menguasai jiwanya. Katanya sambil menatap lekat-lekat pada tamunya itu:
“Rupanya engkau seorang brahmacarin yang halus dan cemerlang. Siapakah engkau? Di mana pertapaanmu? Ajaran suci apakah yang engkau jalani?” Dan sesuai adat, ia menghidangkan buah-buahan sebagai persembahan kepada seorang resi yang bertamu.
Jawab perempuan itu: “Pertapaanku tidak jauh dari sini. Aku membawakan buah-buahan untukmu. Aku tidak pantas mendapatkan sembah hormatmu. Tapi aku harus membalas sapaanmu dan salam hormatmu dengan cara kami sendiri.”
Perempuan itu kemudian memeluk Risyaringga dengan hangat, menyuapinya dengan gula-gula yang ia bawa, meriasnya dengan karangan bunga yang wangi, dan melayaninya dengan minuman, Ia memeluknya kembali. Katanya, demikianlah cara mereka meperlakukan tamu. Resi muda itu bisa menerima perlakuan seperti itu.
Tidak lama kemudian, karena takut Wibhandaka datang, perempuan itu segera mohondiri. Katanya sekarang saatnya bagi mereka untuk melakukan upacara pemujaan api dan dengan langkah lembut meninggalkan pertapaan itu.
Ketika kembali, Resi Wibhandaka sangat kaget melihat keadaan pertapaan yang berantakan. Di sana sini berserakan sisa-sisa makanan karena belum dibersihkan. Rumput-rumput dan tanaman bunga terlihat habis dinjak-injak. Wajah putranya tidak lagi bersinar tapi tampak murung dan kacau karena gejolak gairah nafsu. Tugas-tugas keseharian pertapaan terabaikan.
Resi Wibhandaka merasa ada yang tidak beres. Ia bertanya kepada anaknya: “Anakku, mengapa engkau belum mengumpulkan kayu bakar untuk persembahan? Siapa yang menginjak-injak tanaman dan taman rumput kita? Apakah engkau telah memerah sapi? Apakah ada tamu yang berkunjung dan melayanimu? Siapa yang memberikan kalung bunga ini? Mengapa wajahmu tampak muram?”
Risyaringga yang berpikiran sederhana dan lugu menjawab: “Seorang brahmacarin yang memiliki tubuh indah berkunjung kemari. Aku tidak bisa menggambarkan keelokan wajah dan kemerduan suaranya. Aku merasakan kebahagiaan dan cinta kasih yang luar biasa ketika mendengar suara dan menatap matanya. Ketika ia memelukku –apalagi ketika memakan buah-buahan yang paling manis.” Kemudian, ia menceritakan wujud, kecantikan, dan perlakuan yang ia terima dari tamu yang luar biasa itu.
Risyaringga menambahkan: “Tubuhku rasanya seperti terbakar gairah untuk bersama-sama brahmacarin itu kembali. Aku ingin pergi dan membawanya kembali ke sini. Aku tidak bisa menggambarkan pesona dan kebaikan hatinya. Hatiku bergelora setiap mengingatnya.”
Mendengar cerita anaknya, Wibhandaka langsung mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Katanya: “Nak, uang mengunjungimu bukan seorang brahmacarin, melainkan makhluk jahat yang ingin menipu dan menodai pertapaan kita. Mereka menggunakan berbagai macam rtipu daya untuk mencapai tujuan mereka. Jangan biarkan mereka mendekatimu.” Setelah itu, selama tiga hari Wibhandaka berusaha mencari biang masalah yang telah menggoda putranya, tetapi usahanya sia-sia saja.
Pada kesempatan lain, ketika Resi Wibhandaka pergi ke hutan untuk mencari akar-akaran dan buah-buahan, perempuan penggida itu diam-diam mendatangi kembali Risyaringga yang sedang bertapa. Ketika melihat perempuan itu dari kejauhan, Risyaringga langsung bangkit dan segera berlari menyambutnya dengan gairah yang meluap-luap, seperti air yang melejit keluar dari wadah yang bocor.
Kali ini bahkan tanpa harus diminta, Risyaringga langsung mendekati perempuan itu dan setelah memberikan salam sesuai dengan adat kebiasaan, ia berkata: “Brahmacarin yang gilang gemilang, marilah kita pergi ke pertapaanmu sebelum ayahku kembali.”
Persis itulah yang diharapkan dan diusahakan perempuan di hadapannya. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam kapal yang telah diubah menjadi seperti layaknya pertapaan. Segera setelah resi muda itu masuk ke dalam kapal perahu, perahu segera mengangkat sauh dan bergerak menuju Kerajaan Angga. Seperti yang diperkirakan, resi muda itu mengalami perjalanan yang menyenangkan dan menarik. Ketika tiba di Kerajaan Angga, tentu ia telah belajar banyak tentang dunia dan cara hidupnya yang sangat berbeda dengan yang ia lakukan di hutan.
Kedatangan Risyaringga sangat menggembirakan hati Raja Romapada. Ia sambut tamu yang telah lama ia nanti-nantikan itu dengan upacara kehormatan. Ia antarkan Risyaringga ke tempat peristirahatan yang sudah dipersiapkan sebelumnya di lingkungan istana. Seperti yang diramalkan para brahmana, hujan mulai turun di wilayah kerajaan Angga segera setelah Risyaringga menyentuhkan kakinya di tanah kerajaan tersebut. Sungai-sungai dan danau-danau mulai penuh dengan air dan rakyat bersuka ria. Romapada memberikan Dewi Santa, untuk diambil istri Risyaringga.
Meskipun semua berjalan seperti yang direncanakan, raja merasa gelisah. Ia takut Resi Wibhandaka akan datang mencari anaknya dan menjatuhkan kutukan atasnya. Maka, untuk meredakan amarah Wibhandaka, ia mengerahkan para gembala. Mereka disebar ke mana-mana, terutama di sekitar jalan yang mungkin akan dilalui Resi Wibhandaka. Ia juga memerintahkan jika bertemu dengan Resi Wibhandaka supaya mengatakan bahwa mereka adalah gembala yang menggembalakan ternak Risyaringga. Mereka datang untuk menyambut dan memberikan hormat kepada ayah tuan mereka.
Karena tidak menemukan anaknya di pertapaan, Resi Wibhandaka menjadi geram. Ia pikir ini pasti pekerjaan Raja Angga. Amarahnya sedemikian meluap sehingga matanya seolah-olah mau membakar Raja Anga hidup-hidup. Selama perjalanan, ia heran melihat sedemikian banyak ternak yang dimiliki putranya. Ia juga heran dengan sambutan yang hangat dari para penggembala, pelayan-pelayan putranya. Pelan-pelan, amarahnya mereda.
Ketika tiba di istana, dia disambut dengan upacara penghormatan besar-besaran dan dibawa ke istana raja. Di sana, dia melihat putranya duduk seperti raja para dewa di kahyangan. Di samping putranya, duduk seorang putri yang sangat cantik. Kecantikan putri itu memikat dan meredakan amarah resi sakti itu.
Ia merestui putranya dan memberikan restu: “Teruslah berbuat kebajikan untuk menyenangkan hati Raja Romapada yang mencintai rakyatnya. Setelah engkau punya anak laki-laki, kembalilah ke hutan dan temanilah ayahmu.” Risyaringga melakukan apa yang diminta oleh ayahnya.
Lomasa mengakhiri kisah itu dengan perkataan yang ditujukan kepada Yudhistira: “Seperti Damayanti dan Nala, Sita dan Rama, Arundhati dan Wasistha, Lopamudra dan Agastya, Drupadi dan kau sendiri, Santa dan Risyaringga ditakdirkan untuk mengembara di hutan dalam rentang waktu tertentu. Mereka hidup di hutan dengan penuh cinta kasih. Di sinilah Risyaringga bertapa. Mandilah di kolam ini dan sucikan dirimu.” Pandawa mandi di kolam itu dan melakukan persembahan pada dewata.* C Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


