Yawakrida
DALAM pengembaraannya, Pandawa tiba di pertapaan Resi Raibhya di tepi Sungai Gangga. Lomasa mengisahkan riwayat pertapaan tersebut:
Di tempat inilah Bharata, putra Dasarata. Di sini pula, Batara Indra membersihkan diri setelah membunuh Writra secara licik. Di sini, Sanatkumara menyatu dengan Tuhan. Di gunung ini, Aditi, ibu para dewa, membakar persembahan dan memohon karunia seorang anak. Yudhistira dakilah gunung suci ini dan kemalangan yang memayungi hidupmu akan hilang. Dengan mandi air sungai ini, Engkau akan dibersihkan dari amarah dan nafsu."
Kemudian, Lomasa menceritakan secara panjang lebar kesakralan tempat itu. Ia memulai ceritanya: "Yawakrida, putra seorang resi, menemui ajal di tempat ini."
Lanjutnya: "Dulu, di tempat ini tinggallah dua brahmana yang termasyhur. Mereka adalah sahabat dekat. Raibhya dan kedua putranya, Parawasu dan Arwawasu, mempelajari kitab-kitab Weda dengan sungguh-sungguh sehingga menjadi masyhur. Bharadwaja mencurahkan hidup sepenuhnya untuk memuja Tuhan. Ia mempunyai putra yang bernama Yawakrida. Yawakrida merasa iri dan benci melihat para brahmana tidak menghargai ayahnya yang petapa seperti mereka menghormati Raibhya yang ahli kitab Weda.
Yawakrida melakukan tapa brata yang keras untuk mendapatkan karunia dari Batara Indra. Ia menyiksa badannya dengan mati raga yang sangat berat. Melihat itu, Batara Indra menjadi iba. Ia mendatangi Yawakrida dan bertanya mengapa ia menyiksa diri.
Yawakrida menjawab: "Aku ingin menjadi orang yang paling terpelajar dalam pengetahuan kitab Weda. Aku ingin menjadi mahaguru kitab Weda yang masyhur. Aku lakukan mati raga yang sedemikian berat untuk mewujudkan keinginan itu. Butuh waktu yang sangat lama dan belajar yang sangat keras untuk bisa mempelajari kitab-kitab Weda dari seorang guru. Aku melakukan mati raga supaya bisa mendapatkan pengetahuan itu secara langsung, tanpa perlu berguru. Berilah aku restu."
Batara Indra tersenyum dan berkata: "Brahmana muda, cara yang kau tempuh keliru. Pulanglah. Carilah seorang guru yang baik dan belajarlah kitab-kitab Weda darinya. Menyiksa diri bukanlah cara yang benar untuk belajar. Hanya dengan tekun mempelajari kitab-kitab itu, kau akan menguasai kitab Weda." Setelah berkata demikian, Batara Indra menghilang.
Tetapi, putra Baradwaja itu tidak mengindahkan nasihat Batara Indra. Bahkan ia melakukan penyiksaan diri yang jauh lebih keras lagi sehingga membuat para dewa bersedih dan merasa ngeri. Sekali lagi, Batara Indra menampakkan diri di hadapan Yawakrida dan memperingatkannya: "Engkau menempuh jalan yang keliru. Hanya melalui belajar secara tekun, engkau bisa menguasai ilmu kitab Weda. Ayahmu mempelajari Kitab Weda dengan cara belajar tekun, jika mau engkau juga pasti bisa. Pergilah dan pelajarilah kitab-kitab itu. Berhentilah melakukan mati raga yang sia-sia ini."
Yawakrida sama sekali tidak mempedulikan peringatan kedua Batara Indra, bahkan ia mengatakan ia akan memotong tubuhnya satu persatu untuk dijadikan sesaji dalam upacara persembahan. Memang, ia tidak mau menyerah.
Ia terus menyiksa diri. Suatu pagi, ketika pergi ke Sungai Gangga untuk mandi, ia melihat seorang brahmana tua yang badannya kurus kering melemparkan segenggam pasir ke sungai dengan susah payah.
Yawakrida bertanya: “Pak tua, apa yang engkau lakukan?”
Brahmana tua itu menjawab: “Aku ingin membangun bendungan yang melintasi sungai ini. Setelah bendungan selesai, orang tidak akan kesulitan lagi untuk menyeberang. Bukankah tidak mudah menyeberang sungai ini? Ini pekerjaan yang mulia bukan?”
Mendengar jawaban itu, Yawakrida tertawa terbahak-bahak. Katanya: “Bodoh sekali engkau, berpikir bisa membendung arus sungai yang sedemikian perkasa dengan segenggam pasir dari tanganmu yang rapuh. Bangunlah dan carilah pekerjaan yang lebih berguna.”
Brahmana tua itu berkata: “Apakah pekerjaanmu tidak lebih bodoh daripada pekerjaanku, engkau ingin menguasai kitab-kitab Weda melalui mati raga?”
Barulah Yawakrida sadar bahwa brahmana tua itu adalah Batara Indra. Ia segera menjatuhkan diri dan bersujud. Ia memohon supaya dianugerahi karunia khusus.
Batara Indra mengabulkan permohonan itu dan menghibur Yawakrida dengan kata-kata berikut:
“Baiklah, aku akan memberimu karunia khusus yang engkau minta. Pergilah dan pelajarilah kitab-kitab Weda, engkau akan menguasainya dengan cepat.”* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


