Raden Sanjaya
SENJA temaram di Pesanggrahan Bulupitu. Sambil mengendap-endap, Raden Sanjaya putra Widura berusaha menyeberang Kurusetra mendekati pesanggrahan Randuwatangan. Di pinggir Kurusetra, langkahnya terhenti oleh Srikandi, ksatria wanita ini menatapnya tajam.
Srikandi: Sanjaya, kenapa lakumu seperti pencuri mengendap-endap memasuki pesanggrahan kami?
Sanjaya: Duhai ayunda Srikandi, maafkan aku. Bukan maksudku mengendap-endap seperti durjana. Nuraniku tak mampu lagi menahan, aku harus bergabung dengan saudara-saudaraku Pandawa. Ijinkan aku besok berperang menghadapi senopati Awangga Ayunda.
Srikandi: Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa tak ada para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang prajurit? Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka? Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang? Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata-mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina!.
Tercekat Sanjaya dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi, Sanjaya berbalik badan kembali ke Bulupitu.
Kata-kata Srikandi yang pedas itu, terdengar oleh Wara Sumbadra. Namun terlambat Sanjaya telah terluka hatinya.
Sumbadra: Yayi Srikandi, mengapa tajam bicaramu menyakiti adi Sanjaya Yayi. Tahukah engkau, betapa Ayah Sanjaya, Yamawidura, berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, Paman Yamawidura menyelamatkan Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan. Paman Yamawidura menjelma menjadi garangan putih, membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala menyelamatkan Pandawa.
Apa yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi membuat sesal hati Srikandi. Tetapi Sanjaya telah berbalik arah, tidak mungkin diajaknya kembali ke Randuwatangan.
Sesampai di Bulupitu, Sanjaya membuat onar, dia berteriak-teriak menantang Adipati Karna yang menjadi Senopati pihak Kurawa sepeninggal Pandita Durna. Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Warsasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.
Warsasena: Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kemuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?
Sanjaya: Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, di mana senapati Kurawa berada?
Warsasena: Tak usah kamu mencari di mana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!
Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas di tangan masing masing.
Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas. Segera Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Karna: Biadab engkau Sanjaya, ke mana tatakramamu, pertempuran belum lagi mulai, mengapa tandangmu seperti binatang tanpa aturan.
Sanjaya: Rakanda Karna, rasa bersalahku memihak angkara, dan geliat nuraniku, membuat tatakrama tak lagi penting bagiku. Sudahlah, kepalang tanggung...Kalau masih kau teruskan pengkhianatanmu pada nurani, membela kebejatan...mari tandingi aku, biar aku lebur rasa bersalahku dengan menyingkirkanmu wahai ksatria pengabdi angkara murka.
Karna: Hemmm...tanpa engkau sadari Sanjaya, sesungguhnya engkau telah dipermainkan oleh kesombonganmu. Tahu apa engkau tentang nurani? dari sudut mana kau tempatkan nuranimu. Wasis engkau tuduh aku...tapi lihatlah dari siapa kita bisa makan minum dan menikmati kemuliaan? Sekarang anakku telah perlaya, biar kusempurnakan niatmu belapati pada saudara-saudaraku Pandawa.
Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang di hadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesaklah Sanjaya, dan tak lama kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya membuktikan darma baktinya terhadap saudara-saudara sepupunya para Pandawa.
Kematian Sanjaya menjelang pertempuran hari ke 17 membawa aroma duka baik di Bulupitu maupun Randuwatangan. Destarasta berusaha menentramkan hati Yamawidura adiknya lain ibu atas kematian putranya.
Destarasta: Widura, terimalah kematian putramu sebagai garis takdirnya..bukan hanya engkau yang merasa kehilangan. Selama ini Sanjayalah yang menjadi mataku melihat apa yang terjadi di Kurusetra.
Widura: Ya Kakang, sejak perang ini berkobar...adinda sudah maklum..apalagikah yang bisa diharapkan dari sebuah peperangan? Apalagi ini peperangan antarkeluarga wangsa kuru. Korban akan saling berjatuhan, angkara murka menggeliat mencari celah untuk menghancurkan kebajikan...Ah seandainya para putra kanda mau berbagi dengan adil, tak perlu darah tercurah...tak perlu nyawa menjadi tumbalnya...
Destarasta: Sudahlah Widura...kalau kau kupas lagi keangkaraan anak-anakku, perih hatiku merasakannya...makin dalam rasa bersalahku. Mungkin memang akulah penyebab semua ini, cacat netraku membuatku tak sempurna mendidik anak...tapi, salahkah mereka sepenuhnya kalau mereka menuntut hak sebagai keturunan si Sulung...
Widura memilih diam tidak melanjutkan perbincangan itu...dia menyerahkan duka dan perasaannya pada kepasrahan total pada Sang Akarya Jagad...Aah, desahnya dalam, hidup ini adalah penggenapan dharma dan karya...apakah hasilnya azab atau pahala? Widura tahu, bukan dia sebagai jalma manusia yang berhak memilih.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


