Kematian Yawakrida
YAWAKRIDA mempelajari kitab-kitab Weda. Ia tidak butuh lama untuk bisa menguasai kitab-kitab suci itu. Sayangnya, ia menjadi sombong. Ia memgira bisa menguasai pengetahuan kitab berkat karunia khusus dari Batara Indra, bukan karena pertolongan gurunya. Mengetahui hal itu, Bharadwaja khawatir anaknya akan menghancurkan diri sendiri dengan meremehkan Resi Raibhya. Ia merasa perlu untuk mengingatkan anaknya.
Katanya: "Dewata menganugerahi karunia-karunia khusus kepada orang-orang bodoh yang terus memaksakan diri untuk melakukan mati raga. Kemurahan hati ini ibarat menjual minuman-minuman beralkohol pada orang-orang bodoh. Mereka akan kehilangan kendali diri, tidak bisa berpikir benar, dan menghancurkan diri sendiri. Dengan sebuah cerita ia berusaha mengingatkan anaknya. Demikian cerita itu:
Dahulu kala, hiduplah seorang resi yang masyhur bernama Baladhi. Ia mempunyai seorang putra. Malang baginya, putra itu mati. Ia sangat sedih dengan kematian anaknya. Lalu, ia melakukan tapa brata yang sangat berat untuk memohon supaya dianugerahi anak yang tidak akan dijemput dewa kematian.
Dewata mengatakan kepada resi itu bahwa permohonannya tidak mungkin dikabulkan, karena manusia pasti akan mati. Hidup manusia pasti ada batasnya. Dewata memintanya untuk menentukan batas sendiri. Jawab resi itu: “Jika demikian, aku mohon supaya hidup putraku bisa sepanjang usia gunung.” Permohonan itu dikabulkan dan ia pun dikaruniai seorang putra yang bernama Medhawi.
Medhawi tumbuh menjadi pemuda yang congkak karena tahu ia tidak perlu takut pada kematian. Ia tahu usianya akan sepanjang usia gunung. Akibatnya, ia bersikap angkuh kepada semua orang.
Suatu hari, pemuda sombong itu bersikap tidak sopan kepada seorang resi sakti, Dhanusaksa. Resi itu langsung mengutuk pemuda itu menjadi abu. Tetapi, kutukan itu tidak mempan atas Medhawi. Medhawi tetap hidup dan sehat walafiat. Melihat kutukannya tidak mempan, semula resi itu kebingungan, tapi kemudian ia ingat pada karunia yang Medhawi terima sejak lahir.
Lalu Dhanusaksa mengubah diri menjadi seekor kerbau liar dan berkat kekuatan tapa brata ia menanduk gunung dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping. Medhawi pun menemui ajalnya.
Bharadwaja mengakhiri ceritanya dengan mengingatkan putranya: “Ambillah hikmah dari cerita kuno ini. Jangan biarkan dirimu hancur karena kesombongan. Belajarlah mengendalikan diri. Jangan melampaui batas kesopanan. Jangan bersikap tidak sopan di hadapan Resi Raibhya yang sakti.”
Musim semi tiba. Pohon-pohon dan rerumputan tampak indah karena bunga-bunga mekar mewangi. Seluruh hutan tampak hijau segar dan ramai dengan kicau burung.
Dunia seperti tersihir dewa cinta. Ketika itu, istri Parawasu sedang berjalan-jalan sendirian di taman dekat pertapaan Resi Raibhya. Ia tampak seperti bidadari, paduan yang sempurna antara kecantikan, keberanian, dan kemurnian. Saat itu, Yawakrida kebetulan lewat tempat itu. Ia sedemikian terpesona akan kecantikan perempuan tersebut sehingga kehilangan akal sehat dan tidak bisa mengendalikan diri. Ia menjadi binatang buas yang penuh gelora nafsu. Ia segera menyambar perempuan itu dan diseretnya ke tempat yang sepi. Ia paksa perempuan itu melayani nafsu berahinya.
Resi Raibhya kembali ke pertapaan. Ia mendapati menantunya menangis sejadi-jadinya. Setelah mengetahui apa yang terjadi, resi itu marah besar. Dicabutnya sehelai rambut dari kepalanya dan dibakar dalam api pemujaan sambil membaca mantra. Seketika itu juga, dari rambut yang terbakar itu muncul seorang perempuan yang secantik menantunya. Kemudian, ia mencabut dan membakar lagi sehelai rambutnya. Setelah mengucapkan mantra, muncullah makhluk halus berwujud raksasa mengerikan. Kemudian, resi itu memerintahkan kedua makhluk halus itu untuk membunuh Yawakrida. Kedua makhluk itu tunduk patuh pada perintah Resi Raibhya.
Ketika Yawakrida melakukan doa pagi, si makhluk halus perempuan mendekatinya. Ia tersenyum dan berusaha memikat hati Yawakrida. Ketika Yawakrida lengah, makhluk halus cantik itu secepat kilat merampas kendi air. Ketika Yawakrida bangkit dan berusaha mengejar makhluk itu tiba-tiba muncul raksasa mengerikan bersenjata lembing.
Yawakrida sangat ketakutan. Sadar bahwa mantranya tidak akan mempan, sebelum menyucikan diri, Yawakrida segera lari ke tepi telaga. Tetapi telaga itu kering. Ia lari ke tepi sungai, yang tiba-tiba juga menjadi kering. Ia terus berlari mencari air. Ke manapun Yawakrida lari, raksasa itu terus mengejar. Dosa yang ia lakukan membuatnya kehilangan kesaktiannya.
Pada akhirnya, ia lari ke arah tempat pemujaan ayahnya. Penjaga tempat pemujaan yang separuh buta tidak bisa mengenali Yawakrida. Saking ketakutannya, ia memaksa untukmasuk. Sementara itu, si raksasa terus mendekat dan melemparkan lembingnya. Cras! Sampailah ajal Yawakrida.
Ketika kembali ke pertapaan, Resi Bharadwaja menemukan mayat putranya. Ia tahu bahwa sikap tidak sopan pada Resi Raibhyalah yang membawa putranya pada ajal.
“Oh, Dewata! Putraku, engkau tewas karena keangkuhan dan kesombonganmu. Bukankah jalan yang kau tempuh untuk menguasai kitab Weda tidak benar? Mengapa engkau bersikap sedemikian rupa sehingga akhirnya engkau beroleh kutukan? Semoga Raibhya, yang menyebabkan kematian putraku satu-satunya mati di tangan salah satu anak-anaknya sendiri!” Demikianlah, karena terbawa badai amarah dan kesedihan yang tidak terkira resi itu mengucapkan kutukan pada Raibhya.
Setelah berhasil menguasai diri, ia berseru dengan perasaan yang sangat pedih: “Oh, Dewata. Terberkatilah yang tidak punya keturunan. Aku tidak hanya sudah kehilangan anakku satu-satunya, tapi juga karena amarahku mengutuk sahabatku. Apa gunanya aku terus hidup?” Ia membakar jenazah anaknya dan terjun ke dalam api.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


