Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Belajar Saja Tidak Cukup

Jumat, 23 Januari 2015

RAJA Brihadyumna, murid Resi Raibhya, ingin melaksanakan upacara besar. Ia meminta gurunya untuk mengizinkan kedua putranya, Parawasu dan Arwawasu untuk memimpin upacara itu. Seizin ayah mereka, mereka berdua pergi ke kota raja dengan suka hati.

Suatu hari, ketika persiapan upacara sedang dikerjakan Parawasu pulang untuk menemui istrinya. Ia berjalan sepanjang malam dan tiba di pertapaan sebelum fajar. Di dekat pertapaan, di kegelapan malam ia melihat sesosok yang membungkuk seperti sedang mengintai mangsa. Ia segera menyambar lembing dan melemparkan ke arah sosok itu. Ia berhasil mengenainya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati bahwa yang ia bunuh adalah ayahnya sendiri yang mengenakan pakaian dari kulit binatang. Ia mengira sosok di kegelapan malam itu adalah binatang hutan. Ia sadar bahwa kesalahan fatal ini disebabkan oleh kutukan Resi Bharadwaja. Sementara mempersiapkan upacara penguburan untuk ayahnya, ia pergi kepada Arwawasu dan menceritakan kejadian yang menyedihkan itu.

Katanya: "Sebaiknya kecelakaan ini tidak mengganggu persiapan upacara persembahyangan. Lakukan upacara pembakaran jenazah atas namaku, sebagai penebus dosa yang telah kulakukan secara tidak sengaja. Dosa yang dilakukan secara tidak sengaja bisa beroleh pengampunan. Jika engkau bisa menggantikan aku dan memohonkan ampunan atas dosaku, aku akan memimpin upacara persembahyangan raja. Aku bisa melakukannya sendiri. Engkau tidak bisa memimpin upacara tanpa bantuanku."

Arwawasu yang berbudi luhur setuju dan berkata: "Baiklah, engkau saja yang memimpin upacara persembahyangan raja. Aku akan melakukan upacara penebusan dosa untuk membebaskanmu dari dosa yang mengerikan, membunuh ayah sendiri dan seorang brahmana."

Oleh karena itu, Arwawasu menuruti permintaan saudaranya. Ia melakukan upacara penebusan dosa atas nama saudaranya. Setelah upacara itu selesai, ia segera menyusul Parawasu ke istana raja.

Dosa Parawasu tetap tidak terhapuskan, karena upacara itu tidak bisa diwakilkan. Parawasu terkutuk oleh dosanya sendiri. Ia mengotori pikirannya sendiri dengan maksud jahat. Melihat wajah saudaranya cemerlang karena kesucian hati, Parawasu memutuskan untuk mempermalukan Arwawasu di depan umum. Ketika Arwawasu memasuki istana, ia katakan dengan lantang --supaya raja mendengar: "Orang ini telah melakukan dosa besar, membunuh seorang brahmana. Jangan biarka ia masuk dan mengotori tempat suci ini."

Dengan marah, Arwawasu menolak tuduhan itu, tapi tidak seorang pun mau mendengarkannya. Atas perintah raja, ia diusir dari tempat suci itu dengan kasar.

Berulang kaliia menyangkal tuduhan itu: “Bukan aku, tapi saudarakulah yang melakukan dosa itu. Ia melakukannya secara tidak sengaja. Aku membersihkan dosanya dengan upacara penebusan dosa.” Pembelaan dirinya justru membuat orang-orang semakin tidak percaya kepadanya. Orang justru berpikiran bahwa upacara penebusan dosa itu dilakukan untuk membersihkan dosanya sendiri. Semakin ia membela diri semakin orang tidak percaya kepadanya.

Arwawasu yang berbudi luhur dituduh melakukan dosa besar dan memberikan keterangan palsu. Dengan perasaan putus asa karena tidak mendapatkan keadilan dunia, ia memutuskan untuk melakukan tapa brata yang seberat-beratnya. Perenungan dan meditasi membuat hatinya bersih dari amarah. Ia memohon supaya ayahnya hidup kembali dan supaya saudaranya dibebaskan dari kejahatan dan dosa yang telah ia lakukan.

Dewata mengabulkan permohonannya.

Lomasa mengisahkan cerita ini kepada Yudhistira di suatu tempat dekat pertapaan Resi Raibhya. Katanya: “Pandawa, mandilah dan bersihkan dirimu dari nafsu di sungai suci ini.”

Arwawasu dan Parawasu adalah putra mahaguru besar. Keduanya belajar dari ayah mereka dan menjadi ahli kitab yang masyhur. Tetapi belajar itu tidak bisa disamakan dengan keluhuran budi. Memang benar orang harus bisa membedakan yang baik dan yang buruk, jika menginginkan kebaikan dan menghindarkan kejahatan. Tetapi pengetahuan itu harus meresap ke dalam setiap pikiran dan tindakan dalam hidup. Hanya dengan cara ini, orang bisa menjadi berbudi mulia.

Pengetahuan yang tidak diresapi hanya akan menjadi tumpukan keterangan yang membebani pikiran dan tidak menghasilkan keluhuran budi. Pengetahuan semacam ini tidak lebih dari sekadar tampilan luar. Ibarat pakaian, bukan bagian dari diri.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya