Karna Gugur
DINIHARI di Pesanggrahan Bulupitu, perabuan jenazah Warsasena dan Sanjaya, berlangsung dengan khidmat penuh keharuan. Adipati Karna terus menggenggam tangan istrinya terkasih Dewi Surtikanti. Diliriknya wajah pujaan hatinya itu, wajah cantik itu menyiratkan duka yang mendalam, pupus sudah keturunannya...Warsakusuma dan Warsasena sudah gugur sebagai tunas bangsa, duka dan kebanggaan adalah dua campuran perasaan yang tidak nyaman dirasakan...
Dewi Surtikanti beriringan dengan suaminya memasuki bilik mereka, tak sepatah katapun keluar dari mulut mungilnya hanya bahasa bathin mereka yang bicara, hari inilah penentuan akhir itu, Sang Dewi ingin segera masuk sanggar pemujan, hari ini suaminya menjadi senopati ing ngalaga, baginya dan suaminya terbuka jalan untuk berkumpul kembali dengan kedua buah hatinya dalam alam kelanggenan.
Adipati Karna membiarkan tangan lentik Surtikanti menata gelung rambutnya. Betapa besar cintanya pada istrinya, putri Prabu Salya yang memilih kawin lari dengannya yang hanya anak kusir, dan melepaskan kesempatan dijodohkan dengan raja besar Hastinapura Prabu Duryudana. Kelembutan dan cinta kasih Surtikanti lah yang membuatnya tatag, tidak mau mengambil selir, walaupun sebagai Adipati, kemungkinan itu terbuka untuknya. Karna adalah tipe laki-laki setia yang tahu diri, kesetiaannya memiliki kemuliaan yang besar, yang juga ditunjukkannya pada pilihan hidupnya.
Karna: Yayi Surtikanti, segera setelah Sangkakala berbunyi aku akan maju ke medan laga Yayi...hari ini sudah pasti, aku akan berhadapan dengan Arjuna. Dan seperti janjiku pada Ibu Kunti, putra beliau akan tetap Pandawa Lima...jadi hari ini salah satu dari kami akan pralaya...kuatkan hatimu nimas...
Surtikanti (naik sedu sedan di lehernya): Kakang, engkau tahu bagaimana perasaanku padamu, aku selalu menghormati keputusanmu. Apapun keputusanmu, aku akan mengikutimu. Anak-anak kita sudah mangkat, di kasedan jati...rasanya kuwung berada di pesanggrahan ini sendiri menantimu...Duh Kakang, ijinkan aku manjing di kancing gelungmu...jadi aku bisa mengikutimu kemanapun engkau akan menuju duh belahan jiwaku...
Karna: Jagad Dewa Bathara...baiklah Surtikanti, bersiaplah engkau, aku akan matek aji dan menyimpanmu di kancing gelungku....(Karna memusatkan ajiannya untuk merubah Surtikanti sebagai sukma aji dan menyimpannya di kancing gelungnya).
Peperangan hari ke 17 segera dimulai....sesaat sebelum itu, ketika kereta perang masing-masing sedang disiapkan. Kereta Karna dengan kusir Prabu Salya mertuanya, dan kereta Arjuna dengan kusir Bathara Kresna, Arjuna meminta waktu untuk menemui Karna. Dengan Takzim Arjuna memberikan salam dan hormat pada saudara tua seibunya itu.
Arjuna: ”Kakang salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk menghaturkan tantangan perang. duh Kanda dengan segala hormat, marilah saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara Pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”
Adipati Karna: ”Aduh adikku, Arjuna…jangan seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Menahan tangis sesenggukkan, karena perbuatan sendiri. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian para Pandawa. Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Aku ini tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmaniku jika kalian hendak membantuku mencari kebahagiaan sejati. Adikku..Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang amanah yang menjadi tanggung jawab Kakang. Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo Yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktianmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohonkanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”
Arjuna (tercekat suaranya dalam keharuan yang dalam): ”Aduh Kakang yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini.”
Peperangan antara kedua ksatria kesayangan dewa yang sama-sama cakap dan pilih tanding itu berlangsung dengan hebat. Mereka berdua mengeluarkan jurus-jurus tangan kosong dan lemparan aji kesaktian yang kadang-kadang pertemuan kedua ajian mereka menimbulkan ledakan dahsyat yang membawa korban prajurit kedua belah pihak di sekitar mereka....Akhirnya arena peperangan antar kedua satria itu menjadi lapang...karena semua prajurit menyisih memberi kesempatan pada senopatinya berperang.
Adu kesaktian itu meningkat menjadi adu senjata sakti, suatu saat Karna mempersiapkan jemparing Kunta Drewasa pemberian Bathara Surya..kesaktian panah ini setara dengan Kunta Wijayadanu yang sudah menewaskan Gatotkaca. Prabu Salya kaget melihat senjata sakti ini dikeluarkan menantunya. Dalam hati kecilnya Salya sebenarnya lebih mencintai Pandawa daripada Kurawa, saat jemparing Karna tertuju pada leher Arjuna, disentakkannya kekang kuda penarik keretanya, jemparing itu lepas mendadak dan mengenai Sumping Arjuna, hanya sekian senti dari kepalanya. Arjuna terkejut, nyawanya nyaris melayang...
Kresna: Yayi Arjuna, lihatlah...walaupun sudah pamit mati, Adimas Karna tetap memiliki jiwa ksatria lebih tinggi darimu yang masih selalu diliputi keraguan...Karna sadar, gugurnya anak-anaknya membuatnya lepas dari keinginan hidup...mati baginya adalah pilihan terindah sesuai janjinya pada Bibi Kuntinalibrata, bahwa Pandawa lima akan tetap terjaga...sadarlah Arjuna, mau sampai kapan engkau termangu....
Ucapan tajam Kresna ini membuat Arjuna sadar, saatnya sudah tiba..dia harus ikhlas dengan keadaan ini.
Arjuna menghunus Panah Kyai Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tidak ada makhuk jagad yang meragukannya. Galih kayu jati terbaik di jagad pun akan teriris layaknya kue lapis diterjang pisau cukur. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Ibaratnya, Arjuna mampu memanah sasaran dengan membelakangi sasaran itu. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, meski matanya ditutup rapat dengan kain hitam berlipat-lipat, dia akan mampu mengenai sasaran dengan tepat.
Sekarang anak panah telah siap di busurnya. Ditariknya tali busur, dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Sang Kakak, Adipati Karna. Dalam konsentrasi yang dalam ini, sebentar-sebentar dia menarik napas. Sebentar-sebentar menata hati dan pikirannya. Saat ini yang dituju anak panah adalah leher Adipati Karno. Saudara sekandung lain bapak. Bagaimanapun, susunan tulang, urat, darah dan leher itu dari benih yang sama dengan lehernya. Darah yang mengalir pada Karna adalah dari sumber yang sama dengan darahnya. Putih tulang leher itu dari jenis yang sama dengan putih tulangnya. Urat leher itu, tiada beda dengan bibit pada urat lehernya. Namun, tugas adalah tugas. Darma adalah darma yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Dibulatkan tekatnya, dimantapkan hatinya bahwa bukan karena ingin menang dan ingin mengalahkan dia melakukan ini. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.
Desing Pasopati membelah angkasa, Adipati Karna menatap kematiannya dengan senyum dikulum, sepersekian detik sebelum pasopati memenggal lehernya, dilepaskannya sang istri Surtikanti dari kancing gelungnya. Bersamaan dengan terpenggalnya leher Karna, terloncatlah raga Surtikanti yang dengan terkejut langsung dipeluk Prabu Salya, Surtikanti menjerit melihat tubuh Karna terpisah dari kepalanya...Surtikanti meronta dari pelukan ayahnya, dipeluknya kepala suaminya yang bersimbah darah disatukannya dengan tubuhnya. Guncangan badannya yang tersedu menyatu dengan pelukannya yang erat pada tubuh dingin Karna. Perang di Padang Kurusetra terhenti, semua menepi memberi kesempatan Kresna dan Arjuna mendekat...
Sudut mata Surtikanti melihat kehadiran Kresna Sang Titisan Wisnu...
Surtikanti: Duh Sang Kesawasidi...sempurnakanlah kematian kami...anak-anakku dan suamiku sudah perlaya memenuhi darma satria...mudah bagiku menyusul mereka dengan cundrik yang selalu ada di kembenku...tapi duh Sang Wisnu, apakah kematian dalam keputusasaan bisa menjadi jaminanku berkumpul langgeng dengan orang-orang yang aku cintai?
Kresna: Surtikanti...engkau istri yang luarbiasa...baiklah aku penuhi keluhuran budimu...mari sini Yayi, mendekatlah bersama jasad suamimu ke pelukanku...
Sesaat badar penampakan Kresna, Sinar menyilaukan meliputi wajah Dewa Wisnu, dipeluknya Surtikanti dan jazad Karna, aroma wangi keluar dari leburnya jasad kedua insan mulia itu...di angkasa, tangis para bidadari Swargaloka menjadi rintik-rintik hujan kedukaan di Padang Kurusetra....Itulah kematian mulia suami istri yang dihantarkan oleh Sang Wisnu sendiri, menjadi jaminan kehidupan langgeng yang lebih abadi bagi keluarga kekasih para dewa itu.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


