Menghilangkan Rasa Sakit, Ibu Melahirkan Pilih Hirup Gas Tertawa
BANYAK cara untuk menghilangkan rasa sakit, termasuk rasa sakit yang dialami wanita saat sedang melahirkan. Untuk menghilangkan rasa sakit, dokter biasanya memberikan suntikan epidural kepada ibu melahirkan. Namun bagi sejumlah wanita, untuk menghilangkan rasa sakit saat melahirkan, justru minta diberi gas tertawa.
Seperti yang terjadi pada Megan Goodie. Diberitakan ABC News, wanita asal Mennesota, Amerika Serikat itu, harus melalui persalinan selama 13 jam saat melahirkan putranya. Dalam persalinan yang berlangsung secara normal di Minnesota Birthing Center, Megan nyaris tak sanggup melanjutkan proses persalinan yang berlangsung cukup lama itu.
Di tengah rasa sakit yang mendera, Megan minta kepada dokter untuk diberi sesuatu yang bisa meredakan rasa sakit yang dirasakannya. Jika biasanya wanita yang sedang melahirkan meminta suntikan epidural, Megan justru minta dokter memberinya nitro oksida atau dikenal sebagai gas tertawa.
Tentu saja permintaan Megan membuat dokter keheranan. Namun Megan mengaku, gas tertawa membuat rasa takut hilang dan menjadikannya tenang saat persalinan. Walaupun saat persalinan dirinya tidak bisa tertawa, namun gas tertawa bisa memberikan kekuatan mental bagi Megan hingga bisa melanjutkan proses persalinan.
Megan tidak sendirian dengan gas tertawanya, karena seorang wanita asal Neshville, Amerika Serikat, juga melakukan hal yang sama. Shauna Zurawski memilih menggunakan gas tertawa karena ia tak sanggup mengejan.
"Setelah menghirup gas ini, saya langsung merasa rileks, dan tubuh saya bisa mengejan seperti yang saya harapkan," tuturnya.
Tren penggunaan gas tertawa oleh para wanita yang menjalani proses persalinan, diakui oleh Kerry Dixon, seorang bidan yang bertugas di Minnesota Birthing Center. Menurutnya, makin banyak ibu-ibu di Amerika memilih menggunakan gas tertawa saat melahirkan, selain karena masalah pilihan, diduga juga karena biayanya yang tak semahal suntikan epidural.
Untuk pemakaian nitro oksida, biayanya sekitar 100 dollar AS (Rp 1,2 juta). Sedangkan epidural mencapai 3.000 dollar AS (Rp 37,4 juta) karena ada biaya ekstra untuk anestesi.
Cara kerja nitro oksida juga lebih sederhana dibandingkan suntik epidural. Sedangkan nitro oksida bisa digunakan sendiri oleh pasien, dengan menghirupnya selama 30 detik sebelum melanjutkan proses kontraksi.
Menurut pakar, gas tertawa lebih berdampak terhadap kondisi mental si pasien, sedangkan epidural memang berfungsi meredam nyeri fisik yang dirasakan pasien dalam persalinan. Gas tertawa akan hilang dari tubuh pasien saat itu juga, sehingga tak ada efek samping yang mengkhawatirkan. Kalaupun ada, efek sampingnya juga tak begitu menonjol, paling hanya mual, pening, ataupun pusing.
Penggunaan gas tertawa dalam proses persalinan sudah lama dilakukan. Hanya saja, selama ini banyak dilakukan oleh rumah sakit-rumah sakit di Eropa dan Kanada. Namun belakangan gas ini mulai banyak dipergunakan di Amerika, apalagi di tahun 2011, Food and Drug Administration AS menyetujui penggunaan gas ini.* Uma – kisuta.com


