Bima dan Hanoman
DRUPADI berulangkali mengeluh: "Tanpa Arjuna, hutan Kamyaka tidak lagi indah. Tanpa Arjuna hidupku terasa hampa."
Para Pandawa yang lain pun merasakan rasa kehilangan yang sama. Mereka merasa kehilangan Arjuna yang pergi ke Himalaya untuk mencari senjata dewata.
Kata Bimasena kepada Drupadi: "Drupadi, aku sendiri merasakan perasaan yang sama dengan yang kau rasakan. Aku merasa kehilangan karena rasa cinta dan simpati. Tanpa Arjuna, hutan yang sedemikian indah serasa gersang. Hatiku tidak tenang jika tidak melihat Arjuna. Sadewa, apa yang kau rasakan?"
Sadewa menjawab: "Pertapaan ini terasa hampa tanpa Arjuna. Mungkin, sebaiknya kita pindah ke hutan lain supaya perasaan kehilangan ini menjadi lebih tertahankan."
Yudhistira berkata kepada Resi Dhaumya, pendetanya, "Aku mengutus adikku untuk mencari senjata dewata. Tetapi pahlawan kami yang pemberani dan tangkas itu belum juga kembali. Kami mengutusnya pergi ke Himalaya untuk memohon kepada Batara Indra senjata yang bisa mengalahkan Bhisma, Durna, Kripa, dan Aswatama. Kita tahu para mahaguru itu pasti akan memihak putra-putra Destarata. Karna tahu rahasia-rahasia senjata-senjata dewata dan keinginannya yang paling utama adalah bertarung melawan Arjuna. Aku mengirim Arjuna untuk memohon restu dan senjata dewata dari Batara Indra. Jika memiliki senjata dewata, kita bisa mengalahkan para Kurawa. Setelah dia berangkat menjalankan tugas maha berat itu, kami merasa sangat kehilangan. Kami kehilangan kebahagiaan. Aku ingin pergi ke tempat lain, supaya kami bisa menghadapi rasa kehilangan ini dengan lebih baik. Apakah engkau bisa menyarahkan ke mana sebaiknya kita pergi?"
Resi Dhaumya memberikan gambaran tentang hutan-hutan dan tempat-tempat suci lain. Kemudian, mereka mengembara ke hutan dan tempat suci itu untuk meringankan perasaan kehilangan yang mereka alami. Mereka mengembara selama bertahun-tahun dan mempelajari secara seksama legenda tempat yang mereka kunjungi. Sering kali Drupadi kehabisan tenaga karena harus mendaki gunung dan menerobos hutan. Kadang-kadang Bima dibantu Gatotkaca, anaknya, melayani dan menyemangati mereka. Kedua manusia perkasa itu membuat perjalanan mereka jauh lebih mudah.
Dalam suatu hari dalam perjalanan mereka menuju Himalaya, mereka harus melalui hutan belantara yang sangat lebat. Jalan setapak yang harus mereka lalui amat rimbun dan curam. Yudhistira merasa khawatir. Ia berkata kepada Bima bahwa perjalanan ini akan membuat Drupadi kesulitan dan ia sendiri akan meneruskan perjalanan bersama Nakula dan Resi Lomasa. Ia minta Bima dan Sadewa untuk menemani Drupadi bersama Ganggadwara.
Bima menolak usulan itu. Katanya perasaan kehilangan Arjuna semestinya mengajarkan kepada kakaknya seberapa sakit rasa yang akan ditanggung jika berpisah dari Sadewa, Drupadi, dan dirinya. Di samping itu, ia tidak bisa meninggalkan Yudhistira sendirian di hutan yang penuh dengan para raksasa, binatang buas, dan makhluk-makhluk jahat lain. Jalan yang mereka tempuh memang sangat berat. Tetapi dengan mudah ia akan melaluinya sambil menggendong Drupadi, Nakula, dan Sadewa.
Mendengar kata-kata adiknya itu, Yudhistira langsung memeluk Bima dan memberikan berkah supaya Bima bisa menjadi semakin kuat.
Drupadi tersenyum dan berkata: “Kalian tidak perlu menggendongku. Aku masih bisa berjalan. Jangan mengkhawatirkanku.”
Mereka tiba di kulinda, wilayah kerajaan Subahu, di kaki Gunung Himalaya. Pandawa disambut dengan penuh penghormatan oleh Raja Subahu. Di sana mereka beristirahat selama beberapa saat. Kemudian, mereka meneruskan perjalanan masuk ke hutan Naransrama. Di hutan, mereka beristirahat untuk beberapa hari.
Suatu hari, angin bertiup dari arah timur laut. Hembusan angin itu membawa sekuntum bunga yang cantik di dekat Drupadi. Harum dan bentuk bunga itu amat mempesona hati Drupadi. Dengan hati gembira, Drupadi segera menunjukkannya kepada Bima. Katanya: “Lihatlah bunga ini. Alangkah wanginya. Indah sekali bukan. Aku akan berikan bunga ini kepada Yudhistira. Carilah tanaman bunga lain. Aku akan menanamnya di hutan Kamyaka kita.” Drupadi berlari memberikan bunga itu kepada Yudhistira.
Karena ingin menyenangkan istri tercinta, Bima segera pergi untuk mencari tanaman bunga itu. Ia pergi sendirian ke arah sumber wangi bunga itu. Ia sama sekali tidak khawatir jika bertemu dengan binatang-binatang buas.
Setelah berjalan cukup jauh, ia tiba di kebun pisang raja di kaki gunung. Di sana ia melihat seekor kera raksasa tidur telentang di jalan yang akan dilalui Bima. Kera itu berbulu indah bercahaya. Ia mencoba mengusir kera itu dengan berteriak-teriak. Tetapi kera itu tetap saja berbaring. Sambil membuka sebelah mata, kera itu berkata: “Aku ingin beristirahat, maka aku berbaring di tempat ini. Mengapa engkau membangunkanku? Engkau manusia bijaksana, sementara aku hanyalah binatang. Semestinya engkau berbelas kasih kepada binatang, makhluk yang lebih rendah derajatnya. Jangan-jangan engkau tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah. Siapakah dirimu dan hendak kemanakah engkau? Kau tidak bisa meneruskan perjalanan karena ini adalah jalan setapak para dewa. Manusia tidak akan bisa melewati jalan ini. Makanlah buah-buahan yang ada di sini dan jika engkau cukup bijaksana, pulanglah dengan damai.”
Bima, yang tidak terbiasa diremehkan, marah besar dan berteriak lantang: “Siapa sebenarnya engkau, kera, hingga engkau membual sedemikian besar? Aku ini kesatria keturunan bangsa Kuru dan anak Dewi Kunti. Aku adalah anak Dewa Angin. Minggirlah dan berikan aku jalan atau engkau akan menerima akibatnya.”
Mendengar bentakan itu, kera itu hanya tersenyum dan berkata: “Aku, seperti yang kau katakan, hanyalah seekor kera, tapi engkau akan mengalami kebinasaan jika tetap memaksa lewat.”
Kata Bima: “Aku tidak sudi mendengar ucapanmu. Apa pedulimu jika aku binasa? Menyingkirlah, dan berikan aku jalan atau aku harus memaksamu menyingkir.”
Jawab kera itu: “Aku tidak punya kekuatan untuk bangun. Aku sudah tua. Jika kau memaksa mau lewat, langkahi saja aku.”
Bima berucap: “Itu mudah sekali, tapi kitab suci melarang tindakan semacam itu. Kalau tidak, aku pasti sudah melompatimu dan bukit itu sekaligus dalam satu loncatan, seperti Hanoman melompati lautan.”
Kera itu tampak terkejut, lalu bertanya: “Kesatria budiman, siapakah Hanoman yang mampu melompati lautan? Ceritakan kepadaku.”
Bima meraung dan katanya: “Apakah engkau belum pernah mendengar tentang Hanoman, kakakku, yang bisa melompati lautan yang lebarnya seratus yojana untuk mencari Dewi Sinta, istri Rama? Aku sama seperti dia, baik dalam hal keperwiraan maupun kekuatan. Begitu saja ceritanya, sekarang bangun dan berikan aku jalan. Jangan paksa aku menggunakan kekerasan.”
Jawab kera itu: “Kesatria perkasa, bersabarlah. Bersikaplah lembut karena engkau kuat dan berbelas kasihlah pada yang tua dan lemah ini. Aku tidak punya tenaga untuk bangkit berdiri, karena aku sudah terlalu tua. Karena engkau tidak mau melompatiku, silakan pindahkan ekorku dan carilah jalan untuk lewat.”
Bima yang bangga pada kekuatan sendiri berpikir ia bisa menarik ekor kera itu untuk menyingkirkannya dari jalan. Tetapi, di luar dugaan, Bima sama sekali tidak bisa menggeser ekor kera itu, meskipun sudah mengerahkan seluruh tenaga. Sekali lagi, ia cengkram ekor itu kuat-kuat dan ia kerahkan seluruh tenaga sampai otot-ototnya terasa ngilu. Ekor kera itu tetap tidak beranjak dari tempatnya sedikit pun. Bima merasa malu. Sambil menunduk menunjukkan hormat, dengan hati-hati ia bertanya: “Siapakah engkau? Apakah engkau ini sidha, dewa, atau raksasa?” Seperti orang-orang kuat lain,ketika bertemu dengan orang yang lebih kuat, Bima bicara seperti bicara seorang murid kepada gurunya.
Jawab Hanoman: “Pandawa yang perkasa, ketahuiklah aku ini adalah saudaramu. Aku adalah Hanoman, putra Dewa Bayu, yang baru saja engkau bicarakan. Jika engkau meneruskan perjalananmu melalui jalan ini dan sampai di dunia gaib tempat tinggal para yaksa dan raksasa. Engkau pasti akan menemui malapetaka. Karena itu, aku menghalangi jalanmu. Tidak ada manusia yang bisa selamat jika melewati batas ini. Sekarang, pergilah ke lembah di bawah sana. Di tepi sungai yang dalam engkau akan menemukan tanaman Saugandhi yang kau cari.”
Bima sangat gembira. Katanya: “Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan saudaraku. Aku ingin melihat wujudmu ketika melompati lautan.”
Hanoman tersenyum dan segera bangkit. Tiba-tiba badannya membesar bagaikan gunung memenuhi hutan itu. Hati Bima bergetar ketika melihat wujud asli saudara tuanya. Bima silau memandang Hanoman yang menjadi luar biasa besar dan bercahaya gilang gemilang.
Kata Hanoman: “Dihadapan musuh, badanku masih bisa lebih besar lagi.”
Dan Hanoman mengecilkan tubuhnya kembali, kembali ke wujudnya semula. Kemudian, dengan penuh kasih ia merangkul Bimasena.
Begawan Wiyasa mengatakan bahwa Bima merasa disegarkan kembali dan bertambah kuat setelah berjumpa dengan Hanoman.
Kata Hanoman: “Kesatria perkasa, pulanglah kembali pada saudara-saudaramu. Pikirkan aku jika kau butuh pertolonganku. Aku juga merasa sangat bahagia bisa bertemu denganmu. Ketika memelukmu, aku teringat masa mudaku. Aku beruntung bisa menyentuh ragamu yang suci. Mintalah anugerah apa pun yang engkau inginkan.”
Kata Bima: “Sungguh beruntunglah kami, para Pandawa, karena aku bisa bertemu denganmu. Dengan inspirasi kekuatanmu, kami yakin bisa mengalahkan musuh-musuh kami.”
Hanoman memberikan berkah pada saudaranya. “Ketika engkau meraung seperti seekor singa di medan perang, suaraku akan berpadu dengan suaramu, menggelegar dan menciutkan nyali musuh-musuhmu. Aku akan hadir di panji-panji kereta Arjuna. Engkau pasti mengalahkan musuh-musuhmu.”
Hanoman menunjukkan jalan menuju sungai tempat tumbuh tanaman Saugandhi yang Bima cari. Bima teringat kembali pada Drupadi yang jmenunggu kepulangannya. Ia segera mengumpulkan bunga-bunga itu dan kembali pada Drupadi.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


