Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Duka Cinta Duryudana

Jumat, 30 Januari 2015

DUKA mendalam menyelimuti bukan hanya keluarga Kurawa namun juga keluarga Pandawa. Basukarna atau Adipati Karna adalah Senopati agung Kurawa sahabat sejati Duryudana, namun dia juga anak sulung Dewi Kunti Pritha Talibrata, saudara tua Pandawa.

Senja yang senyap, hawa dingin menyiratkan kepedihan yang dalam...tertatih-tatih Duryudana menemui Bisma di tepi Kurusetra...

Duryudana: Duh Eyang....habis sudah saudara dan kerabat saya...sahabatku Karna yang setia dan selalu jujur berbicara dalam kebenaran, pralaya dalam keagungannya...apa lagi yang tersisa Eyang...

Bisma: Anak Prabu...nasi sudah menjadi bubur...acapkali sudah Eyang nasehati, bagilah saja kerajaanmu dengan sepupumu Pandawa kenapa mempertahankan keangkaramurkaan...korban yang jatuh tidak sebanding dengan hasratmu...

Duryudana: Eyang...adakah yang paham bagaimana perasaan saya sebagai anak sulung dari seorang putra sulung? Ayahku walau terlahir buta adalah putra sulung Hastinapura yang cakap dan memiliki kesaktian tinggi...perjalanan nasib membawanya pada kesepakatan menjadi wakil Paman Prabu Pandu Dewanata yang mangkat saat sepupuku masih bocah...Ooo Eyang...keadilan ini telah dibelokkan dari sini...hak anak sulung bagaimana bisa dialihkan pada si tengahan...

Bisma: Duryudana, mengapa terus kau korek luka hatimu hingga tak pernah mengering? Ingatlah, kesepakatan itu terjadi atas keikhlasan ayahmu Destarasta...sebagai putranya, wajib engkau mendukung dan mengikutinya...

Duryudana: Tidak Eyang....ini tidak adil....orang selalu melihat Pandawalah korban nya...Hhhrgghh...tidak adil...ini tidak adil...saya akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan...walau saudara kandungku dari 100 orang tinggal 5 orang...aku tetap akan berperang untuk harga diri dan kehormatanku...

Gontai Duryudana meninggalkan Bisma, di pesanggrahan Bulupitu, kehadirannya disambut istrinya Dewi Banowati yang saat itu bersolek luar biasa cantik dan molek, dengan kemben merahnya yang menonjolkan lekuk liku tubuhnya yang molig, Banowati melenggok membetot sukma gairah Duryudana...

Banowati: Kakangmas.....ini akhir hari ke 17, banyak senopati agung yang sudah pralaya....apakah tidak sebaiknya kita akhiri saja kesia-siaan ini Kaka Prabu...

(tidak seperti biasanya, Banowati yang biasanya jutek ogah-ogahan didekatinya, sekarang dengan kelembutan dan suara mendayu-dayu mendekatinya...hati Duryudana bimbang..benarkah pendengarannya ini? Inikah puncak penantiannya pada cinta Banowati? Selama ini dia menjadi suami yang tolol, mengetahui perselingkuhan abadi istrinya dengan Arjuna sang lelananging jagad...namun dia tidak berdaya atas nama cintanya pada Banowati...sekarang, Banowati bersuara lembut padanya..Oo dewata agung, inikah karunia yang ditunggu-tunggunya? Tergagap Duryudana mencoba menegaskan keraguannya.)

Duryudana: Banowati nimas tambatan hatiku...apa maksudmu Nimas? (Duryudana, mencoba meraih pinggang ramping Banowati...ajaib, se jelita itu membiarkan saja tubuh moleknya di peluk Duryudana...Hati sang Prabu gemuruh diamuk madu asmaranya pada sang istri yang memang selalu didambanya.)

Banowati: Kakaprabu..sudah banyak korban berjatuhan..kalau mau diteruskan lagi...bukankah bisa habis sampyuh tidak ada yang tersisa.. lihatlah, keluarga Kurawa tinggal Paduka, Yayi Kertamarma, Yayi Dursilawati, Yayi Jayawikata, Yayi Durmagati dan Yayi Satyasanda.... Demikian juga dengan keluarga Pandawa...para putra kinasihnya banyak yang sudah gugur, tinggal mereka berlima...Puntadewa, Bima, ehmmm.. Arjuna (Banowati mengucapkan nama ini dengan mendesis mesra sambil beringsut dari pelukan Duryudana)...Nakula dan Sadewa...

Sikap istrinya yang jinak-jinak merpati dan pelan-pelan mulai menepis belaiannya...apalagi saat menyebut nama Arjuna, membuat api kecemburuan bergolak di hati Duryudana yang memang sedang terluka.

Duryudana: Ooo Banowati...tega nian engkau terus menerus menyayat hatiku. Kau anggap apa perkawinan kita yang terus kau kotori dengan perselingkuhanmu dengan Arjuna itu...mataku awas, tapi hatiku lebih buta dari kanjeng rama Destarasta...manis mendayu-dayu suaramu membelai sukmaku, aku berharap engkau mengkhawatirkanku dan memberi kesejukan di hatiku yang luka ditinggalkan Basukarna dan Mbakyumu Surtikanti yang demikian mulya dan setia pada guru lakinya...ternyata..hmm..ternyata engkau hanya mencari kehidupan bagi laki-laki jalangmu...Baiklah nimas...mungkin sudah nasibku memiliki pasangan senista dirimu...akan kujalani hidupku hingga akhir...biarlah dunia mencatat, aku suamimu yang bodoh ini, bertahan berdampingan denganmu..walau aku tahu engkau memanfaatkan aku untuk status dan martabatmu, kehormatanmu...namun nafsu dan cintamu kau jual pada si jalang suami orang lain...Oooo Banowati, sepedih apapun lelakon hidupku, semoga di akhir hidupku nanti...engkau bisa meniru kakakmu Surtikanti yang belapati untuk suaminya...

Dengan kenes Banowati tersenyum sinis, dan meninggalkan suaminya yang mulai galau.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya