Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Aku Bukan Burung Bangau

Sabtu, 31 Januari 2015

SUATU ketika Resi Markandeya mengunjungi para Pandawa. Kebetulan saat itu Yudhistira sedang bicara tentang keutamaan seorang perempuan. Kata Yudhistira:

 "Apakah ada yang lebih mengagumkan daripada kesabaran dan kesucian seorang perempuan? Ia melahirkan anak, setelah menantikan dan menjaga seperti nyawanya sendiri selama sembilan bulan. Ia melahirkan ke dunia dengan rasa sakit dan kecemasan yang luar biasa. Setelah itu, satu-satunya hal yang ia pikirkan hanyalah kesehatan dan kebahagiaan si anak. Dengan hati seluas samudra dan penuh pengampunan, seorang perempuan terus mencintai suami, meskipun jahat, menyia-nyiakan, membenci, dan membuatnya menderita. Betapa anehnya dunia ini!"

Setelah mendengar itu, Resi Markandeya menceritakan sebuah kisah.

Dahulu kala hiduplah seorang brahmana yang bernama Kausika. Ia menjalani sumpahnya sebagai brahmacarin dengan setia dan sungguh-sungguh. Suatu hari, ia duduk di bawah sebuah pohon mendaraskan kitab Weda. Seekor burung bangau, yang hinggap di dahan, membuang kotoran tepat di kepala Kausika. Brahmana itu melihat ke atas. Tatapannya yang panas penuh bara amarah membunuh burung itu. Si burung jatuh dan mati. Sang brahmana tercenung sedih telah membunuh yang tidak berdosa.

Mengerikan sekali jika setiap keinginan yang terlintas di kepala langsung terwujud begitu saja. Apa yang akan terjadi jika setiap keinginan yang tidak dipertimbangkan matang, terwujud seketika itu juga? Bayangkanlah, betapa banyak penyesalan dan rasa berdosa yang akan kita alami! Untunglah pemenuhan keinginan kita tergantung pada faktor-faktor di luar diri kita dan oleh karena itu, kita terhindar dari sekian banyak dosa dan penyesalan.

Kausika menyesali pikiran jahat yang terlintas di benaknya ketika ia marah. Ia sedih pikiran itu akhirnya membunuh seekor burung bangau yang tidak berdosa. Beberapa lama kemudian, seperti biasa ia pergi meminta-minta sedekah.

Ia duduk di ambang pintuj untuk minta sedekah. Waktu itu, sang ibu rumah tangga sedang sibuk membersihkan perabot. Kausika terus menunggu dengan harapan setelah selesai ibu itu akan memberinya sedekah. Kemudian, si suami pulang dalam keadaan lelah dan lapar. Sudah sewajarnya, perempuan itu melayani kebutuhan suami: mencuci, membasuh kaki, dan menyiapkan makan. Karena kesibukannya, sepertinya perempuan itu lupa pada brahmana yang duduk di ambang pintu. Setelah selesai melayani suami, perempuan itu pergi menemui brahmana dan memberikan sedekah. Katanya: “Maafkan aku karena sudah membuat brahmana menunggu lama.”

Kata brahmana itu: “Ibu, engkau telah membuatku menunggu sangat lama. Engkau bersikap tidak adil.”

Jawab ibu itu: “Brahmana yang budiman, mohon maafkan aku. Aku harus melayani suamiku dan oleh sebab itu membuatmu menunggu lama.”

Kata Brahmana: “Memang benar, tugas seorang istri adalah melayani suami. Tetapi itu tidak berarti ia bisa mengabaikan seorang brahmana. Dasar perempuan sombong.”

Jawab ibu itu: “Jangan marah. Mohon diingat aku membuat brahmana menunggu karena aku sedang menyelesaikan tugas utamaku, melayani suami. Aku bukan burung bangau yang bisa dibunuh dengan tatapan mata penuh amarah. Amarah seorang brahmana tidak akan mengakibatkan apa-apa pada seorang perempuan yang mengabdi dan melayani suaminya dengan baik.”

Brahmana itu sangat terkejut. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa tahu tentang burung bangau yang mati karena tatapan matanya.

Lanjut ibu itu: “Brahmana yang terhormat, apakah engkau tahu tentang rahasia kewajiban? Apakah engkau tahu bahwa amarah adalah musuh terbesar dalam diri manusia. Mohon maaf sudah membuatmu menunggu lama. Pergilah ke Mithila dan belajarlah tentang rahasia hidup yang baik dari Dharmawyadha yang tinggal di kota itu.”

Brahmana itu keheranan. Katanya: “Ibu, aku pantas mendapatkan nasihatmu. Semoga kebahagiaan menaungi hidupmu.” Setelah itu, ia mohon diri untuk pergi ke Mithila.

Kausika tiba di Mithila dan mencari tempat tinggal Dharmawyadha. Semula ia pikir Dharmawyadha tinggal di sebuah pertapaan yang sepi, yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk hidup sehari-hari. Ia berjalan melintasi jalan-jalan yang ramai di perumahan yang indah di kota besar itu. Akhirnya, ia sampai di sebuah kedai penjual daging. Ia amat terkejut ketika tahu si penjual daging itu adalah Dharmawyadha.

Kausika heran. Ia hanya memandang dari kejauhan dengan perasaan jijik. Tukang daging itu tiba-tiba berdiri, mendatangi brahmana itu dan bertanya. “Brahmana yang terhormat, apakah engkau baik-baik saja? Apakah perempuan dari kasta brahmana itu yang menyuruhmu pergi ke mari?”

Sekali lagi Kausika terdiam karena heran. Kata tukang daging itu: “Brahmana yang terhormat. Mari pergi ke rumahku.”

Di rumah tukang daging itu, ia melihat sebuah keluarga yang bahagia. Ia kagum dengan cara tukang daging itu melayani orang tuanya. Kausika banyak mendapat pelajaran berharga tentang dharma, panggilan, dan kewajiban manusia. Setelah itu, brahmana itu pulang dan menjalankan kewajibannya kepada orang tuanya, yang semula agak terabaikan.

Pesan moral kisah Dharmawyadha ini oleh Wedawyasa dirangkai dan dimasukkan dengan indah ke dalam kisah Mahabharata. Kisah ini sama dengan ajaran Gita, bahwa manusia bisa mencapai kesempurnaan jika selalu tekun dan ikhlas menjalani setiap tugas yang dipercayakan kepadanya.

Ketekunan dan keikhlasan inilah bentuk sujud kita kepada Yang Maha Kuasa. Kewajiban ini mungkin adalah pekerjaan yang ditekuni di masyarakat atau mungkin yang dipaksakan keadaan atau hasil pilihan sadar. Namun demikian, yang paling penting adalah semangat keikhlasan dan kesetiaan dalam menjalankan kewajiban tersebut.

Wedawyasa ingin menekankan kebenaran agung ini dengan menempatkan seorang brahmana yang terpelajar, yang kebetulan belum tahu, pada posisi belajar pada seorang tukang daging, yang menjalani kehidupan yang sederhana dan terpinggirkan.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya