Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Candra Birawa

Minggu, 1 Februari 2015

DI tenda Prabu Salya yang ditetapkan sebagai Senopati Agung besok pada peperangan hari ke 18, Raden Nakula dan Sadewa berkunjung, berdatang sembah pada Uwa prabunya dengan takzim.

Salya: Wah...anak-anakku yang ganteng-ganteng si kembar...kadingaren kalian datang menengok uwamu ini...ada apa kaki...pas sekali dengan kerinduanku pada kalian wahai Madrimputra...

(Prabu Salya merangkul si kembar dengan kerinduan yang dalam...Aah betapa miripnya si kembar ini dengan adiknya yang cantik Dewi Madrim, adik yang sangat dicintainya, yang berbela pati mengiringi kematian Pandudewanata suaminya...tergetar hati Salya, ketika dirasakannya dalam pelukannya kedua satria kembar itu menyembunyikan sedu sedannya...)

Salya: Oooee La dalah...Nakula! Sadewa!...apa-apaan ini ? kalian menangis...tobat tobat satria macam apa kalian ini?!..Aku tampar kalian kalau tidak menghentikan tangis kalian...Malu aku memiliki keponakan cengeng seperti ini...tak patut kalian menjadi anak Madrim dan Pandu..

(Dengan marah Salya melepaskan pelukannya dan mendorong kedua keponakannya sampai hampir terjengkang)

Nakula: Uwa Prabu, jangan salah mengerti...tidak ada jiwa pengecut di hati kemenakanmu ini. Siapapun yang akan menjadi lawan hamba, Uwa tahu hamba akan menghadapinya dengan segenap jiwa raga...

Sadewa: Benar Uwa...namun besok, Senopati ing Ngalaga adalah Uwa Prabu, pengagem aji Candra Birawa...duh Uwa, daripada akhirnya saudara-saudara kami juga akan tumpas dengan ajian itu. Dan kami harus menanggung kedurhakaan berani melawan paduka...maka sore ini biarlah kami serahkan jiwa kami. Bunuhlah kami berdua, sebagai bhakti kami padamu Uwa..

Nakula: Sempurnakan jazad kami agar bisa menyusul bunda Madrim Uwa...

Salya tercenung, kedua keponakannya tersayang ini meminta dibunuhnya? itu tidak mungkin...rasa kasih dan cintanya pada adiknya Madrim membuatnya selalu dibayang-bayangi kekecewaan karena Madrim mati muda...kerinduannya berkurang jika menatap Nakula Sadewa...dan sekarng mereka minta pralaya di hadapannya...Salya mengernyitkan dahinya, sementara si kembar mulai merangkul kakinya dan sambat minta di bunuh...

Salya: Baiklah Nakula dan Sadewa...apa yang dapat Uwa lakukan untuk membatalkan permintaan gila mu itu?....weeiiittt tunggu dulu, jangan minta Uwa membatalkan niat jadi Senopati ya..itu tidak akan terjadi.

Nakula: Duh Uwa, kalau besok paduka tetap madeg senopati maka tumpaslah kami, siapa di jagad ini yang mampu mengalahkan aji Candra Birawa paduka yang sakti...

Sadewa: Benar Uwa, karena besok paduka akan tetap madeg senopati.. kami juga tidak tahu apa yang dapat kami lakukan...sungguh tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menandingi paduka...AJI Candra Birawa akan makin ngrembaka dihancurkan atau ketaman senjata, lalu apa jadinya dengan lawan tandingnya Uwa..

Salya:..Heemmm baiklah...baiklah...itulah intinya, walau berputar putar kalian katakan, sebenarnya kalian hanya ini aku udar apa kelemahan Candra Birawa...Nakula..Sadewa...sudah ikhlaskah kalian dengan kematian Uwamu?

Nakula & Sadewa: Ampuni hamba Uwa.... (Sunyi mencekam dalam babak yang membuat bisu kata-kata...bergolak bathin Salya berhadapan dengan kemenakannya)

Salya: Nakula...Sadewa, dengarkan baik baik..seharusnya kalian tahu, walaupun Uwamu ini senopati Hastinapura, namun hati kecilku selalu condong pada Pandawa..tanpa kalian mintapun, aku sanggup berkorban untuk kalian. Hhhmmm...tapi benar...sebaiknya memang kalian tahu kelemahan Candra Birawa, sehingga kematianku akan sempurna sebagai kematian senopati di medan peperanga.

Sesungguhnya, hanya ksatria yang berdarah putihlah yang mampu mengalahkan Candra Birawa..ksatria yang tulus hatinya, tidak pernah berbohong. Dan di dunia ini hanya ada 3 ksatria berdarah putih yaitu...Prabu Subali paman Hanoman, Begawan Bagaspati mertuaku dan Puntadewa kakak sulungmu. Jadi sekarang tinggal Puntadewalah lawan tanding yang seimbang bagiku...khabarkan ini pada saudara-saudaramu..pulanglah keponakanku...doa Uwa bersamamu selalu...

Nakula dan Sadewa kembali ke Pesanggrahan Randuwatangan membawa khabar keikhlasan Salya...

Malam itu Duryudana mengumumkan pengangkatan Salya sebagai Senopati hari ke 18 bagi pihak Kurawa. Aswatama yang mendengar penunjukkan ini protes keras, Aswatama yang menjadi saksi kematian Karna mengajukan keberatan karena Salya telah berkhianat, yaitu diam-diam membantu Arjuna. Namun, Duryodana justru menuduh Aswatama bersikap lancang dan segera mengusirnya. Pengusiran Duryudana makin mempertebal amuk dendam di hati Aswatama...dalam hati nya dia bersumpah tidak akan maju membela Duryudana saat Duryudana masih ada namun seusai Baratayuda, dia akan menuntut balas dan membunuh sebanyak mungkin keluarga Pandawa yang dapat di bunuhnya termasuk wanita dan anak-anak.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya