Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Nafsu yang Tidak Pernah Bisa Terpuaskan

Senin, 2 Februari 2015

BANYAK brahmana mengunjungi Pandawa di tempat pengasingan mereka. Salah satu dari mereka kembali ke Hastinapura dan menghadap Destarata. Dia disambut dengan baik oleh raja buta itu. Brahmana itu menceritakan bagaimana penderitaan yang harus dialami para Pandawa. Mereka terlahir sebagai  pangeran, tetapi karena takdir yang kejam harus menjalani kehidupan yang sangat berat. Mungkin, Destarata merasa sedih dengan penderitaan yang dialami Pandawa. Tetapi yang paling merisaukan pikirannya adalah akibat yang harus dihadapi anak-anaknya. Apakah Yudhistira bisa terus menahan amarah Bima yang menggelegak.

Destarata takut amarah para Pandawa, yang selama ini tertahan di pengasingan, suatu ketika akan meledak dan menghancurkan semuanya.Dengan hati gelisah, raja itu berpikir: "Arjuna dan Bima  pasti menghukum kami. Sengkuni, Karna, Duryudana, dan Dursasana yang berpikiran pendek berada di atas pohon untuk mencari madu smentara di bawahnya adalah jurang dalam amarah Bima yang menantikan kejatuhan mereka."

Raja buta itu termenung: "Mengapa kami membiarkan diri larut dalam iri hati? Bukan kemiskinan yang membuat kami  melakukan ini semua. Mengapa kami menempuh jalan yang mencederai keadilan? Alih-alih menikmati kemakmuran sendiri yang sudah melimpah ruah, kami justru membiarkan diri diperbudak nafsu kekuasaan, kekayaan, dan iri hati pada kekayaan orang lain. Kejahatan hanya akan berujung pada kehancuran diri sendiri. Arjuna sudah kembali dari kahyangan dengan membawa senjata dewata. Apa yang bisa membuatnya kembali ke bumi jika bukan hasrat untuk membalas dendam? Kami memang pantas mendapatkan pembalasan dendam mereka." Pikitan itu terus menghantui dan mengganggu kedamaian hati Destarata.

Sementara Destarata dicekam kerisauan. Sengkuni, Karna, dan Duryudana justru mabuk kemenangan. Mereka menjadi lupa daratan. Kata Sengkuni dan Karna kepada Duryudana: "Sekarang kerajaan Yudhistira sudah menjadi milik kita. Kita tidak perlu merasa iri."

Jawab Duryudana: “Karna, apa yang kalian katakan memang benar. Tapi, kebahagiaan yang paling besar adalah melihat dengan mata kepala sendiri penderitaan yang dialami para Pandawa dan membuat mereka semakin menderita dengan menunjukkan kebahagiaan kita. Satu-satunya jalan menyempurnakan kebahagiaan kita adalah pergi ke hutan dan melihat penderitaan yang mereka alami. Tapi ayahku pasti tidak akan mengizinkan.” Duryudana menitikkan air mata ketika membayangkan penolakkan ayahnya untuk membiarkan mereka menikmati kemenangan mereka di depan para Pandawa.

Katanya lagi: “Raja takut pada Pandawa. Dia pikir mereka menjadi semakin sakti dan kuat berkat tapa brata.Karena alasan itu, ia melarang kita pergi ke hutan dan melihat mereka. Ia pikir itu akan membahayakan kita. Tapi, kemenangan ini belum memuaskan jika belum menyaksikan penderitaan Drupadi,Bima, dan Arjuna di hutan. Bukankah hidup tanpa kepuasan sama artinya dengan hidup yang menyiksa. Kau dan Sengkuni harus mencari cara untuk mendapatkan persetujuan raja untuk pergi ke hutan dan melihat penderitaan Pandawa.”

Keesokan harinya, Karna menghadap Duryudana dengan wajah cerah. Ia katakan bahwa ia tahu caranya mendapatkan izin raja. Katanya: “bagaimana jika kita pergi ke peternakan sapi di Dwaitayana? Tidak mungkin raja menolak rencana ini.” Sengkuni dan Duryudana memuji gagasan yang gemilang itu. Kemudian mereka memerintahkan kepala pengembala untuk minta izin kepada raja.

Tetapi, raja tetap tidak memberikan izin. Katanya: “Memang, berburu baik bagi para pangeran. Baik pula untuk menengok peternakan sapi kita. Tapi sepengetahaunku, Pandawa tinggal di hutan dekat tempat itu. Sebaiknya kalian tidak pergi ke sana. Aku tidak memperbolehkan kalian pergi ke tempat yang dekat dengan tempat tinggal Arjuna dan Bima. Saat ini kemungkinan untuk perselisihan dan pecahnya amarah masih ada.”

Kata Duryudana: “Kami tidak akan pergi dekat mereka. Kami akan berhati-hati dan menghindari mereka.”

Jawab raja: “Betapapun kalian hati-hati, dekat mereka saja sudah berbahaya. Selain itu, sebaiknya tidak mengusik penderitaan para Pandawa yang hidup di hutan. Mungkin saja, salah satu pengawalmu tersesat dan bertemu mereka. Itu berarti masalah besar. Akan kukirim orang lain untuk memeriksa ternak kita. Kalian tidak boleh pergi.”

Kata Sengkuni: “Tuanku Raja, Yudhistira tahu dan patuh mengikuti jalan dharma. Ia sudah berjanji di depan umum untuk menepati perjanjian kita. Putra-putra Kunti tidak akan memperlihatkan sifat permusuhan kepada kita. Sebaiknya tidak menghalangi keinginan Duryudana untuk berburu. Izinkan ia pergi dan kembali setelah membawa binatang hasil buruan. Aku akan pergi menemaninya dan memastikan tidak ada yang mendekati tempat tinggal para Pandawa.”

Seperti biasa, setelah didesak-desak Destarata akhirnya memberikan izin: “Baiklah, jika demikian. Pergilah dan bersenang-senanglah.”

Hati yang penuh dengan kebencian tidak akan mengenal kata puas. Kebencian adalah bara api kejam yang menghabiskan energi orang yang menghidupinya.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com  


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya