Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Dendam Kesumat Sengkuni

Selasa, 3 Februari 2015

LIRIH suara gemerisik dedaunan yang tersibak langkah Sengkuni. Namun suara lirih itu cukup bagi Gendari untuk menyadari kehadiran adiknya di taman Hastinapura...

Gendari: Sengkuni..engkaukah itu? Mengapa kau tinggalkan Bulupitu? Langkahmu mengendap-endap...apa yang akan kau lakukan?

Sengkuni: Oooh..mbakyu Gendari, luar biasa tajamnya pendengaranmu.. penderitaanmu menutup mata indahmu sejak diperistri kakang Destarasta..membuatmu punya kelebihan pendengaran layaknya orang buta...

Gendari: Hem Sengkuni, apa yang engkau maksud dengan penderitaan? Aku menutup mataku, adalah tapaku yang sudah aku niati. Bahwa hidupku selanjutnya adalah menjalani suratan takdirku..tidak lagi membawa kemauan dan keinginanku semata. Sejak kanda Destarasta memperistrikan aku..aku sadar, inilah suratan takdirku..karena itu aku tutup mataku..agar tidak ada godaan dunia yang bisa membelokkan pengabdianku menjalani suratanku...aku tidak pernah menderita Sengkuni, aku menikmati tapaku ini...

Sengkuni: Halah..itu khan omonganmu, engkau tidak jujur pada keinginanmu mbakyu Gendari...kita ini bersaudara kandung, aku tahu setelah sayembara di praja Gandara Pandu memenangkan dirimu, harapanmu tentu menjadi istri Pandu yang tampan dan sakti...Eeallah Pandu malah menyerahkan dirimu yang cantik bahenol pada kakaknya yang buta...sudahlah...aku tahu kekecewaanmu, karena itulah kau tutup matamu untuk menjadi serupa suamimu yang buta...

Gendari: Jagad Dewa Batara..hati-hati dengan ucapanmu yang berbisa Sengkuni, yang kamu lihat adalah yang kasat mata sesuai pikiranmu sendiri..tapi yang menjalani aku. Ini tapaku...aku tutup mataku untuk kakang Destarasta...ternyata kemudian aku temukan indahnya menutup sebagian pancaindra dari godaan dunia..aku sekarang hanya mengabdikan diriku untuk merawat suamiku, utuh pengabdianku untuk guru lakiku, aku tidak butuh kemewahan karena semua dalam wujud cukup, mataku tidak menuntut lebih, bahagiaku adalah ketika kami berdua bisa menghirup bau embun usai hujan, dan bisikan angin di senja hari...Sengkuni, jangan hasut aku dengan dendam dan ambisimu...

Sengkuni: Mbakyu Gendari...dengarlah, berhentilah sok suci...ini Baratayuda sudah hampir selesai...Kurawa bisa dipastikan sudah kalah lah lah...Durna sudah mati, Karna yang anak Dewa keok...Bisma yang Agung sekarang sekarat di pinggir Kurusetra dengan ratusan panah merajam tubuhnya...hwa hua..hahahahaha...rasain...dendamku pada leluhur Hastinapura hampir impas...tidak peduli siapa yang tumpas Pandawa atau Kurawa...sama saja..dendam rakyat Gandhara dan Plasa Jenar, terlampiaskan karena kecerdikan Sengkuni...kamu harus bangga dengan adikmu ini mbakyu Gendari...nah, dengarkan rencanaku...mari diam-diam kita tinggalkan Hastinapura..kembali ke Plasajenar...biarkan mereka saling menghancurkan diri sendiri...kita berdua hidup mulya di kerajaan kecil kita mbakyu...

Gendari (ditepiskannya tangan Sengkuni yang berusaha menggandengnya, nadanya mulai marah): Tobat Sengkuni!!..sudah bukan manusia kamu ini...dendam telah merubahmu menjadi iblis..ketidakpedulianmu pada kehancuran trah Kuru...berarti engkaupun sudah tega pada anak-anakku, keponakanmu sendiri...Duh Gusti..ternyata suratan takdirku belum usai menapak kenistaan..adikku sendiri memandikan lumpur pada tubuhku yang aku jaga dari jerat duniawi...tidak Sengkuni...Tidak!!!...aku tidak akan meninggalkan suami dan anak-anakku...inilah lelabuhan Gendari...hanya kematian yang bisa mencabutku dari sisi Destarasta....(Dewi Gendari bergegas masuk ke biliknya meninggalkan Sengkuni yang terpaksa kembali ke Bulupitu karena bujukannya ditolak Gendari mentah-mentah).*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya