Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Duryudana Dipermalukan

Rabu, 4 Februari 2015

KURAWA tiba di Dwaitawana dengan sejumlah besar pasukan dan pengiring. Duryudana dan Karna sangat senang. Mereka pikir mereka bisa menertawakan penderitaan Pandawa. Mereka mendirikan tempat peristirahatan yang mewah, sekitar empat mil dari tempat tinggal Pandawa.

Mereka memeriksa ternak dan mengambil beberapa. Setelah menghitung sapi, kerbau, dan anak sapi, mereka berpesta, menari, berburu, dan melakukan permainan di hutan. Mereka juga telah menyiapkan hiburan-hiburan yang lain.

Ketika berburu, Duryudana dan rombongan tiba di sebuah telaga yang sangat menarik di dekat tempat tinggal Pandawa. Segera para pengawal diperintahkan untuk mendirikan kemah di tepi telaga itu.

Citrasena, raja para gandarwa, dan para pengawalnya sudah beberapa hari mendirikan tenda di tempat itu. Mereka menyuruh para pengawal Duryudana untuk mencari tempat lain. Kemudian, mereka kembali pada Duryudana. Mereka melaporkan bahwa seorang pangeran yang picik melarang mereka untuk mendirikan tenda di tepi telaga.

Mendengar laporan para pengawal, hati Duryudana panas. Ia menyuruh orang-orangnya kembali dan mengusir para pengganggu itu.

Para pengawal kembali ke tepi danau dan menjalankan perintah tuan mereka. Tetapi pasukan gandarwa lebih banyak dan membuat mereka lari terbirit-birit.

Mendengar bahwa pasukannya dipukul mudur, Duryudana sangat marah. Ia perintahkan pasukan menyerbu dan menghancurkan musuh yang telah lancang menghalangi kesenangan mereka.

Maka terjadilah pertempuran yang sengit antara pasukan Citrasena dan pasukan Duryudana. Semula pasukan Duryudana tampak unggul, tetapi keadaan berubah drastis. Ketika Citrasena mengerahkan pasukan dan mulai menggunakan senjata-senjata sakti. Karna dan para Kurawa kehilangan kereta kuda dan senjata mereka. Mereka terpaksa mundur dan lari terbirit-birit. Tinggal Duryudana sendirian. Akhirnya ia ditawan Citrasena.

Dengan kaki dan tangan terikat, ia dimasukkan ke dalam kereta Citrasena. Sangkakala dan terompet dari kerang besar ditiup, mengabarkan kemenangan pihak Citrasena. Banyak pasukan Duryudana yang tertawan. Yang lain tercerai berai. Mereka lari menyelamatkan diri ke segala penjuru dan beberapa melarikan diri ke pertapaan Pandawa.

Mendengar kabar kekalahan dan penawanan Duryudana, Bima amat senang. Katanya kepada Yudhistira: "Para raksasa itu telah membantu pekerjaaan kita. Duryudana yang datang ke mari untuk mengolok-olok kita sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka."

Tapi Yudhistira menjawab: "Saudaraku, sekarang bukan saat yang tepat untuk bergembira. Kurawa adalah kerabat, sepupu kita. Mereka sedang mendapatkan malu di tangan orang-orang asing. Itu berari tamparan bagi kita juga. Kita tidak boleh membiarkan penghinaan ini. Kita harus menyelamatkan mereka."

Bima jelas tidak setuju. Katanya: "Mengapa kita harus menyelamatkan orang-orang jahat yang pernah berusaha membakar kita hidup-hidup di istana kayu? Mengapa kita harus bersedih untuk para durhaka yang pernah meracuni makanan yang kumakan, mengikat kaki dan tanganku serta berusaha membuatku mati tenggelam? Rasa persaudaraan macam apakah yang bisa tumbuh pada para durhaka yang telah menyeret rambut Drupadi dan berusaha menelanjanginya di depan umum?"

Sementara mereka berdebat seru, terdengar jerit minta tolong Duryudana dari kejauhan. Yudhistira yang tidak bisa menahan iba segera menyuruh Bima untuk menolong para Kurawa. Meskipun tidak bisa memahami keputusan Yudhistira, Bima, dan Arjuna segera mengumpulkan pasukan Kurawa. Mereka memimpin penyerbuan ke perkemahan bala tentara raksasa itu.

Tetapi, Citrasena tidak ingin bertempur melawan Pandawa. Setelah berunding, akhirnya Citrasena mau melepaskan Duryudana dan para tawanan yang lain. Kata Citrasena ia hanya ingin memberi pelajaran kepada para Kurawa yang angkuh. Dengan menanggung perasaan malu yang luar biasa, para Kurawa kembali ke Hastinapura. Di jalan, Karna yang sebelumnya melarikan diri, menggabungkan diri kembali.

Duryudana merasa malu dan terhina. Katanya lebih baik mati di tangan para raksasa daripada dipermalukan seperti itu. Ingin rasanya ia berpuasa seumur hidup, sampai mati.

Katanya pada Dursasana: "Gantikan aku sebagai raja. Pimpinlah kerajaan ini. Aku tidak sanggup hidup lebih lama lagi setelah menjadi bahan tertawaan musuh-musuh kita."

Dursasana merasa tidak pantas menggantikan kakaknya. Ia segera pegang kaki kakaknya dan menangis. Karna tidak tahan melihat kesedihan dua bersaudara itu.

Hibur Karna: "Tidak pantas kesatria keturunan Kuru berputus asa. Apa gunanya putus asa karena perasaan sedih dan duka? itu hanya akan membuat musuh senang. Lihatlah para Pandawa, meskipun dipermalukan sedemikian hebat mereka tidak berpuasa sampai mati."

Sengkuni menambahkan: "Dengarkan kata-kata Karna. Mengapa engkau ingin mengakhiri hidup setelah berhasil merebut dan tinggal menikmati kekayaan kerajaan Pandawa. Tidak ada gunanyaberpuasa. Kalau kau memang menyesal, sebaiknya berdamai saja dengan Pandawa dan mengembalikan kerajaan mereka."

Mendengar nasihat Sengkuni, sifat jahat Duryudana muncul kembali. bagi Duryudana mengembalikan kerajaan Pandawa jauh lebih buruk daripada kekalahan dan penghinaan ini. Ucapnya: "Tidak! Aku akan hancur lumatkan mereka."

Kata Karna: "Begitu seharusnya seorang raja bicara." Dan katanya lagi: "Apa gunanya memilih sekarat? Jika mati kau tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Sesampainya di Hastinapura, Karna bersumpah: "Aku bersumpah demi semua yang suci setelah tahun ketiga belas yang telah disepakati itu habis, aku akan bunuh Arjuna." Kemudian, ia usap pedangnya sebagai tanda sumpah.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya