Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Salya Perlaya

Kamis, 5 Februari 2015

DI Keputren Mandaraka, Prabu Salya pamit mati pada istrinya Dewi Setyawati. Ia tidak berperang, ia menjemput kematian, karena sudah menjadi ketetapan Dewa , seperti apa yang dikatakan Rama Begawan Bagaspati, saat kematian Prabu Salya adalah dalam Perang Baratayudha, Kematian itu akan diperoleh dari seorang satria suci berdarah putih yaitu Prabu Puntadewa. Kesempatan itu adalah kesempatan baik, untuk ke surga bersama Begawan Bagaspati.

Setyawati: Duh Kanda belahan jiwaku, sepertinya akhir hidup kita akan segera digenapi. Baiklah Kanda, baktiku padamu seharusnya memang dilengkapi baktiku pada Rama Begawan Bagaspati. Dulu, beliau berkorban untuk kebahagiaan kita. Sekarang saatnya kita ikhlas mempersiapkan diri sowan bersama ke kelanggengan sejati.

Salya: Setyawati, betapa beruntungnya aku yang sombong, ugal-ugalan dan tidak tahu diri ini beristrikan engkau Nimas. Kesetiaanmu yang luar biasa, utuh dan tanpa pamrih sungguh menggetarkan sukmaku. Benar yayi, perjalanan hidup kita hampir sampai pada akhirnya, biarlah aku jemput kematian ini sebagai senopati ing ngalaga. Aku ikhlas yayi...Ooo, sungguh aneh bahwa akhirnya aku Narasoma..Salya, bisa menemukan keikhlasan seperti ini jelang akhir hidupku.,..sudah aku buka rahasia kekalahanku pada Nakula Sadewa, semoga mereka menyiapkan semuanya dengan baik...

Setyawati: Syukurlah suamiku, akhirnya kanda temukan keikhlasan yang sungguh menentramkan hati walaupun kematian di depan mata.

Salya: Benar Setyawati..Aaah...betapa butanya aku selama ini...tidak pernah aku syukuri karuniaNya berupa istri yang demikian setia, anak-anak yang cantik-cantik, Burisrawa walaupun berujud yaksa tetapi tetap memiliki jiwa ksatria yang patut dibanggakan, mati sebagai pahlawan..Oooo...Setyawati, sesal tidak ada gunanya...betapa aku telah menghina Karna mantuku yang luhur budi hanya karena di pandanganku dia kurang kaya kurang hebat bagi putriku Surtikanthi..hhehmmm (Prabu Salya mengernyitkan dahi...penyesalan menyeruak di lubuk hatinya yang selama ini dipenuhi ketinggian hati dan kesombongan...semua seakan menjadi gambaran kealpaannya bersyukur)

Setyawati: Sudahlah kakang...mari kita nikmati malam terakhir ini sebagai wujud rasa syukur kita berdua, Paduka masih diberi kesempatan untuk menikmati keikhalasan dan bisa menemukan jati diri Paduka...walau mungkin itu sudah terlambat kanda... (Salya hanya bisa mengangguk..beriringan mereka bergandengan tangan ke peraduan..surga dunia mereka di malam terakhir.)

Keesokan harinya, di Tegal Kurusetra, sangsakala telah dibunyikan, perajurit bersiap-siap utuk maju ke medan laga. Prabu Salya berbaju putih-putih memasuki Tegal Kurusetra dengan kereta perangnya.

Sementara itu, kereta perang Prabu Yudistira dengan sais Bathara Kresna memasuki medan perang dari garis pertahanan Pandawa. Di sinilah kereta perang Prabu Salya dan kereta perang Prabu Yudistira bertemu.

Yudistira: (turun dari keretanya menyembah takzim pada Salya) Sembah Pangabekti Uwa Prabu, maafkan kelancangan Nanda yang berani menghadapi Paduka.

Salya: Anak Prabu, dengan bangga dan terhormat aku siap menghadapimu. Kebanggaan mana lagi yang bisa diterima Salya, selain berperang dengan putra Hyang Dharma, raja ksatria berdarah putih...mari Yudistira kita selesaikan kewajiban kita, jangan ragu-ragu hadapi aku..keluarkan segenap kesaktianmu wahai Panduputra.

Sekali lagi Yudistira menghormat uwanya dan kembali ke keretanya, keduanya saling mengadu kepandaian dalam memanah, Prabu Salya melepaskan beberapa kali serangan.

Namun semua serangannya meleset jauh dari sasaran. Sedangkan Prabu Yudistira belum pernah melayangkan satu kali panahpun. Prabu Salya mengeluarkan Aji Candrabirawa. Raksasa besar keluar dari tubuh Prabu Salya. Seluruh Bala Pandawa merasa cemas dengan kehadiran Candrabirawa. Raksasa itu mendekati Prabu Yudistira, Yudistira segera bersemadi mohon perlindungan dewata. Seketika raksasa itu lenyap dari pandangan mata. Kebersihan hati dan kemuliaan jiwa Yudistira telah membakar Aji Candrabirawa hingga musnah.

Akhirnya Prabu Yudistira melayangkan pusaka Jamus Kalimusada, Ketika pusaka Jamus Kalimasada dilemparkan, wujud Jamus Kalimasada berubah bentuk menjadi sebuah tombak,. namun arahnya mula-mula melenceng karena keraguan Yudistuira, sehingga tidak mengenai Prabu Salya. Tanpa diduga, pusaka Jamus Kalimuasada itu tiba-tiba berbalik dan tepat mengenai dada Prabu Salya, sehingga Prabu Salya gugur di palagan. Rupanya, pusaka yang meleset itu telah ditangkap oleh sukma Begawan Bagaspati, dan diarahkan tepat ke dada Prabu Salya hingga tewas.

Pasukan Kurawa kocar kacir melihat senopatinya gugur...padahal perang hari ke 18 itu belum mencapai separo hari...

Kurawa kehilangan pimpinan karena prabu Duryudana pun hilang dari padang Kurusetra....Duryudana yang melihat kematian Salya, kehilangan akal sehatnya...tinggal glanggang colong playu...Duryudana memilih lari ke hutan Wanamarta dan berendam ke tengah telaga untuk meredakan amuk dendam di hatinya...

Para putra Pandawa segera merawat jenazah Salya. Pada upacara perabuan jasad Prabu Salya, istri tersayang Prabu Salya, Dewi Setyawati, ikut bela pati, terjun ke dalam api yang sedang bergolak membakar jasad Prabu Salya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya