Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Sri Krishna Lapar

Sabtu, 7 Februari 2015

KETIKA para Pandawa tinggal di hutan, Duryudana melangsungkan upacara korban dengan segala kebesaran dan kemegahan. Sebenarnya ia berniat menyelenggarakan upacara Rajasuya, tetapi para brahmana memberikan nasihat yang berbeda. Menurut mereka , Duryudana belum bisa menyelenggarakan upacara itu karena Destarata dan Yudhistira masih hidup. Mereka menyarankan Duryudana untuk melaksanakan upacara Waishnawa. Ia bisa menerima saran tersebut dan melaksanakan upacara Waishnawa dengan megah.

Tetapi ketika upacara selesai, banyak yang membicarakan upacara tersebut. Kata mereka dalam hal kemegahan upacara tersebut tidak sampai seperenam belas upacara Rajasuya yang diselenggarakan Yudhistira. Di sisi lain, teman-teman Duryudana memuji dan mengatakan bahwa upacara tersebut menyamai kebesaran upacara-upacara yang pernah dilaksanakan oleh Yayati, Mandhata, Bharata, dan lainnya. Para penjilat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Karna mengatakan bahwa Rajasuya hanya ditunda sampai para Pandawa dikalahkan dan dibantai di medan perang. Berulang kali ia katakan bahwa tugas utamanya adalah membunuh Arjuna.

Kata Karna: “Sebelum bisa membunuh Arjuna, aku bersumpah tidak akan makan daging dan minum anggur; aku tidak akan menolak permintaan siapa pun.” Demikianlah, sumpah Karna.

Putra-putra Destarata amat senang mendengar sumpah Karna, mereka bersorak sorai seolah-olah Karna sudah berhasil membunuh Arjuna.

Mata-mata dikirim kepada Pandawa untuk menyampaikan berita tersebut. Mendengar kabar itu, Yudhistira amat khawatir. Ia tahu Karna sangat mahir menggunakan berbagai senjata. Karna memang lahir bersama dengan senjata dewa dan seorang kesatria yang mumpuni.

Suatu pagi, persisi sebelum bangun Yudhistira bermimpi. Banyak mimpi kita muncul pada awal atau pada akhir tidur kita. Ia bermimpi binatang-binatang hutan mendatanginya dan memohon supaya mereka tidak dihabisi. Mereka minta para Pandawa untuk pindah ke hutan lain. Mereka memohon dengan air mata berlinang. Tersentuh dengan permohonannya itu, Yudhistira memutuskan pindah ke hutan lain bersama saudara-saudaranya.

Nenek moyang kita sadar sepenuhnya bahwa kehidupan liar di hutan harus dllestarikan.

Suatu hari, Resi Durwasa menemui Duryudana bersama dengan keseribu muridnya. Duryudana sudah tahu sifat resi itu. Karenanya, ia melayani sendiri semua urusan penyambutan tamu agung itu. Dia sediakan jamuan yang sangat mewah sehingga resi dan rombongan merasa puas. Karena puas dengan pelayanan yang telah diberikan, resi tersebut berjanji untuk mengabulkan apa pun yang diminta Duryudana.

Duryudana amat lega berhasil lolos dari ujian berat itu. Ketika sang resi berjanji akan mengabulkan permintaannya, Duryudana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera mohon supaya resi yang  mudah marah itu berkenan mengunjungi saudara-saudaranya, para Pandawa di hutan.

Katanya: “Resi yang terberkati sudah memberkahi kami dengan menerima pelayanan yang kami berikan. Saudara-saudara kami tinggal di hutan. Mohon resi berkenan mengunjungi mereka juga, supaya mereka bisa merasakan kehormatan dan kegembiraan yang kami rasakan.” Duryudana menyarankan demikian karena tahu semua makanan yang disiapkan para Pandawa pasti sudah habis dan tidak ada lagi yang tersisa untuk yang tiba-tiba datang.

Resi, yang suka menguji orang, menyetujui permintaan Duryudana. Duryudana yakin Pandawa, yang hidup sussah di hutan, tidak akan bisa menjamu atau menghibur resi dan rombongan besarnya. Dan karena itu, mereka akan mendapat kutukan dari tamu yang gegabah karena mengharapakan pelayanan yang baik. Malapetaka semacam inilah yang lebih diharapkan Duryudana daripada anugerah apa pun yang mungkin diberikan Resi Durwasa.

Durwasa bersama para murid pergi ke pertapaan Pandawa seperti yang diharapkan Duryudana. Mereka tiba di pertapaan setelah jam makan. Para Pandawa menyambut mereka dan memberikan hormat kepada tamu agung itu. Kemudian, resi itu berkata: “Kami akan kembali sebentar lagi. Makanan yang kalian sediakan untuk kami harus sudah siap, karena kami pasti sudah lapar.” Setelah berkata demikian, resi itu bergegas bersama para murid pergi ke sungai untuk membersihkan badan.

Berkat tapa brata yang dilakukan Yudhistira pada awal masa pngasingan, Batara Surya menganugerahkan Akshayapatra. Tempurung ajaib, yang tidak akan kehabisan persediaan makanan. Ketika menganugerahkan tempurung itu, batara Surya berkata: “Dengan tempurung ini, aku akan membantu kalian menyediakan kebutuhan makanan yang kalaian butuhkan setiap hari selama dua belas tahun. Isi tempurung ini tidak akan habis sebelum semua orang termasuk Drupadi makan.”

Demikianlah, para brahmana dan tamu dipersilahkan makan dulu. Setelah mereka selesai, barulah para Pandawa mulai makan. Pada akhirnya, Drupadi akan mendapat giliran. Ketika Durwasa itu tiba di pertapaan, mereka semua termasuk Drupadi, sudah selesai makan dan dengan demikian, tempurung itu sudah kosong dan tidak mungkin lagi mengeluarkan makanan pada hari itu.

Drupadi sangat kebingungan dan sama sekali tidak tahu makanan apa yang akan disediakan ketika Resi Durwasa dan para muridnya kembali dari membersihkan diri. Di dapur, ia berdoa mohon supaya Sri Krishna hadir di sana dan membantunya dalam kondisi yang hampir mustahil itu agar terhindar dari amarah sang resi.

Seketika itu juga Sri Krishna muncul di hadapannya. Katanya: “Aku sangat lapar. Segera ambilkan makanan untukku. Setelah kenyang, aku akan jelaskan semuanya.”

Drupadi semakin kebingungan. Orang yang diharapkan bantuannya justru menambah buruk keadaan. Drupadi berseru dengan putus asa: “Oh Dewata! Mengapa engkau ingin mengujiku juga, Krishna? Kekuatan tempurung ajaib pemberian Batara Surya sudah habis untuk hari ini. Dan Resi Durwasa mengunjungi kami. Apa yang harus aku lakukan? Resi dan para murid akan segera kemari. Masalah itu belum selesai. Engkau datang dan berkata bahwa engkau lapar.”

Kata Krishna: “Aku sangat lapar dan berikan aku makanan, cepat! Ambillah tempurung itu dan biar aku lihat sendiri.”

Drupadi  segera mengambil tungpurung itu dan memberikannya kepada Sri Krishna. Krishna melihat ada sisa nasi dan sayur di dasar tempurung. Sri Krishna memakannya dengan lahap. Sri Krishna memakanya sebagai Sri Hari, jiwa alam semesta.

 

Drupadi merasa malu dengan kecerobohannya dalam membersihkan sisa-sisa makanan. Makanan yang tersisa itu malahan dimakan Wasudewa!ampaknya Sri Krishna sudah kenyang hanya dengan sisa nasi dan sayur itu. Kemudian, ia segera memanggil Bima dan menyuruhnya untuk memberitahukan kepada resi dan para murid bahwa makanan sudah siap.

 

Bima kebingungan, tapi karena percaya sepenuhnya kepada Sri Krishna segera bergegas menuju ke sungai tempat Resi Durwasa dan para murid membersihkan diri. Tetapi mereka sangat terkejut ketika menyadari bahwa perut mereka yang semula keroncongan tiba-tiba menjadi kenyang. Mereka seperti orang yang baru saja dijamu dengan sangat baik.

 

Kata para murid kepada Resi Durwasa: “Kita pergi ke sini setelah minta Yudhistira menyiapkan makanan, tapi tiba-tiba merasa kenyang dan tidak sanggup makan lagi.” Durwasa tahu apa yang terjadi dan katanya kepada Bima: “Kami sudah makan. Sampaikan permohonan maafku kepada Yudhistira.” Kemudian, resi beserta rombongannya mohon diri.

 

Penjelasannya adalah bahw karena seluruh alam semesta terangkum ke dalam diri ri Krishna, rasa kenyangnya hanya dengan sedikit makanan yang tersisa dan tempurung telah memuaskan rasa lapar semua makhluk hidup, termasuk resi.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya