Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Gugurnya Duryudana

Minggu, 8 Februari 2015

PANAS menyengat di padang Kurusetra. Tetapi pertempuran hampir tidak ada karena senopati Hastinapura prabu Salya telah pralaya, dan prabu Duryudana telah menghilang tak ketahuan rimbanya...

Situasi yang tidak menentu ini, membuat Kresna mengambil keputusan untuk membangunkan Baladewa dari tapanya di Grojogan Sewu, agar mau menjadi juri di akhir Baratayuda...ya tinggal Baladewalah raja yang disegani Duryudana yang bisa memancing Duryudana keluar dari persembunyiannya.

Kresna: Kakanda Baladewa, bangunlah kakang...kami butuh bantuan kanda prabu..,

Baladewa: Hemm...yayi Kresna,...ada apa kau bangunkan aku dari tapaku...sudah mulaikah Baratayuda?

Kresna: Maaf kanda,...Baratayuda sudah hampir selesai...paduka bertapa demikian khusuk, adinda tidak nyaman mengganggu paduka...tapi...karena kini ada keadaan yang perlu paduka turun tangan terpaksa dinda bangunkan kanda...

Baladewa: Jagad Dewa Batara...Narayana, akal apa lagi yg kau pakai sampai aku kelewatan Baratayuda...ceritakan apa yang sudah terjadi, siapa saja yang sudah pralaya, dan mengapa sekarang kau bangunkan aku...pertolongan apa yang kamu harapkan dariku...

Kresna memaparkan dengan singkat jalannya peperangan Baratayuda yang sudah menewaskan banyak ksatria perkasa di medan laga, dan sekarang memasuki pertengahan hari ke 18, di mana Salya telah gugur dan Duryudana menghilang dari medan pertempuran.

Kresna: Kakanda,..paduka tahu, upaya untuk mencegah terjadinya perang saudara ini telah acapkali dilakukan....adik-adik kita keluarga Pandawa telah dengan ikhlas menjalani semua persyaratan yang mereka ajukan mulai dari bale si gala-gala, kalah main dadu, pembuangan di hutan wanamarta, sampai penyamaran wirata parwa...bahkan akupun sudah menempatkan diriku sebagai duta untuk mencegah perang ini....tapi, kekerasan hati adinda Duryudana...telah membuat takdir perang kebajikan melawan kebhatilan ini harus terjadi....Ooo kanda...mohon jangan marah, mungkin sudah suratan dewata agung, bahwa di awal perang Baratayuda paduka telanjur bertapa..sehingga perang berlalu tanpa kehadiran paduka...

Baladewa: Hhmmm, sekarang apa rencanamu membangunkan aku...

Kresna: Perang ini harus segera diakhiri kanda...kasihan kawula alit yang menjadi korban...hamba mohon perkenan paduka, memancing kehadiran yayi Duryudana, untuk mau memulai lagi perang ini...sehingga jelas bagaimana nanti akhirnya...

Kresna bersama Baladewa dan keluarga Pandawa berbondong-bondong menuju telaga di hutan Wanamarta untuk mengajak Duryudana memulai perang kembali...

Baladewa: Yayi Duryudana..ayo mentas...apa-apaan engkau ini, raja gung binatara kok berlaku seperti kura-kura yang ngumpet di cangkangnya ketika merasa terancam...keluarlah, malu aku menjadi gurumu kalau watak ksatriamu ciut seperti itu...

Duryudana: Duh...kakang Baladewa, mengapa baru sekarang kakang kelihatan...aku tidak ngumpet kakang...aku sedang menentramkan jiwa dan ragaku...saudara-saudara kandungku sudah tewas, yayi Karno yang setiapun telah pralaya membela kepentinganku..Oo kakang, ijinkan aku menyepi sejenak...

Baladewa: Hem Duryudana...menyepi?...menyepi untuk apa? merenung atas duka yang kau dapatkan?...mengapa baru sekarang kau renungkan semuanya?...Ketika angkara murka engkau umbar, keserakahan menjadi tujuanmu, tidakkah kau perhitungkan bahwa semua ini bisa terjadi...

Nanar mata Duryudana mendengar hujaman kata-2 Baladewa, Duryudana sangat menghormati gurunya yang selalu jujur dalam berkata-kata ini. Akhirnya Duryudana keluar dari telaga, berdatang sembah pada Baladewa, memeluk erat guru dan iparnya itu sambil berkata.

Duryudana: Baiklah Kanda...mari lanjutkan Baratayuda ini, namun...sekarang aku tinggal sendiri saja..aku berhak menentukan siapa lawan tandingku. Sebagai ksatria wangsa Kuru, aku menantang Bima untuk menandingiku. Paduka adalah guru kami berdua dalam olah gada, maka tempatkan diri paduka sebagai juri yang adil kanda prabu.

Kesepakatan telah dibuat, mereka kembali ke medan laga. Duryudana diberi waktu untuk berdandan dengan baju zirahnya mempersiapkan diri, sementara keluarga Pandawa langsung terjun ke medan laga melanjutkan perang di Kurusetra.

Kedua satria gagah pilih tanding ini segera memulai peperangannya...hantaman gada keduanya membuat pasir dan batu beterbangan di sekitar arena. Para prajurit segera menyingkir untuk memberi kesempatan kepada mereka bertempur dengan lega.

Duryudana bertarung mati-matian dengan harapan merajai Hastina. Ia tak tampak pengecut seperti biasanya. Namun dalam suatu sesi mahkota Duryudana menjadi hancur terhantam gada Bima. Menyusul kemudian tubuh Duryudana yang terpukul. Duryudana terlempar dan terjatuh.

Tak dinyana, Duryudana yang terlihat kalah masih mampu bangun lagi tanpa menunjukkan kesakitan. Pukulan-pukulan gada Bima berulang-ulang menghantam Duryudana lagi dan melemparkannya lagi dan terjatuh lagi. Duryudana berulang bangkit-bangkit lagi dan … akhirnya Bima yang kelelahan.

Kresna segera mendekati Harjuna, dan berbisik "Yayi, berikan tanda pada kakakmu, agar menghantam paha dalam yayi Duryudana, bagian itulah pengapesan atau kelemahan Duryudana"

Kresna memang satu-satunya orang yang tahu pengapesan Duryudana ini, dulu saat usai menjadi duta di Hastinapura, dia melihat Duryudana mengendap-endap telanjang bulat memasuki keputren tempat kediaman Gendari, dengan heran Kresna bertanya "mengapa telanjang bulat menghadap ibundamu yayi ? sungguh menjijikkan dan tak patut, engkau ini raja agung yang sudah dewasa..masa telanjang menghadap ibumu, kemana tata kramamu ?"....Sebenarnya sebagai titisan Wisnu, Kresna tahu bahwa Gendari memanggil anaknya untuk datang telanjang bulat, karena ingin menyalurkan aji kesaktiannya melalui matanya dan membuat Duryudana kebal. Karena itulah Kresna menghina Duryudana untuk membuat sebagian tubuhnya di tutupi...Duryudana meraih daun di taman keputren menutupi alat vital dan paha dalamnya, sesampainya di kamar Gendari...Gendari membuka penutup matanya, sinar putih kebiruan yang menyilaukan keluar dari mata Gendari menyapu sekujur tubuh Duryudana kecuali bagian yang tertutup daun...

Harjuna segera beringsut mencari tempat ketinggian agar kode nya dapat di lihat Bima, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah paha dalamnya sendiri...Bima yang cerdas segera memahami apa maksud Harjuna...dalam satu serangan membabi buta Duryudana, Bima sengaja menjatuhkan tubuhnya dan secara mendadak gada rujak polo di arahkan ke selangkangan Duryudana dengan segenap tenaga....Raungan kesakitan Duryudana menggelegar, bagaikan gajah ketaton...Bumi terguncang ketika raja Hastinapura itu jatuh bersimbah darah.

Duryudana merintih sambat minta disempurnakan kematiannya, namun sebelumnya dia minta di dekatkan ke Banowati istri yang di puja dan dicintainya, Duryudana mengatakan bahwa dia hanya mau mati bersama istrinya, Dewi Banowati, karena istrinya lah pasangan hidup dan matinya.

Atas saran Kresna, Sengkuni yang belum mati didekatkan ke Duryudana. Duryudana tidak tahu karena matanya sudah buta akibat pertarungannya dan Sengkuni juga sudah tidak bisa bicara. Duryudana dan Sengkuni mati bersama setelah Duryudana menggigit leher Sengkuni. Dan memang benar Duryudana mati bersama pasangan sehidup sematinya, yaitu si Sengkuni.

Setelah Sengkuni mati disamping Duryudana, Bima memenuhi harapan ibunya Dewi Kunti Prita Talibrata, dia sobek kulit di bagian dada sengkuni, di bersihkannya dari darah dan di persembahkannya pada sang Ibu....dulu, Sengkuni pernah berniat memperkosa Dewi Kunti, menyobek kembennya, hingga keluarlah sumpah Kunti, tidak akan mengenakan kemben kembali sebelum kulit dada Sengkuni di robek sebagaimana Sengkuni merobek kemben nya...

Sangkakala hari ke 18 di bunyikan memekakkan telinga...kemenangan telak ada pada keluarga Pandawa. Beberapa raja dan adipati yang datang dari blok negara pendukung Hastina telah pulang ke tempat asalnya, bahkan beberapa sisa tentara mengaku takluk di hadapan Pandawa.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya