Telaga Ajaib
TAHUN pengasingan yang kedua belas sudah hampir berakhir.
Suatu hari, seekor menjangan menggosok-gosokkan badannya pada pedupaan milik seorang brahmana miskin dan ketika pergi pedupaan itu tersangkut pada tanduknya.
Menjangan yang ketakutan itu terlonjak dan melarikan diri ke hutan. Pada waktu itu, korek api belum dikenal. Api dibuat dengan menggesek-gesekkan potongan kayu.
“Oh, Dewata, menjangan itu lari membawa pedupaanku. Bagaimana nanti aku melakukan upacara pengorbanan api?” Seru brahmana itu sembari berlari minta tolong kepada para Pandawa.
Para Pandawa mengejar menjangan itu beramai-ramai. Tapi tampaknya menjangan itu bukan menjangan sembarangan. Ia terus berlari dan berhasil lolos dari kepungan para Pandawa. Tanpa sadar, para Pandawa masuk jauh sekali ke dalam hutan dan menjangan itu seperti hilang ditelan rimba raya. Karena kelelahan para Pandawa menghentikan pengejaran dan beristirahat di bawah pohon beringin. Nakula mengeluh: “Alangkah menurunnya kemampuan kita sekarang. Menolong brahmana dalam kesulitan yang sekecil ini saja kita tidak bisa.”
“Kau benar, ketika Drupadi diseret di depan banyak orang, mestinya kita bunuh saja manusia-manusia durhaka itu. Apakah karena waktu itu tidak berbuat apa-apa, sekarang kita harus menanggung semua penderitaan ini?” Kata Bima sambil memandang sedih ke arah Arjuna.
Yudhistira bisa merasakan kesedihan hati saudara-saudaranya. Ia pikir mereka bisa gembira lagi jika bisa melakukan sesuatu bersama-sama. Ia sangat kehausan, maka katanya kepada Nakula: “Adikku, panjatlah pohon itu. Lihtlah, apakah ada telaga atau sungai di dekat sini.”
Nakula memanjat pohon yang tinggi. Setelah melihat ke sekitar, ia berseru. “Tidak jauh dari sini, aku melihat ada tanaman air dan bangau. Pasti ada telaga atau sungai di dekatnya.”
Yudhistira menyuruhnya turun dan pergi mengambil air. Dengan senang hati ia segera pergi. Memang benar di sana ada sebuah telaga. Ia sendiri sangat haus, maka pikirnya sebaiknya ia menghilangkan dahaganya sendiri dulu sebelum membawakan air untuk saudara-saudaranya. Baru saja ia akan mencelupkan tangan ke dalam air, terdengarlah sebuah suara: “Jangan terburu-buru. Wahai Putra Madri, jawablah pertanyaanku dulu barulah kau boleh minum.”
Nakula terkejut mendengar suara itu. Tetapi karena sangat haus, ia tidak peduli. Ia segera mencedokkan tangan, mengambil air dan meminumnya. Seketika itu juga ia merasakan rasa kantuk yang tidak tertahankan dan terjatuh tidak sadarkan diri.
Karena Nakula tidak segera kembali, Yudhistira menyuruh Sadewa untuk mencarinya. Sesampainya di tepi telaga, ia melihat saudaranya terbaring tidak sadarkan diri. Dia bertanya-tanya apakah ada yang membuat saudaranya tidak sadarkan diri. Tetapi sebelum memeriksa lebih jauh, ia memutuskan untuk minum terlebih dulu.
Sekali lagi suara itu terdengar kembali: “Sadewa, telaga ini adalah milikku. Jawab dulu pertanyaanku sebelum engkau memuaskan dahagamu.”
Seperti Nakula, Sadewa juga tidak mempedulikan suara itu. Ia segera mengambil air dan meminumnya. Seketika itu juga ia langsung jatuh tersungkur.
Karena bingung dan khawatir kedua saudaranya belum kembali, Yudhistira menyuruh Arjuna untuk menyusul mereka. “Dan bawalah air,” tambahnya, karena ia sangat haus.
Dengan tangkas Arjuna segera menyusul kedua adiknya. Dia mendapati keduanya terbaring tidak sadarkan diri di tepi telaga. Melihat itu, tentu saja ia sangat sedih. Dia pikir ini adalah perbuatan musuh yang sedang mengintai. Meskipun hatinya terbakar amarah untuk membalaskan dendam kematian mereka, ia memutuskan untuk menghilangkan rasa dahaganya dulu. Namun, sekali lagi, terdengar sebuah suara: “Jawab dulu pertanyaanku, sebelum engkau minum. Telaga ini milikku. Jika tidak menuruti perintahku kau akan menemui nasib yang sama dengan saudara-saudaramu.”
Arjuna sangat marah. Ia berteriak: “Siapa dirimu? Tunjukkan dirimu! Akan kubunuh kau!” Ia segera membidikkan anak panahnya ke arah datangnya suara itu. Suara itu tertawa mengejek: “Panahmu hanya akan melukai angin. Jawab dulu pertanyaanku dan kau boleh memuaskan dahagamu. Jika kau tidak menuruti kata-kataku, kau akan mati.”
Karena sangat jengkel, Arjuna memutuskan untuk mencari dan menghadapi musuh yang tidak tampak itu. Tapi sebelumnya, ia harus menghilangkan dahaganya dulu. Ya, rasa haus adalah musuh pertama yang harus dihilangkan. Maka, ia pun segera mengambil air dan meminumnya. Untutnya, Arjuna pun mengalami nasib yang sama. Ia terkulai lemas dan jatuh.
Setelah lama menunggu dan Arjuna tidak kembali juga. Yudhistira menoleh kepada Bima. “Saudaraku, Arjuna belum juga kembali. Pasti telah terjadi sesuatu pada mereka. Bintang keberuntungan kita hari ini memang sangat jelek. Carilah mereka dan segera kembali. Bawakan air untukku karena aku sangat haus.” Tanpa banyak kata, Bima segera mencari mereka.
Kita bisa bayangkan kesedihan dan amarah yang Bima rasakan ketiksa mendapati saudara-saudaranya terbaring tidak bergerak. Pikirnya: “Ini pasti perbuatan para jin. Aku akan cari dan bunuh mereka semua. Tapi, aku sangat haus, sebaiknya aku minum dulu.” Ia pun turun ke tepi telaga.
Suara gaib itu terdengar kembali: “Hati-hatilah ,Bimasena. Kau boleh minum air telaga itu, setelah menjawab pertanyaanku. Kau akan mati jika mengabaikan kata-kataku.”
Teriak Bima: “Siapa kau? Berani benar memberi perintah padaku!” Lalu, ia minum dari telaga itu. Seketika itu juga, kekuatannya yang luar biasa seperti digembosi dari tubuhnya dan ia juga jatuh tersungkur, mati seperti saudara-saudaranya.
Sendirian, Yudhistira menunggu dengan sejuta rasa cemas dan dahaga yang luar biasa. “Apakah mereka terkena kutukan atau lenyap ditelan rimba raya dan tersesat. Apakah mereka pingsan atauh mati kehausan.” Tidk tahan lagi dengan rasa cema dan rasa dahaga, Ydhistira bangkit dan mengikiti jejak kaki saudara-saudaranya.
Ia mengikuti jejak-jejak kaki saudara-saudaranya. Tampaknya mereka mengikuti jejak-jejak kaki bai hutan yang berujung pada tapak-tapak burung-burung bangau. Setelah berjalan beberapa lama ia sampai ke padang rumput yang membentang bak permadani hijau. Di tengah padang itu, terbentang telaga yang jernih airnya. Tetapi ketika melihat sadara-saudaranya terbaring tidak bergerak seperti tiang-tiang bendera yang teronggok setelah digunakan dalam perayaan, hatinya dicekam kesedihan yang mendalam. Ia menangis sedih.
Ia tepuk-tepuk wajah Bima dan Arjuna yang terbaring kaku. Yudhistira hanya bisa mdenatap: “Apakah ini akhir dari sumpah kita semua? Hanya beberapa hari sebelum pengasingan ini berakhir, kalian semua mati mendahuluiku. Bahkan dewa-dewa punmeninggalkanku dalam penderitaan ini.” C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


