Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Penyamaran

Senin, 16 Februari 2015

"WAHAI brahmana yang budiman, kami telah terjebak tipu muslihat anak-anak Destarata. Mereka merampas kerajaan kami dan membuat kami jatuh ke jurang kemiskinan. Meskipun demikian kami masih bisa menjalani masa pembuangan kami di hutan dengan kegembiraan. Masa pembuangan dua belas tahun telah usai dan tibalah saat bagi kami untuk menjalani masa penyamaran selama dua belas bulan tanpa diketahui oleh marta-mata Duryudana. Kami tidak tahu kapan kita bisa bertemu kembali tanpa harus sembunyi-sembunyi. Sekarang, kami mohon rtestu dan doakan kami supaya terhindar dari perhatian para pengkhianat yang menginginkan hadiah dari Duryudana."

Demikianlah kata Yudhistira kepada para brahmana yang tinggal bersama para Pandawa selama masa pengasingan. Suaranya bergetar karena menahan emosi.

Resi Dhaumya menghibur Yudhistira: "Berpisah memang berat. Bahaya dan malapetaka akan semakin bertambah banyak dan berat. Tapi, engkau orang yang bijak dan terpelajar. Kau tidak akan mudah digoyahkan atau digertak musuh. Menyamarlah, setelah dikalahkan raksasa, Batara Indra menyamar sebagai brahmana dan tinggal di negeri Nishada. Setelah menjalani penyamaran, ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Engkau juga harus menyamar. Bukankah Batara Wisnu, raja alam semesta, juga harus menjalani kehidupan sebagai manusia sebelum bisa merebut kembali kerajaannya dari tangan Maharaja Bali, untuk menyelamatkan dunia? Bukankah Batara Narayana, pengayom masyarakat, menyamar masuk ke dalam senjata Batara Indra supaya bisa menghancurkan Writra, raja raksasa? Bukankah Dewa Api juga harus menyembunyikan diri dalam air demi para dewa? Bukankah Batara Surya pun setiap kali tidak tampak dari pandangan? Bukankah Batara Wisnu juga pernah menyamar menjadi putra Dasarata dan harus menjalani penderitaan hidup supaya bisa membunuh Rahwana? Banyak dewa dan kesatria agung di zaman dulu harus menjalani penyamaran demi tujuan yang luhur. Demikian pula dengan engkau, engkau harus menjalani penyamaran sebelum menghancurkan musuh-musuhmu dan memenangkan kemakmuran."

Demikianlah Yudhistira meninggalkan para brahmana dan meminta para pengikutnya untuk kembali ke negeri masing-masing. Kemudian para Pandawa menyepi di tempat yang terpencil untuk membicarakan rencana yang akan mereka tempuh. Kata Yudhistira dengan nada sedih kepada Arjuna: "Kau banyak mengenal dunia. Menurut pendapatmu negeri manakah yang paling cocok untuk tempat penyamaran kita?"

Jawab Arjuna: "Kakanda Raja, Kita telah mendapatkan restu dari Batara Yama, Dewa Kematian. Menurutku tidaklah sulit mencari tempat persembunyian yang cocok. Ada banyak negeri indah yang cocok untuk kita, seperti misalnya Panchala, Matsya, Salwa, Wideha, Bhalika, Dhasrana, Surasena, Kalingga, dan Magadha. Terserah padamu negeri mana yang akan kau pilih. Tetapi, jika kau minta pendapatku aku akan memilih Matsya, negeri Raja Wirata. Matsya adalah negeri yang indah dan makmur."

Kata Yudhistira: "Wirata, raja Matsya, adalah raja yang berpendirian kuat. Ia bersimpati kepada kita. Keputusan yang ia ambil matang dan taat pada dharma. Ia tidak akan bisa disuap atau ditakut-takuti oleh Duryudana. Ya, aku setuju kita hidup menyamar di negeri itu."

Tanya Arjuna: "Baiklah jika demikian, tapi pekerjaan apa yang akan engkau pilih untuk penyamaranmu?"

Hati Arjuna sangat sedih ketika menanyakan pertanyaan itu. Pikirannya Yudhistira, yang adalah seorang raja besar dan berhati luhur serta baru saja melaksanakan upacara Rajasuya harus menyamar dan menjadi pelayan.

Jawab Yudhistira: "Aku sedang mempertimbangkan untuk memohon kepada Raja Wirata supaya diperbolehkan menjadi teman bercakap-cakap dan dengan keahlianku bermain dadu. Aku akan menyamar sebagai sanyasin (orang yang telah memutuskan meninggalkan dunia dan segala isinya) dan menghiburnya dengan membacakan ramalan, pengetahuan ilmu perbintangan, membicarakan wasiat, membacakan tafsir Weda dan Wedanga, atau menemaninya mendalami budi pekerti, ilmu ketatanegaraan, dan hal-hal lain. Tentu saja, aku harus berhati-hati. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan katakan bahwa aku adalah teman dekat Yudhistira dan banyak belajar darinya ketika mendapat kesempatan melayaninya."

"Bima, pekerjaan apakah yang sesuai untukmu? Engkau telah mengalahkan dan membunuh Baka dan Hidimba. Kau telah menyelamatkan kami dengan membunuh Jatasura. Bagaimana kau akan menyembunyikan keberanian dan kekuatanmu yang luar biasa? Penyamaran macam apakah yang bisa kau gunakan untuk menutupi keperkasaanmu dan membuatmu bisa hidup tanpa dikenal di Matsya?" tanya Yudhistira dengan wajah murung dan tidak bisa menahan air mata.

Sambil tertawa Bima menjawab: "Aku akan menyamar sebagai juru masak istana. Kalian tahu aku doyan makan dan pandai memasak. Aku akan menyenangkan hati Wirata dengan masakan enak yang belum pernah ia rasakan. Aku bisa mencari kayu dan kuat memikulnya sendiri. Selain itu, aku akan menyenangkan hati raja dengan ikut acara adu kekuatan."

Jawaban Bima membuat Yudhistira khawatir. Ia khawatir bahaya akan muncul jika Bima ikut pertandingan adu otot. Bima langsung menyahut untuk menenangkan hati kakaknya:

"Aku tidak akan membunuh siapa pun. Aku hanya akan menghajar petarung yang memang pantas dihajar. Aku kan menjinakkan sapi, kerbau, dan binatang-binatang liar yang mengamuk dan dengan demikian menyenangkan hati raja."

Kemudian Yudhistira bertanya kepada Arjuna: "Pekerjaan apa yang akan engkau ambil? Bagaimana kau bisa menyembunyikan keberanianmu yang luar biasa?" Ketika menanyakan pertanyaan itu, Yudhistira tidak bisa menahan diri untuk menyebutkan perbuatan-perbuatan luar biasa yang dilakukan Arjuna. Ia sebutkan kejayaan Arjuna dalam dua belas syair. Memang, siapa yang pantas mendapatkan pujian jika bukan Arjuna?

Jawab Arjuna: "Kakanda yang aku hormati, aku akan menyamar sebagai banci dan menjadi pelayan para wanita di istana. Aku akan tutupi bekas-bekas tali busur di tanganku dengan baju lengan panjang. Dulu waktu aku menolak asmara Urwasi karena ia kuanggap sebagai ibu, ia mengutukku menjadi banci. Untunglah berkat restu Batara Indra kutukan itu hanya berlaku selama satu tahun dan aku bisa memilih kapan aku menjadi banci. Maka, sekaranglah waktunya. Aku akan mengenakan kalung, gelang, dan anting-anting, untuk mengikat rambutku seperti perempuan dan mengenakan pakaian perempuan. Aku akan menjadi pelayan permaisuri raja. Aku akan mengajar menyanyi dan menari. Aku akan katakan bahwa aku dulu pernah menjadi pelayan Drupadi di istana Yudhistira." Setelah berkata demikian, Arjuna menoleh pada Drupadi dan tersenyum.

Yudhistira tidak bisa menahan air mata: "Oh, Dewata, apakah takdir sudah menggariskan Arjuna, yang sepadan dalam kemasyhuran dan keberanian dengan Sri Krishna, keturunan Bharata yang semestinya perkasa seperti Gunung Mahameru yang tinggi menjulang, harus menyamar dan mencari pekerjaan di istana Wirata sebagai banci di istana permaisuri raja?" kata Yudhistira dengan suara terputus-putus.

Kemudian, Yudhistira menoleh pada Nakula dan bertanya pekerjaan apa yang akan ia pilih. Dan ketika ia membayangkan Dewi Madri, ia tidak kuasa menahan tangis.

Jawab Nakula: "Aku akan bekerja di kandang kuda istana. Aku senang melatih dan merawat kuda. Aku bisa telaten. Aku tahu penyakit kuda dan cara pengobatannya. Naik kuda atau menjadi kusir kuda bukanlah masalah bagiku. Aku akan katakan bahwa dulu akulah yang mengurus kandang kuda para Pandawa. Aku yakin Wirata akan menerimaku sebagai pengurus kandang kuda istana."

Yudhistira bertanya kepada Sadewa: "Kau, yang dikaruniai kepandaian Brihaspati. pendeta dan guru para dewa; pengetahuan Sukra, guru para raksasa, pekerjaan apa yang akan kau ambil?"

Jawab Sadewa: "Biarlah Nakula menjadi tukang kuda, aku akan menjadi gembala sapi. Aku akan menjaga ternak Wirata dari penyakit dan serangan binatang buas."

"Drupadi," tapi Yudhistira tidak bisa menemukan kata untuk menanyakan pekerjaan apa yang akan dia ambil. Bagi Yudhistira, permaisurinya ini jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri, yang harus dia hormati dan lindungi. Ia merasa tidak mampu menanyakan soal pekerjaan yang akan Drupadi lakukan. Drupadi adalah seorang putri raja, keturunan raja, dan selalu mendapat perlakuan yang istimewa. Yudhistira merasa malu dan putus asa.

"Paduka Raja, janganlah bersedih dan mengkhawatirkanku. Aku akan menyamar menjadi seorang sairandri, pelayan permaisuri raja, menjadi teman dan pelayan para putri. Aku akan menjaga kebebasan dan kemurnianku, karena teman dan pelayan para putri boleh berlaku demikian. Aku akan melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan, seperti mengepang rambut dan menghibur para putri dengan menjadi teman ngobrol. Jika ditanya, akan aku katakan bahwa dulu aku pernah melayani Ratu Drupadi di istana Yudhistira. Karena alasan itulah, aku mohon diperkenankan bekerja untuk permaisuri raja. Dengan demikian, tidak ada yang akan mengenaliku."

Yudhistira kagum pada keberanian Drupadi dan katanya: "Permaisuriku, bicaramu menunjukkan kebesaran keluargamu."

Setelah para Pandawa selesai memutuskan rencana mereka, Resi Dhaumya memberikan restu dan menasihati mereka: "Mereka yang menjadi pelayan raja harus selalu siap. Mereka harus bekerja tanpa banyak cakap. Hanya bicara ketika diminta. Mereka harus bisa memuji raja pada saat yang tepat. Segala sesuatu, sesepele apa pun, hanya boleh dilakukan dengan seizin raja. Raja adalah api yang mudah terbakar. Jangan terlalu dekat, tetapi tidak boleh terkesan menghindar. Sebesar apap pun kepercayaan yang diberikan raja, orang harus pandai membawa diri karena sewaktu-waktu bisa saja raja memecatnya. Sungguh bodoh jika menaruh kepercayaan yang terlalu besar pada raja. Jangan gegabah jika duduk di dekat raja atau beranggapan bahwa raja menaruh kasih sayang. Pelayan raja harus selalu giat dan bisa menjaga diri. Tidak boleh terlalu senang ketika mendapat pujian atau terlalu sedih ketika dimarahi.

Pelayan harus pandai menjaga rahasia. Tidak boleh menerima suap dari siapapun. Tidak boleh iri pada pelayan lain. Mungkin saja, raja menempatkan orang-orang bodoh sebagai orang kepercayaan dan menyingkirkan orang-orang yang bijak. Hal-hal semacam itu tidak perlu dihiraukan. Sebaiknya tidak terlalu dekat dengan wanita di lingkungan istana. Pada mereka sebaiknya bersikap samar dan bebas dari segala keruwetan."

Kemudian Resi Dhaumya memberkati para Pandawa: "Kalian harus sabar menjalani penyamaran ini selama setahun dengan melayani Raja Wirata. Setelah berhasil menjalani ujian itu, kalian akan mendapatkan kembali kerajaan dan kebahagiaan kalian."* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya