Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Dendam Baratayuda

Selasa, 17 Februari 2015

MENTARI menyinari bumi dengan sinar keemasan yang mempesona. Setelah Baratayuda usai, pagi itu para Pandawa datang menghadap Prabu Destarasta disertai Kresna.

Destarasta: Ooo...apa mereka itu para keponakanku Pandawa yayi Gendari...? (Destarasta yang mendengar kehadiran Pandawa di Hastina, mencoba memastikan ke istrinya)

Gendari: Benar kanda...Yudistira, Bima, Arjuna si kembar Nakula Sadewa dan Kresna.

Destarasta: Aaah ada Bima...mana Bima keponakanku yang gagah pilih tanding...mari ke sini...biarkan uwa memelukmu cah bagus...(diam-diam Destarasta menyiapkan ajian lebur saketi di kedua tangannya...ajian ini bisa menghancurkan gunung melalui remasan tangan apalagi badan manusia. Diam-diam Kresna memperhatikan ketegangan wajah Destarasta, dan tangan sang Prabu yang mulai tampak membara)

Kresna: Uwa Prabu...maaf agak kekanan Uwa,...ya..ya..maju sedikit lagi Uwa, badan kokoh bagai Arca itulah tubuh perkasa yayi Bima...(ujar Kresna mengarahkan pelukan Destarasta pada Arca Batu di ujung pendapa)

Syyyyeeuuuttt...Blhaaaaaarrr....Suara hancurnya Arca terkena aji lebur saketi menggelegar, mengagetkan semua yang hadir...Dewi Gendari tanggap terhadap kemarahan dan dendam suaminya ...Destarasta dendam pada Werkudara karena banyak putranya yang tewas di tangan Werkudara terutama Dursasana yang dibunuhnya dengan kejam.

Gendari: Aaaiiih Kaka Prabu...(Gendari menjerit) dan segera memeluk suaminya yang masih menggigil dengan aneka perasaan berkecamuk di dada)

Destarasta: Aa..aapa..ini Gendari? Apakah Bima sudah hancur terkena lebur saketi?

Gendari: Jagad Dewa Bathara Kakaprabu..(Gendari terisak sambil memeluk suaminya erat-erat)...mengapa paduka seperti ini...paduka sesepuh agung, yang selalu bijaksana menjadi panutan..apakah akhirnya hanya akan berakhir sebagai pengecut, yang menghancurkan lawan saat lengah...duh kanda, jangan hilangkan rasa kasihku dengan kerendahan budi yang tak layak dilakukan.

Destarasta: Aaah Gendari..(suara Destarasta bergetar, balik memeluk Gendari..tinggal istrinya yang setia inilah miliknya sejati, setelah semua putranya tewas)...dendam mengundang iblis di hatiku yayi...duuhh dewata agung, apakah Bima tewas? Aduh tobat Pandu adikku ampuni pun kakang yayiii...

Gendari: Bukan kanda...untunglah Kresna mengarahkan kanda ke Arca Batu...yang hancur itu tadi Arca Batu kakang...

Kresna: Uwa Prabu...tenangkan perasaan Uwa terlebih dahulu...kami memahami gejolak bathin paduka. Namun, benar seperti yang disampaikan uwa Gendari...apakah kemuliaan paduka akan diakhiri dengan kerendahan budi karena dendam?

Destarasta: Ooo...anak-anakku ngger Pandawa, maafkan Uwamu ini. Aku lupa pada sangkan paraning dumadi...bahwa sesungguhnya tumpukan duka ini sudah digariskan...tak kurang upaya mencegah perang, ..namun inilah garis nasib keluargaku...duh jagad dewa bathara...(Destarasta tertunduk penuh penyesalan dan duka)

Dengan lembut dan bijak, Yudistira memimpin adik-adiknya menghaturkan sembah pada Destarasta dan Gendari, mereka meminta maaf atas kematian putra-putra uwanya, dan mengajak sang Uwa menjadi sesepuh mendampingi mereka memimpin Hastina dan Indraprasta. Destarasta menolak ajakan ini, kemudian mengakui kekhilafannya di amuk dendam dan iapun memilih mundur dari pergaulan masyarakat dan hidup sebagai pertapa di hutan bersama istrinya Dewi Gendari.

Yudistira akhirnya memboyong keluarganya ke Hastinapura, menempatkan para putri di keputren dengan tanggung jawab diserahkan pada Srikandhi. Setelah itu bersama keluarga Pandawa, Yudistira meninggalkan Hastinapura untuk menemui Bisma di pinggir padang Kurusetra...

Bisma: Aaah...para putra Pandawa....Yudistira, mendekatlah...

Yudistira: Terimalah hormat takzim kami Eyang...

Bisma: Ya kaki prabu...Ooo..Baratayuda sudah usai, akhirnya aku bisa memilih hari kematianku...Yudistira, dengarlah kaki, apa yang terjadi ini bukanlah kemenangan, karena korban yang bergelimpangan adalah darah dagingmu juga...pahamilah ini sebagai laku...perjalanan hidup yang berat yag harus kalian lewati...

Yudistira: Iya Eyang...kasinggihan...

Bisma: Karena itu kaki...jangan rayakan kemenanganmu...kalian masih harus prihatin...siapkanlah keturunanmu untuk menggantikan kalian memimpin rakyatmu...Pemimpin yang baik, bukanlah dia yang mencoba bertahan menjadi pemimpin selama mungkin...tapi..pemimpin yang tahu waktu, bahwa masa depan bukan miliknya...oleh karena itu harus dipersiapkan sebaik mungkin...

Yudistira: Sendika dawuh Eyang..(Yudistira mendengarkan wejangan Bisma dengan takzim...betapa luarbiasanya Bisma yang agung ini, dialah Dewabrata, putra mahkota Hastinapura yang asli, tetapi dilepaskannya hak, dan ikhlas dijalaninya takdir, walau harus kehilangan cinta sejatinya karena sumpah wadat)

Bism: Cucu-cucuku Pandawa...waktu eyang tak lama lagi...tinggalkan eyang menjemput takdirku...esok sebelum fajar menyingsing kembalilah untuk menjemput jasadku, sempurnakan jasadku...Ooo Dewata Agung, sungguh luar biasa karuniaMu pada Dewabrata...lihatlah cucuku, betapa adilNya Yang Maha Kuasa...aku menikmati usia panjang, kesaktian dan kemuliaan karena dharmaku...dan nanti aku akan menjemput ajalku karena karmaku...ehm..luarbiasa...adil dan selarasnya perjalanan hidup ini...

Pandawa meninggalkan Bisma dengan rasa hormat yang dalam, sambil menebak-nebak mengapa Bisma minta disempurnakan esok hari? Apalagikah yang ditunggu Bisma? Karena bukankah Bisma punya hak menentukan sendiri waktu kematiannya?

Sementara itu, dengan dendam yang membara Aswatama mengajak Resi Krepa dan Kertamarma nglandak (memasuki Hastinapura melalui gorong-gorong) untuk membunuh sebanyak mungkin keluarga Pandawa sebagai pembayar dendam. Resi Krepa menolak ajakan ini, dia memilih menyepi bersemedi di hutan Wanamarta. Akhirnya Kertamarma bersedia mengikuti Aswatama.

Dalam waktu singkat Aswatama beserta Kertawarma telah memasuki Istana Hastinapura. Kertawarma tidak mengikuti kepergian Aswatama yang memasuki Istana Astinapura. Kertawarma menunggu di luar istana. Ia bersembunyi di luar Istana.

Aswatama membaca mantera agar orang orang yang ada di dalam Istana tertidur. Memasuki kamar pertama, terlihat Pancawala dan Drestajumna sedang tidur dengan nyenyaknya. Tanpa pikir panjang lebar, ditebasnya putra Yudistira ini, Pancawala dan Pembunuh ayahnya, Drestajumna sehingga putuslah kepala keduanya.

Dendam masih membara ia membuka kamar yang kedua, terlihat Srikandi tidur nyenyak, ia kelihatan lemah gemulai seperti wanita biasa lainnya, walaupun dalam perang Baratayudha ia kelihatan gagah perkasa dalam menghadapi musuh musuhnya. Dengan sigap, Aswatama menusukkan kerisnya ke jantung Srikandi hingga tewas seketika.

Aswatama menebarkan pandangannya, ia melihat Dewi Sembadra sedang tertidur pulas, langsung dibunuh sebagai pembayar utang kecemburuannya pada Arjuna, demikian pula Niken Larasati dan Sulastri terbunuh.

Sesaat dilihatnya pula Dewi Banowati istri Prabu Suyudana, dengan pandangan sinisnya, Aswatama menatap Banowati, inilah wanita murahan itu, yang dengan sadar melayani Arjuna di tengah-tengah perkawinannya, menggelegak kebencian Aswatama, wajah molek Banowati yang pernah menggetarkan kelaki-lakiannya membuatnya murka. Tanpa ampun lagi Banowati dibunuhnya, mukanya dicacah hingga tidak berbentuk. Itulah azab yang diterima Banowati, yang secara sadar menikmati kejalangannya dalam kehidupannya. Dari seluruh putri yang dibunuh Aswatama secara pengecut, hanya Banowatilah yang kematiannya dilecehkan dan dihinakan oleh dendam kesumat.

Aswatama melihat pula Dewi Drupadi, namun ketika akan membunuhnya dia mendengar, ada suara tangisan bayi, Aswatama terkejut. Ia mengalihkan niatnya untuk membunuh Drupadi, ia melihat dengan mata batinnya suatu tempat yang penuh kabut. Aswatama melihat bayi itu. Aswatama memandang benci kepada bayi Parikesit anak almarhum Abimanyu dan Utari, setelah Pancawala terbunuh, maka bayi ini adalah pewaris tahta Hastina pura. Segera Aswatama berusaha menikam bayi itu. Tetapi kekuasaan dewa yang menentukan lain. tiba tiba saja keris Pulanggeni milik Arjuna yang diletakan di bawah kaki jabang bayi Parikesit, tertendang sang bayi, keris Pulanggeni terpental menembus dada Aswatama, Aswatama tewas.

Saat mendengar keributan dan suara tangisan mereka yang terhindar dari pembunuhan, seperti Dewi Utari dan dewi Drupadi. Werkudara dan Arjuna terbangun dari tidurnya. Mereka langsung menuju Keputren. Waktu itu di taman, Kertawarma bersiap memukul Werkudara, jika melewati persembunyiannya. Melihat Werkudara berjalan melewati persembunyiannya, Kertawarma segera memukul Werkudara dengan gadanya dengan keras, namun Wekudara dapat menangkisnya.

Terjadilah perkelahian, antara Werkudara dan Kertamarma. Kepala Kertawarma pecah terkena pukulan Gada Rujakpala, Kertamarma pun tewas.

Pandawa pagi ini dirundung duka. Istri Arjuna yang berada di Istana terbunuh semua, Dewi Drupadi juga kehilangan puteranya Pancawala, adiknya Srikandi dan Drestajumna. Arjuna semakin tersayat hatinya, melihat jasad Dewi Banowati yang wajahnya dirusak oleh Aswatama...saat menatap wajah Srikandi, terkejutlah Arjuna dan keluarga Pandawa...wajah itu begitu agung, bersih seperti tidur, sayup-sayup, seperti keluar bayangan wanita cantik nan anggun dari tubuh Srikandi...bayangan itu melayang menuju tepi Kurusetra tempat Bisma Sekarat...para putra pandawa mengikuti bayangan itu...dan mereka melihat kesempurnaan karma berlangsung di depan mata mereka, Sukma Bisma dan Amba menyatu di ufuk fajar itu menuju kelanggengan abadi.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya