Ujian Keluhuran Budi
YUDHISTIRA mengenakan pakaian sanyasin. Arjuna berubah menjadi banci. Para Pandawa lain juga menyamar. Meskipun sudah berusaha menyamar dengan sebaik-baiknya, mereka tetap tidak bisa menutupi pesona, keanggunan, dan wibawa mereka.
Ketika minta pekerjaan, Raja Wirata sendiri bisa merasakan bahwa mereka lebih pantas memerintah daripada diperintah. Semula Wirata tidak mau memberikan pekerjaan. Tetapi karena mereka terus mendesaknya, akhirnya Wirata memberikan pekerjaan yang mereka minta.
Yudhistira menjadi pengawal pribadi raja dan menjalani hari dengan menemani raja bermain dadu. Bima bekerja sebagai kepala juru masak istana. Ia juga menghibur raja dengan mengikuti adu kekuatan dan mengandalikan binatang-binatang buas.
Arjuna berganti nama menjadi Brihannala. Ia mengajari Putri Uttari --putri Raja Wirata--, dan para wanita di istana menari, menyanyi, dan memainkan alat musik. Nakula menjadi tukang kuda dan Sadewa menjadi pengembala sapi dan kerbau.
Drupadi, seandainya nasib sedikit mau berpihak, dia sendirilah semestinya yang dilayani para pelayan, tetapi sekarang ia harus menjadi pelayan Sudesha, permaisuri Raja Wirata. Ia tinggal di ruang dalam istana sebagai pelayan pribadi permaisuri. Ia harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak menyenangkan.
Kicaka, saudara Sudesha, adalah panglima tertinggi bala pasukan Wirata. Keamanan dan pertahanan Kerajaan Matsya ada di tangannya. Sehari-hari ia sangat berkuasa. Sedemikian berkuasanya Kicaka hingga rakyat berpendapat bahwa penguasa kerajaan sebenarnya adalah Kicaka dan bukan Wirata.
Kicaka sangat berkuasa dan berpengaruh atas Raja Wirata. Ia jatuh hati kepada kecantikan Drupadi sampai tidak bisa mengendalikan perasaan. Ia sangat yakin pada ketampanan dan kekuasaannya hingga mengira Drupadi, yang meskipun hanya seorang pelayan, bisa menolak keinginannya. Tawaran asmaranya membuat Drupadi sangat kebingungan.
Drupadi sangat malu mengatakan hal itu kepada Sudesha atau kepada pelayan lain. Untuk menghindari Kicaka, Drupadi mengarang cerita bahwa ia sudah bersuami dan suaminya adalah raksasa yang akan membunuh secara misterius siapa saja yang mengganggunya. Tetapi, Kicaka bukan orang yang mudah ditakut-takuti. Ia terus saja merayu Drupadi. Sampai suatu ketika ia tidak tahan lagi dan mengadukan hal ini kepada Sudesha dan sekaligus minta perlindungan.
Tentu saja, Kicaka punya pengaruh besar pada Sudesha. Tanpa malu ia katakan hasratnya kepada Sudesha. Ia berharap saudarinya membantu untuk membujuk Drupadi. Kata Kicaka: "Aku sangat menderita sejak bertemu dengan pelayanmu itu. Aku tidak bisa istirahat atau tidur nyenyak. Kau harus membantuku membujuk pelayanmu itu supaya menerima cintaku."
Semula Sudesha menasihati saudaranya agar tidak menuruti perasaan, tapi Kicaka tidak mau mendengarkan. Akhirnya Sudesha menyerah,. Kemudian mereka menyiapkan rencana untuk menjebak Drupadi.
Suatu malam Kicaka mengadakan pesta di kediamannya. Berbagai makanan dan minuman disediakan dalam pesta tersebut. Sudesha memerintahkan Drupadi supaya mengantarkan kendi emas berisi anggur ke kediaman Kicaka.
Drupadi merasa enggan untuk pergi ke kediaman Kicaka dan memohon dengan sangat supaya permaisuri memerintahkan orang lain. Tetapi Sudesha tidak mau mendengarkan, malah pura-pura marah dan berkata dengan keras: "Kau harus pergi mengantarkan kendi ini. Aku tidak bisa mengirim orang lain." Drupadi tidak bisa membantah.
Apa yang dikhawatirkan Drupadi benar-benar terjadi. Ketika sampai di kediaman Kicaka, panglima yang sedang mabuk kepayang itu mulai merayu dan menjanjikan berbagai macam hadiah.
Drupadi menolak tegas-tegas rayuan Kicaka. Katanya: "Mengapa Tuanku yang berasal dari keluarga mulia menginginkan aku yang berasal dari kasta rendahan? Mengapa Tuanku memilih jalan yang salah? Mengapa Tuanku menginginkan aku perempuan yang telah bersuami? Jangan sampai Tuanku mendapat masalah. Para pelindungku, para raksasa pasti akan marah jika tahu Tuanku menggangguku."
Karena rayuannya terus ditolak, Kicaka berusaha menangkap lengan Drupadi ketika perempuuan itu sedang meletakkan kendi emas yang ia bawa. Drupadi mengelak dengan cepat dan segera melarikan diri secepat-cepatnya. Kicaka mengejarnya. Sambil berseru ketakutan, Drupadi lari ke balairung istana. Meskipun demikian, Kicaka yang sudah mabuk terus mengejar dan menendang Drupadi hingga jatuh. Di depan banyak orang, Kicaka mempermalukan Drupadi dengan kata-kata kotor. Tetapi, tidak seorang pun berani menolong karena takut pada mahasenapati yang amat berkuasa itu.
Drupadi sangat sedih dan marah diperlakukan seperti itu. Amarahnya membuatnya lupa pada bahaya yang mungkin menimpa Pandawa jika penyamaran mereka diketahui sebelum waktunya. Malam itu juga, ia pergi kepada Bima. Ia bangunkan Bima dan dia ceritakan apa yang terjadi. Setelah menceritakan kekasaran Kicaka mengejar dan mempermalukan dirinya di depan umum, dia minta supaya Bima melindungi dan membalaskan rasa sakit hatinya. Katanya dengan sedu sedan:
"Aku tidak tahan lagi. Kau harus membunuh manusia keparat itu. Demi sumpah kalian, aku rela melakukan pekerjaan rendahan dan bahkan menyiapkan sandal untuk Wirata. Aku tidak keberatan melakukan itu semua --aku, yang sampai detik ini hanya melayanimu dan Ibunda Kunti, yang aku cintai dan hormati. Tetapi sekarang, aku harus melayani para keparat itu, dan ia tunjukkan tangannya yang mulai menjadi kasar karena pekerjaan rendahan."
Dengan rasa hormat, Bima mengangkat tangan Drupadi dan dia usapkan ke wajah dan matanya. Tanpa bisa berkata apa-apa karena dikecam kesedihan, rasa belas kasih dan cinta, dia keringkan air mata istrinya itu. Kemudian, katanya dengan suara serak:
"Aku tidak peduli pada sumpah Yudhistira atau nasihat Arjuna; aku tidak peduli bahaya apa pun yang mungkin muncul, aku akan bunuh Kicaka dan komplotannya sekarang juga!” Ia segera berdiri.
Tetapi Drupadi mengingatkan Bima supaya tidak gegabah. Kemudian mereka menyusun rencana untuk menghabisi Kicaka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memancing Kicaka ke luar sendirian. Bima akan menunggu di tempat gelap, dekat sanggar tari. Ia akan menyamar sebagai Drupadi.
Keesokan paginya, sekali lagi Kicaka mencoba merayu Drupadi. Katanya: “Sairandri, aku terpaksa menjatuhkan dan menendangmu di hadapan raja. Lihatlah, apakah ada yang dating menolongmu? Ketahuilah Raja Wirata hanyalah raja boneka di negeri Matsya. Akulah penguasa Matsya yang sebenarnya. Jangan bodoh. Datanglah padaku dan nikmati hidup ini bersamaku dalam kemuliaan Kerajaan Matsya. Aku akan melayanimu dengan setia.” Dan ia pun terus merayu, memaksa dan terus memaksa Drupadi untuk menerima rayuan asmaranya dengan mata merah penuh hasrat asmara.
Drupadi pura-pura menerima rayuan itu. Katanya: “Kicaka, percayalah kepadaku. Aku tidak bias lagi menolak permintaanmu. Tapi aku tidak ingin orang tahu hubungan kita. Jika kau mau berjanji untuk merahasiakan hubungan kita, aku akan menuruti kemauanmu.”
Bukan main senang hati Kicaka mendengar kesediaan Drupadi. Ia pun setuju dengan persyaratan yang diajukan. Ia berjanji akan datang sendirian di tempat yang telah ditentukan nanti malam.
Kata Drupadi: “Setiap siang hari, biasanya para putri belajar menari di ruang tari. Malam hari mereka akan pulang dan tempat itu menjadi kosong. Datanglah ke tempat itu nanti malam. Aku akan menunggu di sana. Kau bisa menuntaskan keinginanmu atasku.”
Kicaka senang sekali. Malam itu, Kicaka mandi sebersih-bersihnya, mengenakan pakaian terbaik, dan memerciki tubuh dengan wewangian. Setelah hari menjadi gelap, ia pergi ke sanggar tari. Betapa senang hatinya ketika melihat pintu telah terbuka. Ia masuk ke dalam dengan hati-hati.
Dalam temaram, ia melihat ada orang berbaring di dipan. Pikir Kicaka itu pasti Drupadi. Ia berjalan dengan meraba-raba dalam gelap. Perlahan-lahan ia ulurkan tangannya kepada sosok yang terbaring itu. Tapi…alangkah kagetnya Kicaka ketika mendapati bahwa sosok itu bukan Drupadi, tapi kulit kasar erotot Bima. Seketika itu juga Bima segera menerkam Kicaka. Meskipun sangat terkejut dengan reaksi sosok dalam kegelapan itu, Kicaka bukan seorang pengecut. Maka terjadilah pergulatan yang hebat. Pikir Kicaka sosok itu pasti raksasa, salah satu suami Drupadi. Kekuatan mereka seimbang –waktu itu Balarama, Bima, dan Kicaka dikenal memiliki kekuatan dan keterampilan berkelahi yang setara. Pertarungan antara Bima dan Kicaka sama hebatnya dengan pertarungan antara Subali dan Sugriwa.
Pada akhirnya, Bima berhasil membunuh Kicaka. Berulang kali Bima membanting Kicaka hingga tubuhnya remuk redam. Kemudian, ia segera pergi menemui Drupadi untuk memberi tahu bahwa Kicaka sudah tewas. Setelah itu, ia kembali ke dapur, membersihkan diri dan tidur nyenyak.
Sementara itu, Drupadi segera bangun dan melapor pada para penjaga istana. Katanya: “Kicaka datang mengganggu. Meskipun sudah kuperingatkan bahwa ia bias membuat suami-suamiku, para raksasa, marah, ia tetap saja keras kepala. Akibatnya mereka dating dan menghukum Kicaka hingga dia mati di tangan sumiku. Penjaga, lihatlah panglima di sanggar tari.” Dan Drupadi pun menunjukkan mayat panglima Matsya yang tidak lagi berbentuk.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


